Oleh AFP |
LONDON — Seorang aktivis Hong Kong yang hidup di pengasingan di Inggris mengatakan dirinya “sangat terkejut dan merasa terancam” setelah mengetahui para tetangganya menerima surat yang berisi gambar tidak senonoh hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya.
Carmen Lau, 30, seorang aktivis pro-demokrasi dan mantan anggota dewan di Hong Kong, mengatakan pada awal Desember bahwa ia meyakini surat-surat tersebut—yang kini sedang diselidiki polisi—merupakan upaya terbaru dari Tiongkok untuk mengintimidasinya.
Seperti beberapa pengungsi Hong Kong terkenal lainnya di Inggris, Lau baru mengetahui awal tahun ini bahwa tetangganya menerima surat yang mendorong mereka melaporkannya ke kedutaan Tiongkok, dengan iming-iming hadiah puluhan ribu poundsterling.
Pada 11 November, Joshua Reynolds, anggota parlemen setempat untuk kota Maidenhead di barat London, mengatakan kepadanya ia telah diberi tahu oleh warga bahwa “surat-surat baru telah diletakkan di depan pintu rumah mereka,” ujar Lau kepada AFP.
![Sebuah foto di ponsel memperlihatkan surat yang diterima salah satu tetangga Carmen Lau—dengan sejumlah detail disunting—yang menyebutkan adanya hadiah untuk penangkapannya, di Reading, Inggris, pada 12 Desember. [Henry Nicholls/AFP]](/gc9/images/2025/12/23/53255-afp__20251212__87x89hg__v1__highres__britainchinahongkongcrimerightsdemocracy-370_237.webp)
Surat dari Makau
Amplop surat tersebut ditempeli perangko dari wilayah Tiongkok, Makau, katanya.
AFP belum melihat salinan surat-surat tersebut.
“Ada lima foto yang menampilkan wajah saya—sebagian memperlihatkan sosok telanjang atau hanya mengenakan pakaian dalam—dengan pose atau isyarat yang menggambarkan saya seolah-olah pekerja seks yang sedang menawarkan diri,” kata Lau.
Surat-surat tersebut juga memuat informasi pribadi seperti nama, tinggi badan, dan berat badan Lau, serta catatan yang ditulis menyerupai iklan pekerja seks, "seolah-olah mengundang orang untuk datang ke apartemen saya,” katanya.
“Saya terkejut dan ketakutan, tetapi pada saat yang sama juga sangat marah,” ujarnya dalam wawancara via telepon.
“Bahkan hingga sekarang saya masih ragu untuk pergi ke pusat kota karena Maidenhead adalah kota kecil, dan saya tidak tahu seberapa luas foto-foto itu telah beredar atau bagaimana orang-orang memandang saya,” katanya.
Sejak itu ia pindah lagi dari tempat tinggalnya—seperti yang dilakukannya setelah gelombang surat pertama—tetapi ia mengatakan "beban psikologis" merupakan dampak terburuk dari peristiwa tersebut.
Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai "bentuk perang psikologis yang bertujuan menghentikan aktivitas mereka.”
Pada bulan Desember 2024, polisi Hong Kong mengumumkan hadiah sebesar 1 juta dolar Hong Kong (sekitar US$130.000) bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Lau dan lima aktivis lainnya di luar negeri, yang dituduh melakukan pelanggaran terkait keamanan nasional.
"Komunikasi berniat jahat"
Perbedaan pendapat politik di Hong Kong telah dibungkam sejak Beijing memberlakukan undang-undang keamanan nasional yang luas pada tahun 2020.
Reynolds, yang mengonfirmasi kisah Lau, mengatakan “upaya Beijing” untuk mengintimidasi dan mengancam warga Hong Kong seperti dirinya adalah tindakan yang “sangat menjijikkan.”
“Pemerintah tidak boleh menutup mata terkait keselamatan warga Hong Kong di negara kami,” ujarnya kepada AFP.
“Pemerintah harus mengambil tindakan tegas untuk menunjukkan kami tidak akan menoleransi kampanye represi internasional Beijing.”
Seorang juru bicara kedutaan Tiongkok di Inggris menepis tuduhan tersebut.
“Kami telah membaca laporan itu,” kata juru bicara tersebut, seraya menambahkan laporan tersebut hanya memuat versi Lau. “Ceritanya terdengar aneh.”
Seorang juru bicara Kepolisian Thames Valley mengatakan para petugas tengah menyelidiki laporan dugaan "pelanggaran komunikasi berniat jahat" yang melibatkan "gambar yang dimanipulasi secara digital."
Seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan: “Keselamatan dan keamanan warga Hong Kong di Inggris adalah prioritas utama.”
“Kami mendorong siapa pun yang memiliki kekhawatiran untuk melaporkannya kepada polisi.”
![Carmen Lau, aktivis pro-demokrasi Hong Kong yang tinggal di pengasingan di Inggris, berpose untuk foto di pusat kota Reading, Inggris, pada 12 Desember. [Henry Nicholls / AFP]](/gc9/images/2025/12/23/53253-afp__20251212__87x89h3__v3__highres__topshotbritainchinahongkongcrimerightsdemocracy-370_237.webp)