Oleh Wu Qiaoxi |
Amerika Serikat dan Kamboja menghidupkan kembali latihan militer gabungan Angkor Sentinel setelah jeda delapan tahun, menandai kerja sama baru dan meningkatnya kepercayaan antara kedua negara.
Tanggal pelaksanaannya belum diumumkan oleh kedua negara.
Berfokus pada bantuan kemanusiaan, latihan itu mencakup dukungan teknis, pengabdian medis, dan latihan penjaga perdamaian. Misi praktis ini dirancang untuk meningkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan tanggap darurat bencana di seluruh kawasan.
Langkah ini diambil setelah bertahun-tahun Kamboja sangat bergantung pada Tiongkok.
![Pasukan terjun payung Kamboja mengibarkan bendera Kamboja, AS, dan Angkor Sentinel dalam upacara penutupan Angkor Sentinel 2016 di Pusdik Pasukan Penjaga Perdamaian Multinasional di Kampong Speu, Kamboja, 25 Maret 2016, yang menandai berakhirnya dua minggu latihan bersama USARPAC. [Angkatan Darat AS/Serka Mary E. Ferguson]](/gc9/images/2025/11/06/52689-1000w_q95-370_237.webp)
"Tiongkok kini menjadi mitra dagang dan investor terbesar Kamboja, dan semakin erat di bidang pertahanan dan keamanan," kata Asia Pacific Foundation of Canada pada bulan Juli.
Pembicaraan di Malaysia
Kedua belah pihak mengumumkan dilaksanakannya kembali latihan itu setelah pembicaraan di sela Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN Plus di Kuala Lumpur.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mewakili Washington, sementara Wakil Perdana Menteri Kamboja sekaligus Menhan Tea Seiha mewakili Phnom Penh.
Setelah pertemuan itu, Hegseth menulis di X: "Kami sepakat untuk memulai kembali latihan militer bilateral dengan Kamboja. Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur menunjukkan komitmen Presiden Trump terhadap perdamaian melalui kekuatan."
Disponsori oleh Komando Pasifik Angkatan Darat AS (USARPAC) dan diluncurkan pada tahun 2010, Angkor Sentinel bertujuan meningkatkan interoperabilitas dan membangun kemampuan untuk menjaga perdamaian dan penanggulangan bencana. Latihan ini terhenti pada 2017 ketika Phnom Penh membatalkannya menjelang pemilu.
Mengurangi keberpihakan Kamboja pada Tiongkok
Selama jeda delapan tahun itu, Kamboja semakin condong ke Beijing, dan ikut serta dalam latihan gabungan Naga Emas bersama Tiongkok.
Dengan dimulainya kembali kerja sama pertahanan, Washington memuji "upaya gigih" Kamboja dalam perdamaian dan keamanan, menurut pernyataan Gedung Putih. Laporan di Phnom Penh mengindikasikan rencana untuk memperbesar kesempatan pelatihan bagi perwira Kamboja di akademi militer Amerika, termasuk West Point dan Akademi Angkatan Udara AS.
Memandang langkah itu sebagai kalibrasi ulang strategi, analis geopolitik Asia Tenggara, Seng Vanly, mengatakan kepada Kiri Post di Kamboja bahwa keputusan itu "mencerminkan langkah pragmatis AS untuk melibatkan Phnom Penh di tengah meningkatnya pengaruh Tiongkok, terutama di Pangkalan AL Ream."
Bagi Kamboja, hal ini "menandakan upaya untuk mendiversifikasi mitra keamanan dan menunjukkan kebijakan luar negeri yang lebih seimbang," ujarnya.
"Melanjutkan latihan militer dan mencabut embargo senjata dapat memulihkan kepercayaan dan membuka kembali jalur komunikasi antara militer kedua negara," ucapnya.
Him Rotha, wakil direktur Cambodian Center for Regional Studies, menyebut keputusan itu langkah konstruktif. Hal ini "mencerminkan upaya kedua negara untuk membangun kembali kepercayaan dan keyakinan satu sama lain," ujarnya kepada Kiri Post.
Bermanfaat bagi kawasan
Latihan gabungan Angkor Sentinel punya dampak regional yang luas, kata pengamat regional.
"Ini kabar baik bagi Asia Tenggara karena mencerminkan kesinambungan minat Washington terhadap kawasan ini dan kesediaannya untuk bekerja sama dengan Kamboja," ujar Abdul Rahman Yaacob, peneliti keamanan di Australian National University di Canberra, kepada South China Morning Post (SCMP).
Hubungan yang menghangat ini diawali serangkaian langkah militer dan diplomatik. USS Savannah melakukan kunjungan pertama Angkatan Laut AS ke Kamboja dalam delapan tahun pada akhir 2024, dan kedua militer mengadakan dialog pertahanan pertama sejak 2017. Kini sedang dibicarakan kemungkinan kunjungan AS ke Pangkalan AL Ream di masa mendatang.
Sebagaimana disampaikan Sophal Ear, lektor kepala yang mendalami Asia dan bidang lainnya di Arizona State University, kepada SCMP, kembalinya Angkor Sentinel menunjukkan "sedikit berkurangnya monopoli Tiongkok" dalam hubungan pertahanan Kamboja dan mencerminkan keterlibatan baru AS di kawasan yang menjadi "perebutan strategis".
![Petinggi pertahanan AS dan Kamboja pada 31 Oktober di Kuala Lumpur membahas keamanan, dipimpin Menhan AS Pete Hegseth (jas biru) dan Wakil PM sekaligus Menhan Kamboja Jenderal Tea Seiha (kacamata, kanan). [Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth/X]](/gc9/images/2025/11/06/52690-g4mfofoxoaak8bs-370_237.webp)