Oleh Chelsea Robin |
Prajurit dan awak pesawat AS berlatih menggunakan Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (High Mobility Artillery Rocket System/HIMARS) secara cepat melalui udara dalam Latihan Cobra Gold 2026 di Thailand. Latihan ini menekankan kemampuan senjata itu dalam memperluas jangkauan serangan presisi di seluruh kawasan Indo-Pasifik.
Latihan tersebut mencakup misi Infiltrasi Cepat HIMARS (HIRAIN) yang dilaksanakan oleh personel Angkatan Darat dan Angkatan Udara AS pada awal Maret. Konsep ini memungkinkan unit artileri roket untuk dikerahkan ke garis depan, melakukan serangan presisi, lalu berpindah lokasi sebelum lawan dapat merespons.
Cobra Gold, latihan militer multinasional terbesar dan paling lama berlangsung di daratan Asia, telah diselenggarakan di Thailand setiap tahun sejak 1982.
Latihan tahun ini, yang berlangsung dari 24 Februari hingga 6 Maret, diselenggarakan bersama oleh Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand dan Komando Indo-Pasifik AS. Fokusnya adalah pada tantangan peperangan modern dan kemajuan teknologi, sekaligus membina kerja sama multinasional dalam bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
![Prajurit AS menembakkan M142 HIMARS dalam demonstrasi tembakan amunisi aktif Infiltrasi Cepat HIMARS di Cobra Gold 2026 di Lopburi, Thailand, 1 Maret. [Sersan Sar Paw/Angkatan Darat AS/Tangkapan layar video]](/gc9/images/2026/04/15/55377-2-370_237.webp)
![Seorang prajurit AS memadamkan api setelah latihan tembakan amunisi aktif HIMARS selama Cobra Gold 2026 di Lopburi, Thailand, 1 Maret. [Sersan Sar Paw/Angkatan Darat AS]](/gc9/images/2026/04/15/55109-himars_2-370_237.webp)
Beragam prioritas
Cobra Gold setiap tahunnya “mengintegrasikan acara pelatihan lapangan, kegiatan bantuan kemanusiaan, serta skenario tanggap bencana untuk meningkatkan penguasaan operasional dan memperkuat kemitraan regional,” lapor Bangkok Post.
Latihan tahun ini menekankan pada operasi gabungan terpadu di berbagai domain, yang mengintegrasikan kemampuan darat, laut, udara, ruang angkasa, dan siber.
Konsep HIRAIN memungkinkan HIMARS, sistem peluncur roket ganda yang dipasang di truk, untuk diangkut oleh pesawat Angkatan Udara AS seperti C-130 Hercules atau C-17 Globemaster III dari pangkalan penyiapan ke garis depan. Cara ini menghilangkan ketergantungan pada konvoi darat tradisional.
HIMARS dapat dengan cepat membangun posisi tembak, melaksanakan serangan presisi, serta segera mengisi ulang dan berpindah posisi.
Selama misi pelatihan tersebut, prajurit Angkatan Darat AS dan awak Angkatan Udara AS berkoordinasi erat untuk mempersiapkan peluncur agar siap diangkut melalui udara.
Untuk memenuhi persyaratan masuk ke dalam pesawat, peluncur HIMARS merendahkan suspensinya sebelum masuk secara mundur ke dalam pesawat. Setelah mendarat, awak menurunkan peluncur, memposisikannya kembali, dan menyiapkannya untuk menembak, lalu dengan cepat mengisi ulang dan mengevakuasi senjata tersebut.
“Hal ini memungkinkan kami bergerak maju ke garis depan dan memperluas jangkauan,” kata Sersan Staf Angkatan Darat AS Tino Saucedo, kepala peluncur dari Batalyon 1, Resimen Artileri Medan ke-94, Brigade Artileri Medan ke-17.
“Jika kami perlu menjangkau target yang lebih dalam atau memperluas kehadiran sebagai bentuk unjuk kekuatan, HIRAIN memungkinkan kami melakukannya dengan cepat,” ujarnya.
Para pejabat militer menyatakan pelatihan ini berfokus pada sinkronisasi antara unit udara dan darat, serta kemampuan memindahkan artileri dengan cepat masuk dan keluar dari posisi.
