Oleh Ha Er-rui |
Australia menjadi negara pertama di luar Amerika Serikat yang memproduksi roket Sistem Roket Peluncur Ganda Terpandu (Guided Multiple Launch Rocket System/GMLRS). Pemerintah setempat menyatakan langkah ini dilakukan untuk "memperkuat ketahanan dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan internasional."
Pada awal Maret, Departemen Pertahanan Australia mengumumkan pembukaan pabrik domestik pertamanya di Port Wakefield, negara bagian Australia Selatan. Fasilitas tersebut didedikasikan untuk memproduksi persenjataan GMLRS bagi sistem Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (High Mobility Artillery Rocket System/HIMARS), dengan batch pertama dijadwalkan selesai pada pertengahan Maret.
Landasan utama industri pertahanan domestik
Proyek ini merupakan landasan dari salah satu dari lima program manufaktur pertahanan utama Australia. Proyek ini menjadi bagian penting dari Rencana Senjata Terpandu dan Amunisi Peledak (Guided Weapons and Explosive Ordnance/GWEO) senilai 21 miliar dolar Australia (US$14,8 miliar) untuk dekade mendatang.
Upaya ini “menegaskan kembali kemitraan pertahanan kami dengan Amerika Serikat, termasuk kolaborasi yang terus berkembang dalam senjata berpemandu dan amunisi peledak, serta akan membekali ADF [Angkatan Pertahanan Australia] dengan kemampuan serangan jarak jauh yang membantu menjaga keamanan warga Australia,” ujar Menteri Industri Pertahanan, Pat Conroy, pada Desember lalu.
![Roket pada Sistem Roket Peluncur Ganda Terpandu (Guided Multiple Launch Rocket System/GMLRS) untuk sistem Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (High Mobility Artillery Rocket System/HIMARS) menjadi amunisi pertama yang diproduksi di fasilitas Port Wakefield, Australia. [Lockheed Martin Australia]](/gc9/images/2026/03/20/55216-2-370_237.webp)
![Sistem HIMARS Angkatan Darat AS meluncurkan roket dalam latihan tempur dengan peluru tajam di dekat Tapa, Estonia, 19 September 2024. [Sersan Cecil Elliott II/Angkatan Darat AS]](/gc9/images/2026/03/20/55214-8651576-370_237.webp)
Untuk memperluas kemampuan serangan jarak jauh dan mendorong target pemerintah Anthony Albanese dalam membangun industri senjata berpemandu yang mandiri, Departemen Pertahanan Australia bermitra dengan Lockheed Martin untuk meluncurkan produksi GMLRS di dalam negeri.
Pembangunan fasilitas Port Wakefield diselesaikan dalam waktu kurang dari tujuh bulan, menyusul pelatihan kelompok pekerja Australia pertama di pabrik Lockheed Martin di Camden, Arkansas.
“Penyelesaian fasilitas mutakhir ini menandai tonggak penting bagi perusahaan GWEO pemerintah Australia,” kata Paula Hartley, wakil presiden Rudal Taktis di Lockheed Martin.
“Dengan membangun produksi domestik GMLRS, kami memperkuat kapabilitas kedaulatan dan memastikan kompatibilitas penuh dengan inventaris Amerika Serikat,” tambahnya.
Target 4.000 rudal per tahun
Pemerintah Australia berharap fasilitas produksi mandiri ini dapat memenuhi target jangka panjang untuk memproduksi 4.000 rudal per tahun pada 2029. Tujuan akhirnya adalah membangun kapabilitas manufaktur rudal secara lengkap agar Australia dapat mengisi ulang stok amunisinya sendiri dalam potensi konflik di masa depan.
“Dengan memiliki kapasitas produksi domestik untuk senjata ini, Australia akan meningkatkan ketahanan serta kemampuan untuk menghadapi ancaman lawan, sehingga memungkinkan efek penangkalan yang mendasari Strategi Pertahanan Nasional,” ujar Brigjen Australia Jim Hunter, yang mengawasi produksi senjata berpemandu, pada awal Maret.
Ia menambahkan, Australia menargetkan kualitas produksi yang sepenuhnya setara dengan senjata buatan Amerika Serikat.
Canberra berupaya mengurangi ketergantungan jangka panjang pada rantai pasok luar negeri, yang dapat memaksa mereka menunggu bertahun-tahun untuk pasokan ulang dalam situasi krisis. GMLRS, sistem roket bermobilitas tinggi yang terutama digunakan oleh HIMARS, memiliki jangkauan sekitar 70 km serta dilengkapi sistem pemandu dan kontrol presisi untuk koreksi jalur selama penerbangan.
Target jangka panjang Australia untuk fasilitas perakitan ini adalah memproduksi Rudal Serangan Presisi (Precision Strike Missile/PrSM) yang lebih canggih, yang mampu menyerang target sejauh 1.000 km. Menyusul serangan udara gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari, rekaman yang dirilis oleh Komando Pusat AS menunjukkan rudal yang ditembakkan dari M142 HIMARS memiliki karakteristik visual yang konsisten dengan PrSM, mengindikasikan bahwa PrSM mungkin sudah digunakan dalam pertempuran.
Potensi kerja sama dengan Taiwan
Mencermati perkembangan regional ini, Kao Chih-jung, asisten peneliti di Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, menulis di situs web institut tersebut bahwa meskipun Taiwan dan Australia tidak memiliki aliansi formal, dinamika keamanan Indo-Pasifik pada tahun 2026 membuka ruang kerja sama yang signifikan.
Bidang-bidang seperti kecerdasan buatan (AI), senjata hipersonik, dan perang elektronik menyajikan peluang unik. Taiwan dapat memanfaatkan kekuatan industrinya di sektor semikonduktor untuk menjadi pemasok komponen kunci bagi pengembangan kawanan drone (drone swarm) dan rudal presisi Australia, ujar Kao.
Selain itu, karena Taiwan dan Australia sama-sama mengoperasikan platform buatan AS yang serupa—termasuk F-16V, HIMARS, dan tank M1A2—keduanya memiliki potensi saling melengkapi dalam pemeliharaan logistik dan dukungan suku cadang.
Taiwan juga dapat memanfaatkan kekuatan industri teknologi tingginya untuk mendorong “kerja sama industri pada sistem serangan berbiaya rendah yang dibutuhkan untuk 'kapabilitas perang asimetris', atau bahkan manufaktur kontrak atau produksi berlisensi oleh perusahaan Australia untuk rudal yang memenuhi kebutuhan bersama Taiwan dan Australia," pungkas Kao.
![Fasilitas rudal dan roket baru Australia di Port Wakefield, negara bagian Australia Selatan, mulai beroperasi Desember lalu. [Lockheed Martin Australia]](/gc9/images/2026/03/20/55215-1-370_237.webp)