Kapabilitas

AS dan sekutu pertajam pertahanan 'untaian pulau pertama' di latihan Pasifik

Tiga latihan militer yang bertumpang tindih di Pasifik barat, dari Hawaii hingga perairan dekat Jepang dan Taiwan, menyoroti upaya Washington memperkuat kesiapan dan daya tangkal sekutu.

Kapal nonaktif USS Juneau (LPD-10) dihantam torpedo dari kapal selam JS Jingei (SS-515) Angkatan Laut Bela Diri Jepang saat latihan Valiant Shield 2026 di Laut Filipina pada 27 Juni 2026. [KLS Spesialis Kommas Anthony Vilardi/Angkatan Laut AS]
Kapal nonaktif USS Juneau (LPD-10) dihantam torpedo dari kapal selam JS Jingei (SS-515) Angkatan Laut Bela Diri Jepang saat latihan Valiant Shield 2026 di Laut Filipina pada 27 Juni 2026. [KLS Spesialis Kommas Anthony Vilardi/Angkatan Laut AS]

Oleh Chelsea Robin |

Amerika Serikat dan sekutunya memperkuat kerja sama militer di sekitar "untaian pulau pertama" melalui serangkaian latihan gabungan yang dirancang untuk meningkatkan interoperabilitas dan memperkuat daya tangkal regional, kata para analis.

Ketiga latihan baru-baru ini berpusat pada rantai pulau strategis yang membentang dari Jepang ke Taiwan dan Filipina sebelum melengkung ke ujung selatan Laut Tiongkok Selatan. Latihan ini bertumpang tindih dengan latihan Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026 di Hawaii dan sekitarnya, menciptakan busur latihan sekutu yang luas di Pasifik barat.

Operasi Pathways terdiri atas 53 latihan yang dilakukan di kawasan Indo-Pasifik selama Mei–Juni dan September–Oktober, kata Jenderal Ron Clark Angkatan Darat AS pada 23 Juni.

"Alasannya karena saat itulah kondisi laut cocok untuk invasi lintas selat dari Tiongkok daratan ke Taiwan," kata Clark, menurut Association of the United States Army.

Pesawat B-2 Spirit dan F-15E Strike Eagle Angkatan Udara AS terbang di atas Laut Filipina saat latihan Valiant Shield 2026 pada 27 Juni 2026. [Sertu Teknisi Blake Wiles/Angkatan Udara AS]
Pesawat B-2 Spirit dan F-15E Strike Eagle Angkatan Udara AS terbang di atas Laut Filipina saat latihan Valiant Shield 2026 pada 27 Juni 2026. [Sertu Teknisi Blake Wiles/Angkatan Udara AS]
Pesawat V-22 Osprey Angkatan Darat Bela Diri Jepang terbang di Teluk Beppu saat latihan Resolute Dragon 26 pada 21 Juni. Latihan tahunan AS-Jepang ini berfokus pada peningkatan interoperabilitas dan kemampuan pertahanan pulau. [Pratu Carlos Paz-Sosa/Korps Marinir AS]
Pesawat V-22 Osprey Angkatan Darat Bela Diri Jepang terbang di Teluk Beppu saat latihan Resolute Dragon 26 pada 21 Juni. Latihan tahunan AS-Jepang ini berfokus pada peningkatan interoperabilitas dan kemampuan pertahanan pulau. [Pratu Carlos Paz-Sosa/Korps Marinir AS]

"Jadi, jika tugas tertinggi kami adalah mencegah perang ... kami harus memiliki pasukan tempur andal yang ditempa melalui program latihan yang memungkinkan kami menempatkan diri secara menguntungkan atas undangan mitra dan sekutu untuk mencegah perang," tambahnya.

Pasukan Jepang dan AS baru-baru ini menyelenggarakan dua latihan besar yang bertujuan meningkatkan interoperabilitas dan pertahanan pulau. Latihan Valiant Shield 2026 berlangsung pada 22 Juni–1 Juli dan melibatkan pasukan dari Australia, Kanada, Jepang, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.

Latihan Resolute Dragon 2026 berlangsung pada 20–30 Juni, mempertemukan Angkatan Darat Bela Diri Jepang (Japan Ground Self Defense Force – JGSDF) dan III Marine Expeditionary Force (III MEF) Korps Marinir AS.

"Bagi Komando Pasifik Amerika Serikat, komitmen AS terhadap keamanan sekutu di sepanjang untaian pulau pertama adalah hal yang sakral," kata Hunter Marston, direktur Southeast Asia Program dan pemimpin proyek Asia Power Index di Lowy Institute Sydney, kepada South China Morning Post.

Valiant Shield meluas

Dipimpin oleh Komando Indo-Pasifik AS, Valiant Shield berlangsung di Kepulauan Mariana Utara, Guam, Jepang, dan perairan sekitarnya.

