Kapabilitas

Rudal Tomahawk torehkan sejarah pada latihan militer Balikatan AS–Filipina

Peluncuran dari Pulau Leyte ke sasaran yang berjarak sekitar 630 kilometer membuktikan akurasi dan daya jangkau rudal itu, memperkuat daya tangkal di kawasan maritim yang menjadi ajang sengketa.

Personel Satuan Tugas Multi-Domain ke-3 Angkatan Darat AS melakukan uji tembak sistem Typhon dengan amunisi aktif untuk pertama kalinya di luar daratan AS saat Latihan Talisman Sabre 2025 di Northern Territory, Australia, pada 16 Juli 2025. [Sersan Perla Alfaro/Angkatan Darat AS]
Personel Satuan Tugas Multi-Domain ke-3 Angkatan Darat AS melakukan uji tembak sistem Typhon dengan amunisi aktif untuk pertama kalinya di luar daratan AS saat Latihan Talisman Sabre 2025 di Northern Territory, Australia, pada 16 Juli 2025. [Sersan Perla Alfaro/Angkatan Darat AS]

Oleh Chelsea Robin |

Dalam demonstrasi bersejarah sistem Typhon, militer AS dan Filipina untuk pertama kalinya melaksanakan uji tembak rudal jelajah Tomahawk dari wilayah Filipina, menandai komitmen yang semakin kuat terhadap upaya daya tangkal bersama di kawasan.

Rudal itu diluncurkan dari sistem Typhon di Bandara Tacloban pada 5 Mei oleh Satuan Tugas Multi-Domain ke-1 Angkatan Darat AS dan Resimen Artileri Angkatan Darat Filipina, kata Kolonel Korps Marinir Filipina Dennis Hernandez, juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina untuk Balikatan 2026, kepada wartawan.

Target akurat

Sekitar satu jam setelah peluncuran, rudal tersebut menghantam sasarannya di Fort Magsaysay di Laur, Nueva Ecija. Kolonel Korps Marinir Filipina Dennis Hernandez mengatakan, rudal itu tidak membawa hulu ledak, karena uji coba itu untuk menguji akurasi, bukan daya hancur.

“Rudal itu sangat presisi. Katakanlah, jika Anda ingin menembak jendela dari jarak jauh, rudal tersebut akan tepat mengenai jendela itu,” kata Hernandez kepada Defense News.

Sistem rudal Typhon ditampilkan dalam latihan Resolute Dragon 25 di Pangkalan Udara Korps Marinir Iwakuni, Jepang, pada 16 September 2025. Sistem tersebut kini menjadi bagian dari upaya perluasan daya tangkal sekutu di kawasan Indo-Pasifik. [Angkatan Darat AS/Sersan Perla Alfaro]
Sistem rudal Typhon ditampilkan dalam latihan Resolute Dragon 25 di Pangkalan Udara Korps Marinir Iwakuni, Jepang, pada 16 September 2025. Sistem tersebut kini menjadi bagian dari upaya perluasan daya tangkal sekutu di kawasan Indo-Pasifik. [Angkatan Darat AS/Sersan Perla Alfaro]

Sebagai bagian dari Balikatan 2026, peluncuran tersebut mendukung latihan manuver darat malam hari Divisi Infanteri ke-25 di Fort Magsaysay.

Lebih dari 17.000 personel dari Amerika Serikat, Filipina, Australia, Kanada, Prancis, Jepang, dan Selandia Baru berpartisipasi dalam latihan tahun ini.

Jangkauan operasional

Tomahawk adalah rudal jelajah subsonik jarak jauh yang mampu menghantam target berjarak lebih dari 1.500 kilometer, dengan varian terbaru mampu menjangkau lebih dari 1.800 kilometer. Dengan terbang rendah pada ketinggian sekitar 30 hingga 50 meter di atas permukaan tanah, rudal ini secara efektif menghindari deteksi radar.

Varian terbaru dilengkapi koneksi data dua arah yang memungkinkan perubahan target saat terbang, sehingga operator dapat mengubah titik sasaran rudal setelah peluncuran apabila situasi taktis berubah, menurut Army Recognition.

