Kapabilitas

Balikatan 2026 tampilkan sistem nirawak dalam penguatan pertahanan Filipina

Pasukan AS dan Filipina menggunakan kapal permukaan nirawak, kekuatan udara, dan artileri pantai dalam latihan penenggelaman kapal yang menegaskan upaya Manila memodernisasi pertahanan wilayahnya.

Kapal permukaan nirawak menghantam kapal target yang disiapkan dalam serangan maritim sebagai bagian dari Latihan Balikatan 2026 di Selat Luzon pada 24 April. [Sumber: Kernos]
Kapal permukaan nirawak menghantam kapal target yang disiapkan dalam serangan maritim sebagai bagian dari Latihan Balikatan 2026 di Selat Luzon pada 24 April. [Sumber: Kernos]

Oleh Chelsea Robin |

Filipina menegaskan komitmennya dalam memperkuat postur pertahanan mandiri (Self-Reliant Defense Posture/SRDP) lewat latihan kapabilitas khusus serta penggunaan sistem nirawak saat Latihan Balikatan 2026.

Kegiatan Maritime Strike North (MARSTRK) merupakan latihan penting dengan amunisi aktif. Pasukan AS dan Filipina mengerahkan kapal permukaan nirawak untuk menyerang kapal target dalam serangan terkoordinasi dari udara, darat, dan laut.

Kapal tenggelam

Pasukan operasi khusus AS dan Filipina menggelar MARSTRK di perairan lepas pantai barat Itbayat, Filipina, pada 24 April.

Kekuatan udara dan maritim gabungan menghantam serta menenggelamkan kapal target dalam operasi multi-matra yang menunjukkan daya hancur, ketepatan, dan interoperabilitas pasukan sekutu. Latihan itu membuktikan komitmen bersama kedua negara dalam menjaga keamanan regional dan membangun daya tangkal melalui kesiapan operasional.

Kapal permukaan nirawak bergerak menuju kapal target yang disiapkan dalam serangan maritim sebagai bagian dari Latihan Balikatan 2026 di Selat Luzon pada 24 April. [Sumber: Kernos]
Kapal permukaan nirawak bergerak menuju kapal target yang disiapkan dalam serangan maritim sebagai bagian dari Latihan Balikatan 2026 di Selat Luzon pada 24 April. [Sumber: Kernos]
Anggota Green Beret Angkatan Darat AS yang ditugaskan di Pasukan Khusus Grup 1 (Linud) meluncurkan kapal permukaan nirawak dari dermaga sebagai bagian persiapan serangan maritim pada Latihan Balikatan 2026 di Batanes, Filipina, 24 April. [Kopka Godrey Ampong/Korps Marinir AS]
Anggota Green Beret Angkatan Darat AS yang ditugaskan di Pasukan Khusus Grup 1 (Linud) meluncurkan kapal permukaan nirawak dari dermaga sebagai bagian persiapan serangan maritim pada Latihan Balikatan 2026 di Batanes, Filipina, 24 April. [Kopka Godrey Ampong/Korps Marinir AS]

Operasi tersebut dikomandoi dan dikendalikan melalui Pusat Komando Operasi Gabungan Bersama yang dibentuk oleh personel Filipina dan AS.

Lokasi latihan dipilih guna mendukung skenario pertempuran jarak jauh sekaligus memenuhi persyaratan lingkungan, termasuk kedalaman laut yang memadai. Kapal yang ditenggelamkan akan difungsikan sebagai rumpon untuk meningkatkan keanekaragaman hayati laut dan memberi manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

"Kami akan mengevaluasi dan menganalisis proses tenggelamnya kapal tersebut, lalu mengembangkan teknik, taktik, dan prosedur berdasarkan hasil itu,” ujar juru bicara Balikatan Kolonel Dennis Hernandez kepada Daily Tribune.

