Oleh Zarak Khan |
India dan Korea Selatan tengah memperluas kerja sama ekonomi dan industri di sejumlah sektor strategis utama. Menurut para analis, langkah ini mencerminkan upaya yang kian berkembang di antara kedua negara Indo-Pasifik untuk mendiversifikasi rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada jaringan manufaktur yang berpusat di Tiongkok,
Dalam kunjungan pertama Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung ke India pada 19–21 April, pembicaraan antara kedua pemimpin negara tersebut mencakup cara-cara untuk “memperdalam kerja sama di berbagai sektor mulai dari chip hingga kapal, dari talenta hingga teknologi, serta hiburan hingga energi,” kata Perdana Menteri India Narendra Modi dalam pernyataan pada 20 April.
Modi menyatakan kedua negara “menjalin nilai-nilai yang serupa dan pandangan yang sejalan terhadap kawasan Indo-Pasifik.”
Modi dan Lee juga berkomitmen untuk memperluas kemitraan strategis yang didukung oleh perdagangan dan teknologi, dengan fokus pada pembuatan kapal, kecerdasan buatan (AI), keuangan, dan kerja sama pertahanan.
![Perdana Menteri India Narendra Modi (kanan) dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (kiri) menanam pohon dalam pertemuan di New Delhi pada 20 April. [Sajjad Hussain/AFP]](/gc9/images/2026/05/01/55893-afp__20260420__a8cw7mh__v2__highres__topshotindiaskoreadiplomacy-370_237.webp)
Pernyataan dari kantor Modi pada 20 April menyebutkan mereka menyambut baik penandatanganan perjanjian kerja sama industri untuk "memperluas perdagangan dan investasi" serta "membuka peluang kolaborasi baru di berbagai industri, dengan fokus pada kerja sama India-Korea di sektor otomotif, galangan kapal, kimia, semikonduktor, peralatan telekomunikasi, layar monitor, dan baterai sekunder."
Para pemimpin juga sepakat bekerja sama untuk “memperkuat rantai pasok sumber daya strategis, mineral kritis, dan logam tanah jarang; perdagangan hidrogen hijau dan turunannya; proyek pembangkit listrik tenaga nuklir; serta proyek pengembangan sumber daya di luar negeri,” tambah pernyataan tersebut.
Kedua negara menargetkan peningkatan nilai perdagangan tahunan menjadi US$50 miliar pada tahun 2030, dari sekitar US$27 miliar saat ini, menurut Modi.
Delegasi yang terdiri dari sekitar 200 pemimpin bisnis Korea Selatan turut mendampingi Lee dalam kunjungan tersebut.
Pergeseran rantai pasok
Perluasan kerja sama antara India dan Korea Selatan ini terjadi di tengah pergeseran rantai pasok global yang lebih luas, di mana India semakin diposisikan sebagai alternatif yang layak menggantikan Tiongkok di beberapa industri kritis.
McKinsey Global Institute baru-baru ini mengidentifikasi India sebagai penantang utama dominasi Tiongkok di pasar teknologi Amerika Serikat.
Laporan tersebut mencatat bahwa pada tahun 2025, New Delhi mengambil alih sekitar 40% pangsa pasar impor ponsel pintar AS dari Tiongkok.
Baik India maupun Korea Selatan tengah mendiversifikasi eksposur ekonomi dan mengurangi ketergantungan yang terlalu tinggi pada rantai pasok Tiongkok, menurut Ashok Malik, mitra di lembaga pemikir The Asia Group.
"India ingin mendiversifikasi sumber pengadaannya agar tidak lagi bergantung pada Tiongkok di sektor-sektor ini," kata Malik kepada CNBC pada 21 April.
Ia menambahkan Korea Selatan merupakan pelengkap strategis yang penting bagi India, mengingat kemampuan canggih negara tersebut dalam kendaraan listrik, produksi barang elektronik, semikonduktor, dan kecerdasan buatan.
Selain India dan Korea Selatan, ekonomi besar lainnya, termasuk Amerika Serikat, juga tengah mempercepat upaya untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok Tiongkok serta membatasi pengaruh Beijing yang semakin meluas di sektor teknologi tinggi strategis.
Pada bulan Maret, sebuah perusahaan rintisan AS yang didukung Nvidia bersama konglomerat Korea Selatan mengumumkan rencana pembangunan pusat data kecerdasan buatan yang disebut-sebut akan menjadi yang terbesar di Korea Selatan.
Penyelarasan strategis
India tengah meningkatkan upaya untuk memperkuat jaringan kemitraan strategis di kawasan Indo-Pasifik, yang secara luas dipandang oleh negara-negara regional sebagai respons terhadap sikap asertif Tiongkok yang kian meningkat.
Di kawasan yang berdekatan dengan Tiongkok, New Delhi semakin fokus mempererat hubungan dengan Korea Selatan, memosisikan hubungan tersebut sebagai komponen kunci dari strategi regionalnya yang lebih luas.
Menurut analisis Asia Times pada 18 April, kemitraan ini sejalan dengan visi India tentang kawasan "Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, dan inklusif," yang didasari oleh kekhawatiran bersama atas "kerentanan rantai pasok, keamanan maritim, dan ketahanan teknologi."
Analisis tersebut memperingatkan ketidakmampuan Korea Selatan dalam "mengelola perluasan pengaruh Tiongkok secara efektif di seluruh struktur ekonomi dan kebijakan keamanannya" dapat membawa implikasi yang melampaui semenanjung Korea dan memengaruhi berbagai ranah strategis.
Pada Oktober lalu, India dan Korea Selatan menggelar latihan angkatan laut gabungan pertama mereka di lepas pantai Busan, Korea Selatan.
Kapal-kapal yang berpartisipasi termasuk fregat siluman buatan dalam negeri India, INS Sahyadri.
“Pengerahan operasional INS Sahyadri yang sedang berlangsung ke Laut Tiongkok Selatan dan Indo-Pasifik menegaskan posisi India sebagai pemangku kepentingan maritim yang bertanggung jawab dan Mitra Keamanan Pilihan,” ungkap Kedutaan Besar India di Seoul dalam sebuah pernyataan pada saat itu.
![Perdana Menteri India Narendra Modi (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebelum pertemuan mereka di New Delhi pada 20 April. [Sajjad Hussain/AFP]](/gc9/images/2026/05/01/55892-afp__20260420__a8cw7ln__v1__highres__indiaskoreadiplomacy-370_237.webp)