OIeh AFP dan Focus |
TOKYO — Sebuah kapal riset Jepang memulai perjalanan bersejarah untuk melakukan uji coba ekstraksi logam tanah jarang dari laut dalam pada kedalaman 6.000 meter, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada Tiongkok.
Pada 12 Januari, kapal pengeboran ilmiah Chikyu bertolak dari Pelabuhan Shimizu di Prefektur Shizuoka menuju Pulau Minami Torishima di Samudra Pasifik, wilayah yang perairan sekitarnya diperkirakan menyimpan cadangan mineral bernilai tinggi.
Uji coba pelayaran ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan dari Tiongkok—pemasok logam tanah jarang terbesar di dunia—terhadap Jepang. Tekanan tersebut muncul setelah usulan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November lalu yang menyatakan bahwa Tokyo dapat bereaksi secara militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan. Beijing mengklaim Taiwan yang berpemerintahan sendiri sebagai bagian dari wilayahnya dan menyatakan siap merebutnya dengan kekuatan jika diperlukan.
Memprioritaskan keamanan sumber daya
Perebutan keamanan sumber daya merupakan isu yang terus berulang bagi Jepang. Perselisihan sebelumnya pada 2010 mendorong Tokyo mengurangi ketergantungannya pada Beijing dalam hal logam tanah jarang, namun hingga kini lebih dari 70% pasokan Jepang masih berasal dari Tiongkok—angka yang ingin diubah pemerintah.
Urgensi ini semakin ditegaskan oleh pengumuman Beijing pada 6 Januari mengenai larangan langsung ekspor barang “guna ganda” ke Jepang, yaitu barang yang dapat digunakan untuk kepentingan militer maupun sipil.
“Langkah pengendalian ekspor Tiongkok atas logam tanah jarang dan material lainnya telah berlangsung cukup lama dan berdampak serius pada rantai pasok global,” ujar Kepala Juru Bicara Pemerintah Jepang, Minoru Kihara, pada 8 Januari.
Ia menyampaikan dalam konferensi pers rutin bahwa kondisi serupa juga berlaku bagi mineral tanah jarang, yang sangat penting bagi berbagai produk teknologi. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus memantau situasi secara saksama dan, bekerja sama dengan negara-negara terkait, mengambil langkah yang diperlukan jika dibutuhkan.
Logam tanah jarang digunakan dalam berbagai produk, mulai dari ponsel pintar, kendaraan listrik, turbin angin, hingga rudal; 17 jenis logam ini tergolong sulit diekstraksi dari kerak bumi.
Mengimbangi pengaruh Tiongkok
Tiongkok telah lama memanfaatkan dominasinya atas logam tanah jarang sebagai alat pengaruh geopolitik, termasuk dalam perang dagangnya dengan Amerika Serikat.
Pelayaran Chikyu, yang tertunda satu hari akibat cuaca buruk, berpotensi membuka jalan bagi produksi logam tanah jarang dalam negeri, kata Shoichi Ishii, Direktur Program di Kantor Kabinet Jepang.
“Kami sedang mempertimbangkan diversifikasi sumber pengadaan dan menghindari ketergantungan berlebihan pada negara tertentu,” ujarnya kepada wartawan di pelabuhan saat kapal bersiap berangkat.
“Salah satu pendekatan yang menurut saya dapat ditempuh adalah membangun proses untuk mewujudkan produksi logam tanah jarang di dalam negeri,” tambahnya.
Badan Jepang untuk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan-Bumi (JAMSTEC) menyebut uji coba Chikyu ini sebagai yang pertama di dunia pada kedalaman seperti itu.
Potensi hingga 16 juta ton logam tanah jarang
Wilayah di sekitar Minami Torishima, yang berada di perairan ekonomi Jepang, diperkirakan mengandung lebih dari 16 juta ton logam tanah jarang. Harian bisnis Nikkei menyebut cadangan ini sebagai yang terbesar ketiga di dunia. Endapan kaya tersebut diperkirakan mencakup pasokan disprosium selama 730 tahun—yang digunakan dalam magnet berkekuatan tinggi untuk ponsel dan mobil listrik—serta itrium selama 780 tahun, yang digunakan dalam laser, menurut Nikkei.
Pelayaran Chikyu dijadwalkan berlangsung hingga 14 Februari. Laporan media terbaru menyebutkan bahwa Beijing telah menunda impor Jepang serta ekspor logam tanah jarang ke Tokyo seiring meningkatnya perselisihan kedua negara yang telah berlangsung selama dua bulan. Larangan ekspor barang guna ganda oleh Tiongkok ini memicu kekhawatiran di Jepang bahwa Beijing dapat memutus pasokan logam tanah jarang, mengingat beberapa di antaranya termasuk dalam daftar barang guna ganda Tiongkok.
![Sebuah kapal pengeboran laut dalam Jepang, Chikyu, terlihat di Pelabuhan Shimizu, Prefektur Shizuoka, pada 11 September 2013. Jepang berencana melakukan uji coba logam tanah jarang laut dalam di kedalaman 6.000 meter pada Januari 2026 untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok. [Toshifumi Kitamura/AFP]](/gc9/images/2026/01/12/53455-afp__20260110__92a94t3__v1__highres__filesjapanchinaoceansmining-370_237.webp)