Ekonomi

Korsel akan bangun pusat data AI terbesar melalui program ekspor yang didukung AS

Proyek berkapasitas 250MW ini menyoroti upaya Korea Selatan untuk meningkatkan kemandirian kecerdasan buatan (AI) dan mengurangi ketergantungan pada infrastruktur Tiongkok.

Dari kiri ke kanan, CEO Reflection AI Misha Laskin, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, dan Ketua Shinsegae Group Chung Yong-jin berpose pada upacara penandatanganan di San Francisco, 16 Maret. [Shinsegae Group]
Dari kiri ke kanan, CEO Reflection AI Misha Laskin, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, dan Ketua Shinsegae Group Chung Yong-jin berpose pada upacara penandatanganan di San Francisco, 16 Maret. [Shinsegae Group]

Oleh Focus dan AFP |

SEOUL — Sebuah perusahaan rintisan Amerika Serikat yang didukung Nvidia dan konglomerat Korea Selatan mengumumkan rencana membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) yang dilaporkan akan menjadi yang terbesar di Korea Selatan.

Reflection AI yang berbasis di New York dan raksasa retail Shinsegae Group menandatangani Nota Kesepahaman Kemitraan Strategis pada 16 Maret di San Francisco untuk fasilitas AI berkapasitas 250MW.

Kemitraan dengan teknologi AS

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menghadiri acara tersebut. Menurut laporan Chosun Biz, proyek ini merupakan yang pertama yang dipilih di bawah AI Export Program 1, inisiatif pemerintah AS yang dirancang untuk mendorong penerapan teknologi AI Amerika di luar negeri,

Bagi Korea Selatan, proyek ini berkaitan dengan upaya memperluas infrastruktur AI domestik dan memperkuat kendali atas pengembangan serta penggunaan sistem canggih di dalam negeri. Pusat data tersebut akan menghasilkan “kemampuan garda terdepan dengan otonomi penuh, yang dibangun dan dioperasikan di tanah air sendiri,” lapor AFP.

Michael Kratsios, direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih, menyebut kesepakatan ini sebagai contoh bagaimana “perusahaan AI AS dan model sumber terbuka (open-source) dapat memberikan bantuan praktis kepada negara mitra dalam mengejar kedaulatan AI yang bermakna."

Menargetkan posisi tiga besar dunia

Korea Selatan merupakan basis bagi produsen chip memori Samsung Electronics dan SK hynix, dan Seoul telah menyatakan ambisinya menjadi salah satu dari tiga kekuatan AI terbesar dunia bersama Amerika Serikat dan Tiongkok. Seperti negara lainnya, Korea Selatan terus meningkatkan investasi di bidang AI agar tetap kompetitif dalam teknologi global. Reflection AI, yang didirikan pada tahun 2024, merupakan bagian dari kolaborasi yang dipimpin Nvidia untuk memajukan AI tingkat lanjut.

Dalam kesepakatan tersebut, pusat data akan menggunakan chip Nvidia untuk melayani bisnis di seluruh Korea Selatan. Reflection akan menyediakan chip, model, dan rekayasa teknis, sementara Shinsegae akan mengelola pendanaan, real estat, dan perizinan. Nilai proyek ini diperkirakan mencapai beberapa miliar dolar AS, meski kedua pihak tidak memberikan angka spesifik.

Shinsegae berencana memanfaatkan data retail dan jaringan tokonya untuk mengembangkan alat AI terkait dengan belanja, pembayaran, pengiriman, manajemen inventaris, dan logistik.

Mengejar kemandirian dalam AI

Dalam kesepakatan ini, model-model dari Reflection diperkirakan akan digunakan oleh perusahaan dan instansi pemerintah Korea sebagai bagian dari rencana meningkatkan kemandirian AI. Perusahaan ini juga berencana mengembangkan model yang disesuaikan dengan bahasa dan budaya Korea.

Shinsegae memposisikan kerja sama ini sebagai peluang pertumbuhan sekaligus investasi strategis terhadap perkembangan AI Korea. The Wall Street Journal mengutip Ketua Chung Yong-jin yang menyatakan pusat data tersebut “tidak hanya akan menjadi peluang pertumbuhan bagi Shinsegae, tetapi juga titik balik bagi ekosistem AI Korea.”

Di dalam grup Shinsegae, Shinsegae Property (divisi real estat) akan memimpin pembangunan pusat data, sementara Shinsegae I&C (divisi teknologi informasi) diperkirakan akan mengelola operasionalnya.

Laskin menggambarkan AI sumber terbuka dalam konteks strategis. “Model terbuka adalah 'kuda Troya' bagi infrastruktur yang mereka bawa,” ujarnya, merujuk pada chip, perangkat lunak, dan aplikasi. Menurut laporan The Wall Street Journal, Reflection AI berupaya mencegah negara-negara lain menjadi bergantung pada infrastruktur Tiongkok.

“Kami membangun infrastruktur AI yang memungkinkan Republik Korea mengontrol, mengaudit, serta mengembangkannya secara mandiri,” tegas Laskin.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link