Oleh Chen Wei-chen |
Di tengah sengketa diplomatik Tiongkok–Jepang yang kini memasuki bulan kedua, Beijing meningkatkan kehadiran militernya di Asia Timur Laut. Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, melalui platform X, mengkritik hal yang ia sebut sebagai “ekspansi dan intensifikasi” manuver militer Tiongkok serta niatnya untuk “pamer kekuatan terhadap negara kami.”
Pada 10 Desember, dua bomber B-52H AU AS serta jet tempur F-15J dan F-35A Pasukan Bela Diri Udara Jepang melakukan latihan taktis di Laut Jepang. Latihan itu, menurut Kantor Staf Gabungan Jepang, menegaskan tekad sekutu “untuk tidak menoleransi perubahan sepihak terhadap status quo dengan kekerasan” sekaligus memperkuat “kemampuan pencegahan dan respons Aliansi Jepang–AS.”
Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan secara terpisah bahwa latihan tersebut berlangsung “di tengah lingkungan keamanan di sekitar negara kami yang semakin berat.”
Ketegangan dengan Beijing meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
![Jet tempur J-15 Tiongkok lepas landas dari kapal induk Liaoning dalam latihan dua kapal induk di Pasifik Barat bulan Juni. Jet J-15 dari Liaoning itu dilaporkan dua kali mengunci radar kendali-tembak ke arah pesawat Pasukan Bela Diri Udara Jepang di dekat Okinawa pada 6 Desember—tindakan yang oleh Tokyo disebut “berbahaya.” [Kementerian Pertahanan Tiongkok]](/gc9/images/2025/12/18/53198-02-370_237.webp)
Patroli gabungan Tiongkok–Rusia
Operasi gabungan AS–Jepang tersebut menyusul patroli udara gabungan Tiongkok–Rusia sehari sebelumnya. Pada 9 Desember, pesawat bomber kedua negara melakukan penerbangan terkoordinasi di atas Laut Tiongkok Timur dan Pasifik Barat, yang mendorong Jepang dan Korea Selatan mengerahkan jet tempur untuk memantau aktivitas itu.
Menurut pejabat Jepang, dua bomber Rusia Tu-95 bergabung dengan dua bomber Tiongkok H-6 sebelum terbang menuju Samudra Pasifik di lepas pantai Shikoku. Jet tempur J-16 Tiongkok kemudian ikut mengawal saat formasi itu melintasi koridor Okinawa–Miyako menuju Laut Filipina.
Kelompok kedua yang terdiri atas empat jet J-16 mengawal formasi bomber itu pada fase kepulangan, kembali melintasi koridor Okinawa–Miyako menuju Laut Tiongkok Timur.
Koizumi mengecam operasi udara Tiongkok–Rusia itu sebagai “masalah serius bagi keamanan nasional.”
Koizumi kemudian membahas situasi itu lewat telepon dengan Menteri Perang AS Pete Hegseth. Kedua pejabat sepakat tindakan Beijing “tidak kondusif bagi perdamaian dan stabilitas kawasan,” serta menegaskan bahwa angkatan bersenjata masing-masing “akan secara tegas dan konsisten melanjutkan kegiatan pengawasan dan pemantauan” di sekitar Jepang, menurut pernyataan resmi.
Insiden terbaru ini menyusul pernyataan PM Jepang, Sanae Takaichi, yang memicu kemarahan Beijing. Pada awal November, ia menyinggung kemungkinan keterlibatan Jepang jika terjadi serangan Tiongkok terhadap Taiwan.
Insiden udara berbahaya
Patroli itu dilakukan beberapa hari setelah insiden kontak militer di laut. Pada 6 Desember, jet tempur Tiongkok dari kapal induk Liaoning dilaporkan dua kali mengunci radar kendali-tembak ke arah pesawat Jepang di perairan internasional tenggara Okinawa—tindakan yang dinilai Tokyo sangat agresif.
Tokyo melayangkan protes keras, namun Beijing membantah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa justru pesawat Jepang yang “secara sengaja mengikuti dan mengganggu” kapal induknya.
Reuters menyebut penguncian radar itu “insiden paling serius antara kedua militer dalam beberapa tahun terakhir.” Insiden serupa terjadi pada 2013 di dekat Kepulauan Senkaku yang dikelola Jepang—yang juga diklaim oleh Tiongkok dan Taiwan, yang menyebutnya sebagai Diaoyu.
Hubungan Tiongkok–Jepang merosot ke titik terendah dalam lebih dari satu dekade.
Upaya de-eskalasi akan jauh lebih sulit dibandingkan krisis Tiongkok–Jepang sebelumnya, tulis Bonny Lin dan Kristi Govella, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, dalam analisis yang diterbitkan awal Desember.
Mereka menyoroti sejumlah faktor politik di Tiongkok dan Jepang, termasuk pandangan Beijing bahwa Taiwan merupakan “inti dari kepentingan inti Tiongkok,” serta meluasnya kekhawatiran di Jepang terhadap perilaku Tiongkok.
Sekalipun ketegangan nanti mereda, hubungan kedua negara kemungkinan akan bertahan pada “keadaan normal baru yang lebih buruk,” kata Lin dan Govella.
Takaichi melanjutkan agenda pendahulunya, Shinzo Abe, dengan memperkuat pertahanan dan mengutamakan keamanan Taiwan, tulis Sebastian Maslow, profesor ilmu politik di Universitas Tokyo, dalam The Conversation. Sementara Tiongkok yang kian percaya diri terus meningkatkan tekanan, Jepang dinilai semakin tangguh setelah belajar dari krisis sebelumnya untuk mengurangi risiko terhadap rantai pasokannya. “Tampaknya krisis ini belum akan segera berakhir,” tulis Maslow.
![Pada 10 Desember, Pasukan Bela Diri Jepang dan militer AS menggelar latihan gabungan di atas Laut Jepang untuk menegaskan penolakan terhadap setiap upaya perubahan sepihak atas status quo dengan kekerasan. [Staf Gabungan Jepang]](/gc9/images/2025/12/18/53197-g72yzwiaaaat_1w-370_237.webp)