Oleh AFP |
SYDNEY -- Militer AS berencana membangun cadangan senjata permanen siap tempur untuk Korps Marinirnya di pesisir tenggara Australia, di luar jangkauan sebagian besar rudal Tiongkok, sebagaimana terungkap dalam dokumen tender dan dikonfirmasi oleh para pejabat kepada AFP.
Pembangunan cadangan senjata tersebut, yang pertama kalinya bagi Korps Marinir di Australia, terjadi di tengah upaya Amerika Serikat untuk memanfaatkan lokasi strategis benua itu di Pasifik Selatan guna menangkis peningkatan kekuatan militer Tiongkok secara pesat, kata para analis
Korps Marinir AS mulai menempatkan persediaan logistik militer secara global selama Perang Dingin, dengan memanfaatkan gudang terapung di sejumlah kapal serta berbagai gua di Norwegia tempat mereka menyimpan senjata, amunisi, dan kendaraan.
Tempat cadangan senjata darat pertama di kawasan Asia-Pasifik diperkirakan akan dibuka tahun ini di Filipina, di dekat wilayah yang berpotensi menjadi titik-titik rawan di Laut Tiongkok Selatan.
![Anggota Korps Marinir AS, anggota Angkatan Darat Bela Diri Jepang, dan prajurit Angkatan Darat Australia berpose setelah upacara pembukaan Latihan Southern Jackaroo di Townsville, Australia, pada 29 Mei. [Sersan Kyle Chan/Korps Marinir AS]](/gc9/images/2026/06/22/56710-9714010-370_237.webp)
Meningkatnya kehadiran militer AS "sangat penting bagi keamanan nasional Australia,” kata Menteri Pertahanan Australia Richard Marles pekan lalu. Ia menyebut “peningkatan kekuatan militer yang sangat signifikan” oleh Tiongkok sebagai hal yang memicu kekhawatiran.
Di dalam area pembangunan
Dokumen yang diterbitkan oleh Angkatan Laut AS pada bulan Juni menunjukkan adanya perencanaan matang untuk penempatan cadangan senjata di Australia yang lebih besar lagi, dengan alokasi dana sebesar US$30 juta untuk membangun gudang dan kantor di negara bagian Victoria guna “penyediaan pasokan di garis depan yang krusial.”
Penempatan cadangan senjata di Australia, yang diperkirakan akan mencapai kapasitas penuh pada tahun 2028, akan disimpan di Melbourne sebelum para pekerja memindahkannya ke pergudangan AS yang akan dibangun pada tahun 2027 di pangkalan militer Australia di Bandiana, daerah pedesaan Victoria, demikian terungkap dalam dokumen tender.
Australia tidak mengizinkan adanya pangkalan militer asing di wilayahnya, yang merupakan masalah sensitif di negara yang memiliki aliansi keamanan dengan Amerika Serikat dan saat ini menampung semakin banyak jenis satuan militer AS yang bertugas secara bergiliran di sejumlah pangkalan pertahanan Australia.
Angkatan Laut AS bekerja sama dengan sebuah perusahaan kontraktor pertahanan global untuk mempekerjakan sekitar 110 insinyur, mekanik, serta spesialis material dan keselamatan guna mengelola persediaan senjata Australia, yang mencakup “senjata yang dioperasikan oleh awak,” demikian terungkap dalam beberapa dokumen tersebut.
“Kegiatan Korps Marinir di Australia mendukung upaya pemeliharaan global terpadu dengan memastikan ketersediaan peralatan dan persediaan yang siap digunakan untuk operasi dan latihan di seluruh kawasan Indo-Pasifik,” kata seorang juru bicara Pasukan Korps Marinir AS di Pasifik kepada AFP.
Juru bicara tersebut menolak berkomentar mengenai rincian kontrak atau asumsi perencanaan kekuatan, tetapi mengatakan peralatan Korps Marinir dijaga agar tetap dalam “kesiapan tinggi.”
