Keamanan

Manuver Angkatan Laut terbesar sepanjang sejarah Tiongkok mengguncang Asia Timur

Penempatan pasukan Tiongkok merupakan peringatan strategis bagi negara-negara yang memperluas hubungan pertahanan dengan Amerika Serikat, kata para analis.

Kapal induk Tiongkok Liaoning dan Shandong melaksanakan latihan formasi gabungan di Laut Tiongkok Selatan pada bulan Oktober 2024. [Liu Fang/Xinhua via AFP]
Kapal induk Tiongkok Liaoning dan Shandong melaksanakan latihan formasi gabungan di Laut Tiongkok Selatan pada bulan Oktober 2024. [Liu Fang/Xinhua via AFP]

Oleh Zarak Khan |

Tiongkok semakin mengguncang keseimbangan keamanan Asia Timur yang sudah rapuh melalui apa yang oleh para pejabat regional sebut sebagai unjuk kekuatan maritim terkoordinasi terbesar sepanjang sejarahnya, dengan mengerahkan sejumlah besar kapal Angkatan Laut dan penjaga pantai melintasi berbagai jalur perairan yang dipersengketakan.

Penempatan pada 4 Desember itu pada satu titik melibatkan lebih dari 100 kapal, menurut empat sumber dan laporan intelijen yang ditinjau Reuters.

Beijing secara terbuka menyebut aktivitas tersebut sebagai latihan rutin.

Namun, besarnya skala operasi dan jarak kapal-kapal Tiongkok memicu peningkatan status siaga di Taiwan dan Jepang. Kedua pihak mengecam langkah tersebut sebagai penegasan niat militer yang agresif, bukan sekadar latihan rutin.

Presiden Taiwan Lai Ching-te meninjau unit pasukan cadangan di Yilan, Taiwan, pada 2 Desember. Beijing bereaksi keras terhadap rencana terbarunya untuk mengalokasikan tambahan dana pertahanan sebesar US$40 miliar guna menghadapi meningkatnya tekanan dari Tiongkok. [Kementerian Pertahanan Taiwan/X]
Presiden Taiwan Lai Ching-te meninjau unit pasukan cadangan di Yilan, Taiwan, pada 2 Desember. Beijing bereaksi keras terhadap rencana terbarunya untuk mengalokasikan tambahan dana pertahanan sebesar US$40 miliar guna menghadapi meningkatnya tekanan dari Tiongkok. [Kementerian Pertahanan Taiwan/X]

Aktivitas Tiongkok tersebut tidak hanya berlangsung di Selat Taiwan, tetapi membentang dari Laut Kuning hingga perairan dekat Kepulauan Senkaku yang dipersengketakan di Laut Tiongkok Timur, lalu meluas ke Laut Tiongkok Selatan dan Samudra Pasifik barat, ujar juru bicara kepresidenan Taiwan, Karen Kuo, seperti dikutip Reuters.

Skala tersebut memang “menimbulkan ancaman dan dampak bagi Indo-Pasifik dan seluruh kawasan,” kata Kuo kepada media di Taipei.

Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, juga mengatakan kepada wartawan bahwa Tokyo memantau secara ketat aktivitas militer Tiongkok.

“Tiongkok telah memperluas dan meningkatkan aktivitas militernya di wilayah sekitar Jepang,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.

“Pemerintah akan terus memantau perkembangan di sekitar Jepang dengan keprihatinan yang mendalam,” tambahnya.

Perseteruan atas Senkaku

Lonjakan armada Tiongkok terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Jepang, khususnya di Laut Tiongkok Timur, tempat Kepulauan Senkaku berada.

Kepulauan Senkaku saat ini dikelola oleh Jepang, tetapi Tiongkok dan Taiwan juga mengajukan klaim atas wilayah yang sama dan menyebutnya sebagai Kepulauan Diaoyu.

Pada bulan November, kementerian pertahanan Jepang dan Taiwan melacak pergerakan Fujian, kapal induk Tiongkok, saat mendekat hingga sekitar 200 km dari Kepulauan Senkaku.

Ketegangan meningkat lebih jauh pada 6 Desember ketika Jepang menuduh pesawat tempur Tiongkok yang dikerahkan dari kapal induk Liaoning mengunci sistem radar mereka ke jet tempur Jepang.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, pada 8 Desember melontarkan kecaman terhadap insiden “berbahaya” yang terjadi di perairan internasional di sebelah tenggara Prefektur Okinawa.

Eskalasi maritim Tiongkok juga bertepatan dengan sengketa diplomatik yang sengit dengan Tokyo, yang meletus setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada November.

Takaichi menyatakan bahwa konflik terkait Taiwan—terutama jika terjadi blokade Angkatan Laut Tiongkok terhadap pulau tersebut—dapat memenuhi kriteria hukum sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” Jepang. Penilaian semacam itu dapat membuka jalan bagi Jepang untuk mengambil langkah militer .

Beijing memprotes sikap Takaichi yang "secara terbuka menentang kemungkinan penggunaan kekuatan oleh Tiongkok terhadap Taiwan,” kata Hsiao-huang Shu, peneliti di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, kepada Taipei Times.

Tiongkok mungkin memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar menekan Jepang terkait pernyataan tertentu. Beijing ingin mengintimidasi para lawannya di kawasan Indo-Pasifik, kata Shu.

Negara sasarannya mencakup Amerika Serikat, Jepang, dan Filipina, tambahnya.

Ketiga negara sekutu itu menggelar latihan bersama di Laut Tiongkok Selatan pada bulan November, meningkatkan koordinasi keamanan sementara Tiongkok mengerahkan formasi pesawat pembom untuk apa yang disebutnya sebagai “operasi patroli rutin."

Sementara itu, Jepang dan Filipina menyelesaikan Kegiatan Kerja Sama Maritim bilateral ketiga mereka pada 29 November.

Membidik Okinawa

Beijing juga tersulut oleh pengumuman Presiden Taiwan, Lai Ching-te, bulan lalu tentang tambahan belanja pertahanan sebesar US$40 miliar selama periode delapan tahun guna memperkuat kemampuannya dalam menghadapi Tiongkok.

Tiongkok menganggap Taiwan sebagai provinsi pembangkang dan tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk merebut pulau demokratis tersebut.

Tiongkok “juga mungkin tengah berupaya menetapkan standar respons baru terhadap isu-isu yang berkaitan dengan keamanan Taiwan,” kata Robert Ward, pakar Jepang di Institut Internasional untuk Studi Strategis yang berbasis di London, kepada Japan Times.

Ward mengatakan Tiongkok dengan sengaja memilih lokasi untuk mengunci radar pesawat tempur Jepang, yang berada di antara pulau utama Okinawa dan Pulau Minami-Daito.

Jepang menampung kehadiran militer asing terbesar milik Amerika Serikat, dengan ribuan personel Korps Marinir AS bermarkas di Okinawa.

“Tiongkok pada dasarnya menyampaikan pesan, ‘jika kalian campur tangan di Taiwan, kami juga dapat campur tangan di Okinawa,’” katanya.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link