Diplomasi

India buat kesepakatan uranium dengan Australia dan kemitraan strategis dengan Selandia Baru

Kesepakatan India dengan Australia dan Selandia Baru tercapai di tengah sikap Tiongkok yang semakin agresif secara militer.

PM Australia Anthony Albanese (kanan) berjabat tangan dengan PM India Narendra Modi (kiri) saat kunjungan ke Melbourne Cricket Ground pada 10 Juli. [Martin Keep/AFP]
PM Australia Anthony Albanese (kanan) berjabat tangan dengan PM India Narendra Modi (kiri) saat kunjungan ke Melbourne Cricket Ground pada 10 Juli. [Martin Keep/AFP]

Oleh AFP dan Focus |

PM India Narendra Modi membuat perjanjian pasokan uranium penting dengan Australia dan meningkatkan hubungan India–Selandia Baru menjadi kemitraan strategis, memperluas kerja sama ekonomi dan pertahanan dengan dua negara demokrasi Pasifik dalam tur regional multinasional.

Modi menandatangani perjanjian uranium dengan PM Australia Anthony Albanese di Melbourne pada 9 Juli, sebelum bertolak ke Auckland, tempat ia dan PM Selandia Baru Christopher Luxon meluncurkan "Kemitraan Strategis India–Selandia Baru: Peta Jalan Menuju 2030" pada 11 Juli.

"Kami menandatangani perjanjian penting terkait energi nuklir hari ini," ujar Modi setelah pertemuan di Melbourne, seraya menambahkan hal itu akan "membuka jalan bagi pasokan uranium dari Australia ke India serta memberi momentum baru bagi energi bersih kami." Albanese mengatakan kesepakatan itu akan "membantu meningkatkan kapasitas pembangkit listrik non-bahan bakar fosil" di India.

PM Australia menyebut perjanjian itu sebagai pembukaan pasar baru bagi para penambang Australia.

Perdana Menteri India Narendra Modi (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon (kiri) di Auckland pada 1 Juli. [Dean Purcell/Pool/AFP]
Perdana Menteri India Narendra Modi (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon (kiri) di Auckland pada 1 Juli. [Dean Purcell/Pool/AFP]
PM India Narendra Modi (kiri) dan PM Selandia Baru Christopher Luxon (kanan) menghadiri acara Winning Partnership Celebration di Auckland pada 11 Juli. [Michael Bradley/Pool/AFP]
PM India Narendra Modi (kiri) dan PM Selandia Baru Christopher Luxon (kanan) menghadiri acara Winning Partnership Celebration di Auckland pada 11 Juli. [Michael Bradley/Pool/AFP]

Pernyataan bersama menyebutkan bahwa ekspor tersebut, yang berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), ditujukan untuk "tujuan yang sepenuhnya damai." Pengawasan tersebut menjadi penting karena India bukan penanda tangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Australia memiliki sekitar 28% cadangan uranium dunia.

India menargetkan peningkatan kapasitas PLTN menjadi 100 GW pada 2047 dari sekitar 8 GW saat ini, seiring permintaan listrik yang terus meningkat, menurut Nikkei Asia.

Upaya memperkuat pertahanan dan keamanan

Di luar sektor energi, Modi dan Albanese menyepakati peningkatan kerja sama pertahanan, memperkuat rantai pasok mineral kritis serta pembangunan terminal pelacakan antariksa sementara di Kepulauan Cocos (Keeling) Australia untuk mendukung misi antariksa India. Kedua negara mempererat hubungan ekonomi sejak ada Perjanjian Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan tahun 2022.

Di Auckland, kedua pemimpin meluncurkan kemitraan strategis baru yang mencakup kerja sama pertahanan yang lebih erat, termasuk latihan angkatan laut, serta kerja sama di bidang perdagangan, diplomasi, dan ilmu pengetahuan. Peta jalan itu menegaskan kembali dukungan terhadap tatanan kawasan yang "bebas, terbuka, damai, dan makmur."

"Kami adalah negara kecil yang bergantung pada perdagangan. Kami adalah negara maritim," ujar Luxon kepada wartawan, lalu menambahkan bahwa Selandia Baru perlu memiliki "sebanyak mungkin hubungan dengan mitra di seluruh dunia yang sepemikiran" dalam hal pertahanan dan perdagangan.

Kedua kesepakatan itu mencerminkan upaya India untuk menjalin hubungan strategis dengan mitra yang memiliki kesamaan pandangan, di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan regional.

Kunjungan ke Selandia Baru itu berlangsung beberapa hari setelah Tiongkok melakukan uji tembak rudal balistik dari kapal selam ke Pasifik Selatan pada 6 Juli, dan hulu ledak kosongnya jatuh di zona bebas nuklir berdasarkan Traktat Rarotonga.

"Tiongkok melakukan uji coba tersebut hanya beberapa jam setelah memberi tahu kami," kata Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters setelahnya.

Mewaspadai langkah Beijing

"Hubungan India–Australia menjadi semakin penting karena kedua negara menghadapi Tiongkok yang semakin agresif, di samping menjaga hubungan perdagangan kedua negara yang ekstensif," ujar Pradeep Taneja, dosen senior studi Asia di University of Melbourne.

"Tiongkok adalah isu besar yang tidak bisa diabaikan," katanya kepada Nikkei Asia, seraya menambahkan kedua negara memiliki kepentingan untuk mengurangi ketergantungan tersebut. India mencatat nilai perdagangan tahunan sekitar US$150 miliar dengan Tiongkok, sementara sekitar sepertiga ekspor Australia ditujukan ke Tiongkok.

Kunjungan Modi, yang merupakan kunjungan pertama PM India ke Selandia Baru dalam empat dekade terakhir, menandai sebuah tonggak sejarah, tetapi perlu tindak lanjut yang konsisten agar tidak menjadi sekadar gestur diplomatik sesaat, tulis Rahul Mishra, peneliti senior di German-Southeast Asian Center of Excellence Universitas Thammasat di Bangkok, dalam The Diplomat.

India dan negara-negara kekuatan menengah lainnya di kawasan itu semakin berupaya memperkuat hubungan keamanan bilateral di tengah lingkungan strategis yang semakin penuh persaingan.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link