Serangan nirawak

Salah satu yang baru di MARSTRK adalah penggunaan kapal permukaan nirawak oleh AS dan Filipina — khususnya Magura buatan Ukraina, drone kamikaze sekali pakai (OWA) yang telah terbukti dalam pertempuran.

Pasukan operasi khusus AS mengerahkan kapal permukaan nirawak Magura untuk menghantarkan bahan peledak ke lambung kapal target, melubanginya dan melemahkan integritas strukturnya sebelum serangan lanjutan dilakukan.

Magura adalah platform modular otonom yang telah menghantam belasan kapal perang Rusia di Laut Hitam serta melaksanakan ratusan misi, mulai dari operasi penghalauan hingga serangan bersenjata dan pengintaian bawah laut. Dalam latihan REPMUS 2025, sistem ini mencatat hasil sempurna dengan kemenangan 5-0 atas NATO Blue Forces.

Varian OWA yang dipakai di MARSTRK mencerminkan kemampuan asimetris yang digunakan dalam konflik global kontemporer untuk melumpuhkan target angkatan laut yang lebih besar dengan biaya jauh lebih rendah dibandingkan sistem konvensional.

Latihan yang dimodernisasi

Pengerahan kapal permukaan nirawak di MARSTRK menjadi tonggak perkembangan penting Latihan Balikatan, dari yang sebelumnya berfokus pada pengintaian tradisional dan serangan konvensional menjadi penggunaan platform serangan aktif sekali pakai.

Setelah Magura melubangi lambung kapal, pesawat A-29B Super Tucano Angkatan Udara Filipina melancarkan serangan udara dengan menjatuhkan bom, menciptakan sinkronisasi lintas domain dalam satu rangkaian penembakan. Operasi itu berhasil menenggelamkan kapal target.

"Kemampuan pasukan AS dan Filipina untuk berintegrasi secara mulus dalam operasi kompleks seperti MARSTRK sangat penting dalam menjaga kesiapan menghadapi persaingan, krisis, maupun konflik,” kata Mayjen (AD AS) Jeffrey VanAntwerp, Komandan Komando Operasi Khusus Pasifik.

“Setiap kesempatan untuk berlatih bersama memperkuat aliansi kita, meningkatkan kemampuan gabungan, dan memperkuat daya tangkal yang kredibel di kawasan Indo-Pasifik."

"MARSTRK mencerminkan kepercayaan dan visi bersama antara pasukan kami,” kata Mayjen Rosendo Abad, komandan Komando Operasi Khusus Gabungan, Angkatan Bersenjata Filipina.

"Melalui latihan dengan skenario yang realistis, kami membangun pasukan yang lebih sigap, siap membela kedaulatan dan menjaga stabilitas regional."

Pesawat P-8 Poseidon AS dan C-208 Caravan Filipina melakukan pemantauan serta pengiriman data intelijen secara waktu-nyata ke pusat komando dan kendali gabungan, mendukung pemahaman situasi selama operasi berlangsung.

Penguatan pertahanan

Pengerahan Magura di MARSTRK mencerminkan strategi Filipina dalam memanfaatkan sistem nirawak asimetris guna memperkuat pertahanan teritorial.

Manila sedang menjajaki kerja sama produksi drone laut, sementara militer Filipina menyatakan ketertarikan khusus pada Magura seiring meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan.

Angkatan Laut Filipina mendukung pengembangan dalam negeri. Melalui kemitraan dengan Cebu Technological University, mereka mengembangkan dua wahana otonom, yaitu Hybrid Marine-Air Vehicle untuk operasi udara dan Maritime Autonomous Surface Ship untuk operasi laut.

Sistem nirawak menjadi salah satu prioritas utama pemerintah dalam program SRDP, di samping produksi mesiu serta pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan aset pertahanan yang ada.

Keberhasilan penggunaan kapal permukaan nirawak bersenjata dalam MARSTRK membuktikan modernisasi Latihan Balikatan dan menunjukkan Filipina sedang membekali diri untuk menjaga keutuhan wilayahnya dalam situasi maritim yang kian memanas.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link