Typhon berfungsi sebagai peluncur bergerak berbasis darat untuk rudal tersebut. Sistem ini merupakan bagian dari portofolio modernisasi serangan presisi jarak jauh Angkatan Darat AS, yang mengisi kekosongan antara jangkauan maksimum Precision Strike Missile sejauh 500 kilometer dan Long-Range Hypersonic Weapon yang mencapai 3.500 kilometer.

Saat ditempatkan di Luzon, rudal Typhon dapat menjangkau seluruh Selat Luzon—penghubung vital antara Laut Filipina dan Laut Tiongkok Selatan—sehingga pesisir Tiongkok berada dalam jangkauan, menurut pejabat Angkatan Darat AS.

Pesan strategis

Uji tembak itu merupakan “momen penting” yang diperkirakan akan “mengubah” keseimbangan kekuatan di Laut Tiongkok Selatan, menurut analis. “Dari sudut pandang geopolitik, peristiwa uji tembak ini mengirimkan pesan strategis yang terukur, tetapi jelas, bahwa Manila secara bertahap beralih dari postur pertahanan wilayah semata menuju arsitektur penangkalan sekutu yang lebih terintegrasi, yang selaras dengan doktrin perang Indo-Pasifik Amerika Serikat yang terus berkembang,” lapor Defence Security Asia.

Seorang juru bicara Komando Indo-Pasifik AS mengatakan kepada Janes bahwa kemampuan berbasis darat di Balikatan “dirancang untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan militer gabungan,” sekaligus menunjukkan “dukungan berkelanjutan” kepada mitra regional demi memastikan “perdamaian dan kemakmuran kawasan.”

Kehadiran di kawasan

Kehadiran regional sistem Typhon berkembang pesat sejak debutnya di Filipina pada April 2024, lalu berlanjut dengan kemunculan yang mendapat sorotan luas di Jepang saat latihan Resolute Dragon 2025.

Meski tidak melakukan penembakan selama penempatannya di Jepang pada 11–25 September, kehadiran sistem itu tetap menandai pergeseran penting dalam pertahanan terintegrasi di kawasan.

“Ini adalah sistem dalam trailer berbasis truk yang dapat dioperasikan di lokasi yang sulit dan terpencil,” kata Kolonel Angkatan Darat AS Wade Germann kepada wartawan di pangkalan udara di Iwakuni saat latihan Resolute Dragon.

“Daya tangkal terhadap serangan bersenjata dapat diperkuat seiring dengan semakin memburuknya situasi keamanan di sekitar Jepang,” ujar seorang juru bicara Pasukan Bela Diri Jepang kepada AFP.

Filipina maupun Jepang menilai sistem Typhon sebagai perangkat penting untuk penangkalan dan pertahanan wilayah, terutama seiring meningkatnya tekanan militer Beijing di kawasan Indo-Pasifik.

Dengan menyediakan kemampuan serangan balik berbasis darat yang lincah, sistem ini memungkinkan kedua negara memproyeksikan kekuatan dari wilayah kepulauan mereka masing-masing ke koridor maritim yang diperebutkan.

Manila menegaskan kebutuhan strategis itu pada bulan Desember, dengan mengonfirmasi rencana untuk mengakuisisi sistem tersebut guna mengamankan kedaulatan maritimnya.

Keberatan Tiongkok

Tiongkok berulang kali menentang keberadaan peluncur Typhon di Filipina dan Jepang, dengan alasan kemampuan serangan jarak jauhnya—terutama jika dipersenjatai rudal Tomahawk.

Dalam pengarahan pada 5 Mei, juru bicara Kemenlu Tiongkok Lin Jian mengatakan keberadaan sistem Typhon dapat mengganggu stabilitas keamanan kawasan dan berpotensi memicu perlombaan senjata, sembari menegaskan Tiongkok “sangat tidak suka dan tegas menolak hal ini.”

Sebaliknya, Filipina dan Jepang menegaskan sistem Typhon buatan AS merupakan kebutuhan vital bagi stabilitas kawasan. Dengan memperkuat pertahanan wilayah dan daya tangkal kolektif, sistem ini menjadi penyeimbang penting terhadap meningkatnya tekanan militer Beijing di seluruh Indo-Pasifik.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link