Ilmu Pengetahuan & Teknologi

Pemetaan dasar laut Tiongkok yang meluas ungkap sesar digital di Pasifik

Risiko baru semakin menjadi sorotan: kerentanan kabel bawah laut yang membawa data, uang, dan komunikasi yang menjadi tumpuan perekonomian modern.

Teknisi bekerja di atas kapal perbaikan kabel Sophie Germain pada Oktober 2025. Kabel bawah laut membawa sebagian besar lalu lintas internet global dan kian menjadi fokus dalam perencanaan keamanan karena semua negara berupaya memperkuat ketahanan infrastruktur komunikasi yang penting. [Miguel Medina/AFP]
Teknisi bekerja di atas kapal perbaikan kabel Sophie Germain pada Oktober 2025. Kabel bawah laut membawa sebagian besar lalu lintas internet global dan kian menjadi fokus dalam perencanaan keamanan karena semua negara berupaya memperkuat ketahanan infrastruktur komunikasi yang penting. [Miguel Medina/AFP]

Oleh Focus |

Kabel bawah laut adalah infrastruktur globalisasi yang tidak terlihat. Kabel ini membawa sebagian besar lalu lintas internet antarbenua dan mendukung segala hal mulai dari transaksi keuangan hingga layanan gemawan (cloud) dan komunikasi militer.

Seperti yang dinyatakan dalam laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS), kabel bawah laut adalah "urat nadi era digital."

Itulah yang membuat pengetahuan terperinci tentang dasar laut sangat penting.

Laporan Reuters menunjukkan bahwa kapal penelitian Tiongkok sedang melakukan survei di perairan sensitif di dekat Taiwan, Guam, dan titik-titik sempit utama di Indo-Pasifik, mengumpulkan data yang bernilai penting bagi sipil dan militer.

Kabel internet di atas kapal kabel pada tahun 2025. [Miguel Medina/AFP]
Kabel internet di atas kapal kabel pada tahun 2025. [Miguel Medina/AFP]

Pada praktiknya, pemetaan semacam itu juga dapat mengungkap rute dan lingkungan pengoperasian infrastruktur kabel penting.

Bagi Taiwan dan negara-negara Pasifik yang kecil, risikonya genting.

Perekonomian dan ketahanan nasional mereka bergantung pada koneksi tanpa gangguan, tetapi kebanyakan hanya memiliki redundansi terbatas serta kesulitan melindungi jaringan kabel yang tersebar luas.

Ancaman infrastruktur digital

Taiwan menjadi contoh yang paling jelas.

CSIS mencatat bahwa ketika dua kabel bawah laut ke Matsu terputus pada 2023, pesan tertunda, video tidak dapat diputar, dan bank kesulitan memproses transaksi tepat waktu.

Insiden itu berskala kecil, tetapi menunjukkan betapa cepatnya gangguan kabel dapat berubah dari ketidaknyamanan menjadi gangguan ekonomi.

Jason Hsu, mantan legislator Taiwan yang kini bekerja di lembaga pemikir Hudson Institute, mengatakan kepada Komisi Kajian Ekonomi dan Keamanan AS-Tiongkok pada bulan Maret bahwa kabel bawah laut merupakan "faktor penting" dalam kemampuan Taiwan untuk berfungsi sebagai masyarakat yang terhubung.

Dia berpendapat bahwa sabotase kabel telah menjadi bagian dari taktik "zona abu-abu" Beijing dan memperingatkan bahwa insiden berulang dapat digunakan untuk mengisolasi Taiwan tanpa mencanangkan perang.

Operasi zona abu-abu tidak menggunakan pasukan, tetapi menguras tenaga pasukan musuh.

Risiko regional yang lebih luas sangat besar.

Ekonomi jasa Filipina yang didukung teknologi digital, jaringan keuangan Jepang, dan peran Australia dalam perdagangan Indo-Pasifik semuanya bergantung pada aliran data yang kontinu.

CSIS memperingatkan bahwa serangan terhadap kabel bawah laut dapat "langsung mengganggu kegiatan ekonomi dan komunikasi global," sementara gangguan singkat sekalipun dapat mengakibatkan keterlambatan pembayaran, masalah logistik, dan guncangan pasar yang luas.

Melacak ancaman

Yang membuat hal ini lebih dari sekadar cerita infrastruktur biasa adalah kesamaan antara jalur kabel dengan perairan strategis yang dipetakan oleh Tiongkok.

Reuters menemukan bahwa kapal-kapal seperti Dong Fang Hong 3 melakukan survei di area dekat Taiwan, Guam, dan jalur menuju Selat Malaka dengan pola seperti pemetaan dasar laut.

Mantan komandan kapal selam Australia, Peter Scott, mengatakan kepada Reuters bahwa data ini "dapat sangat berharga dalam persiapan medan pertempuran."

Para analis memperingatkan agar tidak berasumsi bahwa pemetaan saja cukup untuk penguasaan.

Sekalipun demikian, hal itu dapat membuat sistem kabel mudah dilacak, dipantau, dan terancam dalam krisis.

Ryan Martinson dari Naval War College AS mengatakan kepada Reuters bahwa skala penelitian kelautan Tiongkok "mencengangkan", menambahkan bahwa hal itu dapat mengikis keunggulan AS selama ini dalam pengetahuan tentang medan pertempuran bawah laut.

Amerika Serikat dan sekutunya menanggapi hal ini dengan pengawasan yang lebih ketat, perangkat hukum yang lebih kuat, dan penekanan yang lebih besar pada ketahanan jaringan kabel.

CSIS menunjuk pada meningkatnya upaya regulasi dan legislasi untuk mencegah sabotase dan menghukum kerusakan yang disengaja, di samping dorongan yang lebih luas untuk mendiversifikasi rute dan meningkatkan kapasitas perbaikan.

Itu pelajaran besarnya.

Persaingan di bawah laut bukan lagi hanya soal kapal selam dan penguasaan laut, tapi juga tentang siapa yang bisa melindungi urat digital ekonomi global sebelum menjadi sasaran saat krisis.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link