Pengaturan kontrak dan pengoperasian fasilitas tersebut akan dilakukan melalui koordinasi yang erat dengan Kementerian Pertahanan Australia.
“Berbagai kegiatan ini meningkatkan kemampuan respons, memperkuat interoperabilitas dengan sekutu dan mitra, serta mendukung berbagai misi di kawasan Indo-Pasifik,” kata juru bicara tersebut, sambil menggunakan sebutan alternatif untuk kawasan Asia-Pasifik.
Truk-truk Angkatan Darat AS ditinggalkan di pangkalan Bandiana pada tahun 2023 setelah latihan militer Australia yang melibatkan pasukan AS yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Cadangan senjata Korps Marinir di Bandiana, yang disetujui pada Juli lalu, merupakan hal yang terpisah.
“Program perlengkapan Korps Marinir dan Angkatan Darat dirancang untuk mendukung kebutuhan operasional masing-masing dan dikelola di bawah kewenangan serta prosedur yang terpisah,” kata juru bicara Korps Marinir.
Di luar jangkauan rudal
Pentagon telah meminta Kongres untuk mengalokasikan dana sebesar US$500 juta pada tahun depan guna meningkatkan penyimpanan awal peralatan dan bahan bakar di seluruh kawasan Asia-Pasifik sebagai upaya untuk menangkal Tiongkok.
Setiap tahun, sekitar 2.000 Marinir AS menggelar latihan selama enam bulan di Darwin, kota yang terletak di pesisir utara Australia.
Tiongkok memiliki kemampuan untuk menyerang wilayah utara Australia dengan rudal balistik yang dkerahkan dari sejumlah pos militernya di Laut Tiongkok Selatan, demikian disampaikan lembaga pemikir Lowy Institute dalam sebuah laporan pada bulan Juni.
Kerentanan wilayah utara Australia kemungkinan merupakan “pertimbangan yang relevan” dalam penempatan cadangan senjata di wilayah tenggara, demikian disampaikan Sam Roggeveen, Direktur Keamanan Internasional Lowy Institute, kepada AFP.
Peningkatan jumlah pasukan dan peralatan militer AS di Australia merupakan “perubahan besar dalam kebijakan Australia yang semakin mengikat Australia dengan tujuan strategis Amerika di kawasan ini,” kata Roggeveen.
Bayangan Guam
John Blaxland, profesor bidang keamanan internasional di Australian National University, mengatakan "arti penting posisi geografis Australia semakin meningkat" seiring munculnya kekhawatiran mengenai keamanan pangkalan militer AS di Guam.
“Mengingat persaingan untuk memperebutkan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik telah mencapai tingkat tertinggi dalam lebih dari satu generasi, tidak mengherankan jika Korps Marinir AS mungkin mengandalkan Australia untuk memfasilitasi penyimpanan tersebut,” katanya.
“Kecuali jika terjadi peningkatan besar-besaran dalam belanja pertahanan Australia—yang saat ini minim dukungan politik—mendorong investasi AS yang lebih besar di sektor properti Australia secara luas dianggap sebagai langkah paling bijaksana yang dapat diambil.”
Kementerian Pertahanan Australia mengatakan kepada AFP bahwa pihaknya memiliki strategi untuk mempertahankan “infrastruktur pangkalan di wilayah selatan yang berfokus pada pembentukan pasukan, pemeliharaan, jaringan layanan kesehatan, dan simpul logistik,” guna memungkinkan militer memproyeksikan kekuatan dari wilayah utara Australia.
![Anggota Korps Marinir AS dari Fox Battery, Batalion ke-2, Resimen Marinir ke-11, Pasukan Rotasi Marinir-Darwin 26, sedang menyiapkan perlengkapan selama Latihan Predator's Walk di Area Latihan Mount Bundey, Wilayah Utara, Australia, pada 23 Mei. [Kopral Caleb Goodwin/Korps Marinir AS]](/gc9/images/2026/06/22/56709-9752392-370_237.webp)