“Latihan ini membangun fleksibilitas lintas matra dan memungkinkan kami untuk memanfaatkan aset satu sama lain guna meningkatkan daya hancur dan kesiapsiagaan,” kata Letnan Kolonel Travis Hertlein, komandan Batalyon 1, Resimen Artileri Medan ke-94.
Beralih ke serangan jarak jauh bergerak
HIMARS memainkan peran yang semakin menonjol dalam latihan AS di Indo-Pasifik dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan pergeseran yang lebih luas menuju serangan jarak jauh bergerak yang dirancang untuk operasi tersebar. Sistem seperti ini memungkinkan pasukan yang tersebar untuk melancarkan serangan presisi di sepanjang rantai kepulauan, sebuah kemampuan yang secara luas dipandang sebagai bagian dari strategi Washington untuk menangkal pengaruh Tiongkok di kawasan tersebut, menurut pejabat AS.
Perencana pertahanan semakin menekankan pentingnya serangan jarak jauh bergerak di Indo-Pasifik, yang memiliki rantai kepulauan dan keterbatasan infrastruktur. Sistem yang dapat dikerahkan dengan cepat seperti HIMARS memungkinkan pasukan untuk tersebar di lokasi-lokasi terpencil seraya tetap mempertahankan kemampuan serangan presisi.
Cobra Gold beradaptasi dengan tantangan keamanan yang terus berkembang. Latihan tahun ini menambahkan pelatihan siber dan skenario evakuasi warga sipil untuk meningkatkan respons terhadap ancaman baru, menurut Jenderal Ukris Boontanondha, Panglima Angkatan Bersenjata Thailand.
Operasi ruang angkasa turut dilibatkan
Persiapan untuk latihan ini diperluas hingga mencakup operasi ruang angkasa dan domain keamanan baru lainnya, saat pasukan peserta menguji teknologi dan konsep operasional terbaru.
Selama latihan, personel Angkatan Darat AS yang melindungi operasi pelatihan multinasional melaksanakan misi kontrol ruang angkasa defensif yang dirancang untuk memantau komunikasi satelit dan mendeteksi potensi gangguan.
Jenderal Xavier T. Brunson, komandan Pasukan AS di Korea, mengunjungi Thailand pada awal Maret untuk mengamati operasi serangan maritim sebagai bagian dari latihan multinasional tersebut. Latihan ini menunjukkan bagaimana kemampuan yang dikembangkan di Semenanjung Korea dapat diintegrasikan ke dalam operasi multinasional, katanya.
“Cobra Gold merupakan demonstrasi kuat tentang apa yang terjadi ketika negara-negara yang berpikiran serupa berkomitmen pada visi bersama tentang Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” tambah Brunson.
Latihan ini juga menyoroti upaya Thailand dalam menyeimbangkan kemitraan keamanannya sekaligus menjaga stabilitas regional.
Thailand berpotensi menjadi pusat latihan
Thailand harus mengelola posisinya sebagai tuan rumah latihan multinasional ini dengan cermat, ujar pakar hubungan internasional Panitan Wattanayagorn kepada Bangkok Post.
“Isu utamanya adalah bagaimana Thailand dapat memanfaatkan Cobra Gold untuk memperoleh manfaat strategis dan memperkuat hubungan dengan sekutu utama seperti AS, Singapura, dan Jepang, sambil menghindari langkah yang dapat dianggap sebagai ancaman terhadap Tiongkok,” katanya.
“Jika dikelola dengan baik, Thailand dapat menjadi pusat latihan militer utama di kawasan ini.”
Peserta utama dalam Cobra Gold ke-45 meliputi Thailand, Amerika Serikat, Indonesia, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan, sementara Tiongkok, India, dan Australia mengikuti sejumlah kegiatan tertentu.
Lebih dari 8.000 personel militer dari sekitar 30 negara ambil bagian dalam latihan ini, termasuk lebih dari 3.200 personel dari Amerika Serikat.
![Personel Angkatan Udara dan Angkatan Darat AS memuat peluncur High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) ke dalam pesawat C-130J selama Latihan Cobra Gold 2026 di Lopburi, Thailand, 1 Maret. [Sersan Teknis Giovanni Sims/Angkatan Udara AS]](/gc9/images/2026/04/15/55108-himars_1-370_237.webp)