Ekonomi

India dan Taiwan kian selaras, bidik kemitraan strategis di teknologi kuantum

Seiring New Delhi memperkuat kapasitas talenta dan pengembangan algoritme, serta Taipei menghadirkan keunggulan manufaktur semikonduktor, para analis menilai kedua pihak kian selaras untuk membangun kemitraan strategis di bidang teknologi kuantum.

Ilustrasi menggambarkan keadaan kuantum dan medan kendali. Pemerintah serta peneliti di India dan Taiwan tengah memperluas kolaborasi dalam pengembangan teknologi kuantum generasi berikutnya. [Google]
Ilustrasi menggambarkan keadaan kuantum dan medan kendali. Pemerintah serta peneliti di India dan Taiwan tengah memperluas kolaborasi dalam pengembangan teknologi kuantum generasi berikutnya. [Google]

Oleh Vasudevan Sridharan |

India dan Taiwan kian tampil sebagai mitra alami dalam perlombaan global pengembangan teknologi kuantum. Keduanya memiliki kekuatan yang saling melengkapi—mulai dari talenta, perangkat lunak, perangkat keras hingga manufaktur—sehingga membuka peluang bagi kerja sama yang lebih erat, menurut para pengamat di kedua negara.

Kedua pemerintah memandang teknologi kuantum sebagai prioritas strategis, bukan semata untuk kolaborasi ilmiah, melainkan juga demi ketahanan ekonomi dan teknologi jangka panjang, kata para ahli.

Penyelarasan strategis

Di tengah pengetatan kontrol ekspor global dan semakin politisnya rantai pasokan, negara-negara berkekuatan teknologi menengah seperti India dan Taiwan kian saling mendekat untuk membangun kapabilitas strategis tanpa ketergantungan berlebihan pada Tiongkok. Kedua negara juga sama-sama menghadapi ketegangan dengan Tiongkok dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.

“India muncul sebagai pemimpin baru dalam teknologi kuantum di tingkat global, dengan keunggulan di sejumlah bidang seperti publikasi riset—peringkat ketiga dunia—serta SDM yang memiliki kesiapan di bidang teknologi kuantum yang menempati peringkat kedua dunia,” ujar Arun Pati, fisikawan India yang kerap disebut rekan-rekannya sebagai pelopor komputasi kuantum di India, kepada Focus.

QpiAI-Indus, komputer kuantum superkonduktor pertama yang dikembangkan secara mandiri di India, diluncurkan oleh perusahaan rintisan di Bengaluru, QpiAI, pada April lalu di bawah Misi Kuantum Nasional India. [Tata Institute of Fundamental Research]
QpiAI-Indus, komputer kuantum superkonduktor pertama yang dikembangkan secara mandiri di India, diluncurkan oleh perusahaan rintisan di Bengaluru, QpiAI, pada April lalu di bawah Misi Kuantum Nasional India. [Tata Institute of Fundamental Research]

Pati menyinggung beragam inisiatif yang diluncurkan institusi pendidikan terkemuka India dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut perkiraannya, sekitar 170 profesor di seluruh India saat ini terlibat dalam bidang-bidang terkait teknologi kuantum, dengan dukungan inisiatif pelatihan berskala besar yang memperluas pasokan talenta. Institusi terkemuka seperti IISc Bengaluru, IIT Madras, IIT Delhi, dan IIT Bombay menjadi pusat hub tematik di bawah Misi Kuantum Nasional (National Quantum Mission/NQM), yang berfokus pada komputasi kuantum, komunikasi, penginderaan, dan material, ujar Pati.

Pada April 2023, New Delhi meluncurkan NQM dengan alokasi anggaran sebesar 60 miliar rupee India (sekitar US$720 juta) untuk rencana enam tahun. Dana tersebut ditujukan untuk mendorong riset, mendukung perusahaan rintisan berpotensi tinggi, serta memperkuat ekosistem akademik.

“India secara aktif menjalin kerja sama dengan mitra internasional yang sehaluan. Namun, pada tahap ini, kami belum bisa menyampaikan komentar resmi terkait inisiatif kerja sama internasional tertentu,” ujar juru bicara sel teknologi kuantum Kementerian Sains dan Teknologi India kepada Focus pada pertengahan Januari.