Latihan dua tahunan ini awalnya khusus untuk AS, tetapi kini berkembang menjadi latihan lapangan gabungan multinasional. Tahun ini kedua kalinya Angkatan Bela Diri Jepang sepenuhnya terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaannya, menurut USNI News.

"Latihan Valiant Shield menunjukkan komitmen abadi kami terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka," kata Laksamana Steve Koehler, komandan Armada Pasifik AS.

"Dengan melatih kemampuan multimatra lanjutan bersama sekutu, kami memastikan dapat terus berinovasi dan beroperasi bersama dengan mulus, memproyeksikan kekuatan tempur bersama, dan mengatasi setiap tantangan — bersama-sama."

Sekitar 10.000 personel mengikuti latihan perang antikapal selam, operasi dron, dan misi serangan maritim multinasional. Latihan tersebut berpuncak pada latihan penenggelaman (sinking exercise – SINKEX) kapal angkut amfibi nonaktif USS Juneau (LPD-10) di Laut Filipina.

Angkatan Laut AS mengatakan bahwa pasukan udara, permukaan, dan bawah laut mengoordinasikan serangan dalam latihan penggunaan senjata dan pembidikan sasaran dalam kondisi tempur yang realistis.

"Latihan SINKEX ini memberi kesempatan luar biasa bagi tim gabungan kami untuk mengintegrasikan kemampuan di berbagai matra, mengasah ketepatan dan koordinasi yang sangat penting untuk operasi maritim tingkat tinggi di palagan Pasifik," kata Laksda Eric Anduze, komandan Carrier Strike Group 5 dan Task Force 70.

Serangan pamungkas yang menenggelamkan USS Juneau berasal dari kapal selam Angkatan Laut Bela Diri Jepang (Japan Maritime Self Defense Force – JMSDF). Militer Jepang mengunggah gambar helikopter SH-60 JMSDF yang menembakkan rudal AGM-114 Hellfire dan kapal perusak JMSDF yang meluncurkan rudal antikapal Type 90.

Pertahanan pulau

Sekitar 9.000 personel dari III MEF dan Pasukan Barat JGSDF berlatih dalam latihan Resolute Dragon yang berlangsung bersamaan.

Diselenggarakan setiap tahun sejak 2021, Resolute Dragon berfokus pada penguatan kemampuan komando dan kendali, manuver multimatra, dan pertahanan pulau.

JGSDF menyatakan bahwa latih tubi itu bertujuan "meningkatkan interoperabilitas bilateral untuk operasi pertahanan pulau dan lebih memperkuat kemampuan tangkal dan tanggap bilateral."

Latihan berlangsung di Kyushu, Okinawa, dan gugusan pulau Nansei di barat daya, termasuk Miyako, Ishigaki, dan Yonaguni.

Tanggapan Tiongkok

Tiongkok menyatakan keprihatinan atas meningkatnya kegiatan militer AS-Jepang di sekitar Taiwan dan untaian pulau pertama, meskipun latihan tersebut dinyatakan berfokus pada pertahanan.

Menurut Maritime Executive, yang menjadi perhatian khusus Angkatan Laut Tiongkok adalah keturutsertaan 12th Marine Littoral Regiment dari 3rd Marine Division.

Resimen tersebut, yang bermarkas tetap di Camp Hansen di Okinawa, menerima dua sistem pertahanan pantai baru pada bulan Juni: pencegat kapal NMESIS (Navy-Marine Expeditionary Ship Interdiction System) dan pertahanan udara MADIS (Marine Air Defense Integrated System).

"NMESIS dan MADIS mewakili langkah maju yang signifikan dalam upaya modernisasi Korps Marinir," kata 3rd Marine Division, dan menambahkan bahwa kedua sistem itu menyediakan kemampuan antikapal dan antipesawat nirawak kecil berbasis darat.

Perubahan strategi

Menurut para analis, pola latihan militer baru-baru ini mencerminkan strategi Indo-Pasifik Washington yang terus berkembang.

Selama ini, Amerika Serikat menekankan kemitraan keamanan yang luas di Asia Selatan dan Tenggara. Namun, belakangan ini, AS semakin memusatkan perencanaan militernya pada untaian pulau pertama, kata Sarang Shidore, direktur Global South Program di Quincy Institute for Responsible Statecraft.

"Washington menggeser strategi keamanannya ke arah Tiongkok," tulisnya pada 7 Juli, menambahkan bahwa Amerika Serikat sekarang berfokus pada "garis pertahanan yang lebih sempit dan termiliterisasi, khususnya untaian pulau pertama, yang membentang dari Jepang hingga Filipina."

Washington, sejak mengeluarkan Strategi Keamanan Nasional bulan November lalu, memberi penekanan lebih besar pada kemitraan di dalam "Squad" yang terdiri atas Australia, Jepang, Filipina, dan Amerika Serikat.

“Keempat anggota Squad adalah sekutu perjanjian pertahanan, semuanya tahu peran mereka sebagai kelompok pertahanan dan semuanya memiliki letak geografis yang penting secara militer,” tulis Shidore.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link