Oleh Focus |
Korea Selatan dan Amerika Serikat menggelar latihan tahunan Freedom Shield 26 pada 9–19 Maret. Menurut pernyataan kedua pihak, latihan ini bertujuan mempererat kesiapan sekutu dan memperkuat postur pencegahan gabungan terhadap ancaman di Semenanjung Korea.
Kedua pihak mengumumkan rencana tersebut pada 25 Februari di Camp Humphreys di Pyeongtaek. Pasukan AS di Korea (USFK) dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa latihan ini dirancang untuk "meningkatkan lingkungan operasional gabungan, lintas domain, dan antarlembaga."
Kesiapan aliansi
Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan menggambarkan latihan tersebut sebagai upaya untuk mempertajam perencanaan pertahanan gabungan dan mematangkan persiapan aliansi terkait pengaturan komando di masa perang.
“Dengan mencerminkan situasi realistis seperti hasil analisis pertempuran terkini serta lingkungan medan tempur yang menantang dalam skenario latihan, latihan ini akan menjadi peluang untuk memperkuat postur pertahanan gabungan aliansi Republik Korea (Korsel)-AS, termasuk ‘operasi gabungan lintas domain,’ serta terus mematangkan persiapan untuk ‘pengalihan kontrol operasional masa perang berbasis kondisi’ yang telah disepakati oleh kedua negara,” kata JCS Korsel dalam pernyataan pers bersama.
![Sebuah pesawat F-16 Fighting Falcon dari Skuadron Tempur ke-36 mendarat di Pangkalan Udara Daegu, Korea Selatan, selama latihan Ulchi Freedom Shield 25 pada 20 Agustus 2025. [Senior Airman Tallon Bratton/Angkatan Udara AS]](/gc9/images/2026/03/13/54815-9281893-370_237.webp)
Menurut Kantor Berita Yonhap, Korea Selatan berupaya menyelesaikan serah terima komando ini sebelum masa jabatan lima tahun Presiden Lee Jae Myung berakhir pada tahun 2030.
Dalam pernyataannya, USFK menggambarkan Freedom Shield 26 sebagai bagian dari upaya memodernisasi aliansi dan memberi Korea Selatan peran utama dalam menjaga keamanan Semenanjung Korea.
"Ini termasuk memberdayakan Republik Korea (Korsel) untuk memimpin upaya pencegahan dan pertahanan terhadap Korea Utara (DPRK) di saat [Pentagon] memprioritaskan pencegahan terhadap Tiongkok," tulis pernyataan tersebut.
Freedom Shield merupakan salah satu dari dua latihan pos komando utama yang diadakan setiap tahun oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan. Latihan lainnya adalah Ulchi Freedom Shield yang berlangsung pada bulan Agustus.
Associated Press (AP) melaporkan latihan ini sebagian besar berbasis simulasi komputer dan dirancang untuk menguji kemampuan operasional gabungan kedua sekutu dengan menggabungkan skenario perang dan tantangan keamanan yang terus berkembang.
Korea Utara telah lama mengecam latihan gabungan kedua negara itu sebagai latihan bersifat invasi, sementara Seoul dan Washington menegaskan latihan tersebut bersifat defensif.
Pengumuman latihan ini disampaikan ketika Korea Utara menggelar konferensi politik besar. Di sana, pemimpin Kim Jong Un diperkirakan akan memaparkan tujuan utama kebijakan domestik, luar negeri, dan militernya untuk lima tahun ke depan, lapor AP.
Para analis yang dikutip AP mengatakan Kim dapat menggunakan pertemuan itu untuk menegaskan sikapnya yang keras terhadap Korea Selatan dan menguraikan langkah-langkah untuk memperkuat serta mengintegrasikan kekuatan nuklir dan konvensional.
Modernisasi kemampuan
USFK menegaskan Freedom Shield 26 “bersifat defensif” dan akan menggabungkan latihan langsung, konstruktif, serta latihan lapangan. Latihan ini dimaksudkan untuk menangani ancaman realistis di domain darat, laut, udara, ruang angkasa, siber, dan informasi, meskipun pejabat terkait merahasiakan rincian spesifik pelatihan lapangan demi alasan keamanan.
Di luar komponen pos komando, unit-unit yang terlibat juga akan mengikuti pelatihan lapangan berskala besar guna meningkatkan interoperabilitas dan kesiapan tempur secara keseluruhan, menurut USFK.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan sekitar 18.000 personel militer Korea Selatan diperkirakan akan turut berpartisipasi, sementara militer AS tidak mengungkapkan jumlah personel Amerika yang akan terlibat, menurut Yonhap.
Beberapa negara anggota Komando PBB (UNC) kemungkinan akan mengirimkan personel dan berpartisipasi dalam berbagai kapasitas selama latihan berlangsung. Komisi Pengawas Negara-Negara Netral, termasuk perwakilan dari Swedia dan Swiss, akan mengamati jalannya latihan tersebut.
“Modernisasi aliansi akan berfokus pada investasi pada kapabilitas nyata, peningkatan kesiapan, integrasi, serta efektivitas tempur gabungan,” kata pernyataan tersebut.
Freedom Shield 26 “menegaskan kemitraan militer yang langgeng” antara Korea Selatan dan Amerika Serikat, tambah pernyataan itu. Latihan ini sejalan dengan perjanjian pertahanan bersama AS–Korea Selatan tahun 1953 serta gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea.
Pernyataan itu menyebut latihan ini "menegaskan komitmen Amerika Serikat dan Republik Korea untuk menjaga keamanan di Semenanjung Korea dan kawasan Indo-Pasifik."
![Seorang tentara Korea Selatan berada di atas kendaraan lapis baja K200 saat latihan gabungan penyeberangan air di dekat Yeoju, Korea Selatan, dalam latihan Ulchi Freedom Shield pada 27 Agustus 2025. [Spc. Cheyenne Mayer/Angkatan Darat AS]](/gc9/images/2026/03/13/54814-9282432-370_237.webp)