India telah mencatat kemajuan signifikan dalam komunikasi dan kriptografi kuantum, termasuk pengembangan koneksi kuantum antarkota serta enkripsi pascakuantum. Namun, dalam hal perangkat keras, negara tersebut masih tertinggal dibandingkan para pemimpin global.

Celah perangkat keras inilah yang menjadi titik masuk Taiwan.

Taiwan dan India dinilai berada pada posisi ideal untuk membangun model “integrasi perangkat keras–perangkat lunak” yang memadukan keunggulan India dalam algoritme dan pengembangan perangkat lunak dengan keahlian Taiwan yang diakui secara global di bidang semikonduktor dan manufaktur presisi, kata Robert Chang, sekretaris eksekutif Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Taiwan.

Sinergi perangkat keras–perangkat lunak

“Baik Taiwan maupun India memandang teknologi kuantum sebagai prioritas nasional yang krusial,” ujar Chang dalam wawancara eksklusif dengan Focus, seraya merujuk pada simposium Taiwan–India yang digelar di Bengaluru pada September lalu yang mengidentifikasi peluang di bidang material kuantum, komunikasi, penginderaan, dan komputasi.

Tujuan teknis Pusat Tematik Departemen Sains dan Teknologi (DST) India dinilai selaras dengan inisiatif kuantum Taiwan, sehingga membuka ruang bagi kolaborasi yang lebih terstruktur dan berjangka panjang.

“Untuk memaksimalkan kemitraan India–Taiwan ini, kami berencana memanfaatkan kerangka riset bersama yang telah ada antara NSTC [Dewan Sains dan Teknologi Nasional Taiwan] dan DST. Dalam jangka pendek, fokus dapat diarahkan pada pelembagaan simposium bilateral serta pemanfaatan pendanaan guna mendorong pertukaran personel, khususnya peneliti muda,” ujar Chang.

Taiwan memandang India sebagai mitra strategis di tengah upaya kedua pihak menerjemahkan keunggulan teknologi menjadi pertumbuhan ekonomi, kata Chang. “Pengembangan teknologi telah menjadi indikator utama daya saing nasional dan ketahanan strategis. India tanpa diragukan lagi merupakan mitra strategis yang sangat dihargai Taiwan,” ujarnya, seraya merujuk pada visi Viksit Bharat 2047 India dan Program Inovasi Industri Berbasis Semikonduktor Taiwan.

Kedua pihak memperkirakan kolaborasi akan mencakup pengembangan dan fabrikasi komponen kuantum canggih—seperti unit pemrosesan kuantum dan sirkuit terpadu fotonik—serta pengembangan tumpukan perangkat lunak dan aplikasi tingkat lanjut. Secara praktis, kerja sama ini dapat mencakup fabrikasi semikonduktor dan rekayasa perangkat di Taiwan, hingga desain algoritme, perangkat lunak kendali, dan integrasi sistem di India.

Geopolitik berperan

Geopolitik pada dasarnya membentuk arah kemitraan ini. Seiring teknologi kuantum dan kecerdasan buatan kian menjadi tolok ukur daya saing nasional, kedua pihak mengintegrasikan teknologi maju ke dalam visi pembangunan yang lebih luas. Peta jalan pertumbuhan jangka panjang India dan strategi inovasi Taiwan yang berorientasi pada industri sama-sama menempatkan kemampuan teknologi canggih berbasis riset sebagai pilar utama keamanan ekonomi.

Kerangka kerja sama sains yang telah ada antara NSTC dan DST dapat dimanfaatkan untuk memformalkan keterlibatan rutin Taiwan–India, memperluas pendanaan proyek bersama, serta mendukung pertukaran peneliti—khususnya ilmuwan muda—kata Chang.

Pemanfaatan bersama fasilitas khusus juga menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan. Akses terhadap lini fabrikasi canggih, infrastruktur kriogenik, serta sistem pengukuran presisi masih menjadi kendala bagi banyak program kuantum. Melalui skema berbagi fasilitas, peneliti India dapat bekerja dengan platform perangkat keras yang belum tersedia secara luas di dalam negeri, sementara tim Taiwan dapat terhubung dengan ekosistem perangkat lunak dan aplikasi India yang terus berkembang.

“Taiwan dan India akan terus memperluas kemitraan strategis ini, dengan tujuan membangun pusat inovasi yang paling tangguh dan dinamis di kawasan Indo-Pasifik,” ujar Chang.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link