Diplomasi

Inggris dan Jepang akan memperdalam kerja sama pertahanan dan keamanan

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meluncurkan Kemitraan Siber Strategis baru di Tokyo seiring dengan upaya kedua negara sekutu tersebut untuk memperkuat kerja sama dalam bidang keamanan di kawasan Indo-Pasifik.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer (kiri) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Tokyo pada 31 Januari. [Kin Cheung/Pool/AFP]
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer (kiri) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Tokyo pada 31 Januari. [Kin Cheung/Pool/AFP]

Oleh AFP dan Focus |

TOKYO — Inggris dan Jepang bersepakat untuk memperdalam kerja sama pertahanan dan keamanan setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Tokyo guna memajukan kemitraan strategis yang lebih luas yang mencakup kawasan Eropa-Atlantik dan Indo-Pasifik.

Pembicaraan pada 1 Februari tersebut berfokus pada penguatan keamanan kolektif, perluasan kerja sama di bidang siber dan antariksa, serta penguatan hubungan industri pertahanan, di tengah upaya kedua pemerintah merespons meningkatnya tantangan keamanan regional dan global.

"Kami telah menetapkan prioritas yang jelas untuk membangun kemitraan yang lebih mendalam lagi di tahun-tahun mendatang," ucap Starmer saat berdiri di samping Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi usai pertemuan mereka.

"Hal itu mencakup kerja sama untuk memperkuat keamanan kolektif kami, baik di kawasan Euro-Atlantik maupun di Indo-Pasifik."

Takaichi mengatakan bahwa kedua pihak sepakat akan mengadakan pertemuan menteri luar negeri dan pertahanan antara Inggris dan Jepang pada akhir tahun ini.

Dia ingin membahas "kerja sama menuju pewujudan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, situasi di Timur Tengah, dan situasi di Ukraina" saat jamuan makan malam bersama Starmer pada 31 Januari, menjelang pembicaraan tersebut, tambahnya.

KTT tersebut menandai peluncuran resmi Kemitraan Siber Strategis, dengan kedua negara sepakat untuk memperluas kerja sama di bidang keamanan siber, termasuk berbagi informasi dengan tujuan melindungi infrastruktur nasional yang vital.

Para pemimpin juga sepakat untuk membentuk kerangka kerja konsultasi antariksa baru guna bertukar keahlian tentang teknologi satelit dan keamanan orbit.

Starmer tiba di Tokyo untuk kunjungan sehari setelah mengunjungi Tiongkok selama empat hari, menyusul kunjungan terbaru para pemimpin Barat lainnya yang ingin menyeimbangkan kembali hubungan dengan Beijing. Kunjungan Starmer ke Jepang menegaskan upaya London untuk memperkuat aliansi di Indo-Pasifik sekaligus tetap menjalin keterlibatan dengan Tiongkok.

Kunjungan Starmer ke Tiongkok

Dalam kunjungannya ke China pada 29 Januari, Starmer membahas beragam isu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang, dengan kedua pihak menekankan perlunya hubungan yang lebih erat.

Dia menandatangani serangkaian perjanjian, dengan Downing Street mengumumkan bahwa Beijing pada prinsipnya menyetujui pemberlakuan bebas visa bagi warga negara Inggris yang berkunjung ke Tiongkok hingga 30 hari, meskipun tanggal penerapannya belum ditetapkan.

Untuk menyeimbangkan pendekatannya terhadap Beijing, Starmer menyoroti skala hubungan ekonomi Inggris-Jepang. Jepang merupakan investor asing terbesar Inggris di luar Amerika Serikat dan Eropa, yang menopang sekitar 150.000 lapangan kerja, katanya.

Para pemimpin menandatangani kemitraan strategis industri yang berfokus pada energi bersih, meliputi pengembangan energi angin lepas pantai dan kolaborasi dalam energi fusi guna memperkuat ketahanan energi jangka panjang.

Lingkungan keamanan Jepang semakin memburuk

Jepang tengah menghadapi lingkungan keamanan yang semakin menantang, dengan meningkatnya tekanan dari Tiongkok, Korea Utara, dan Rusia di seluruh kawasan Indo-Pasifik, menurut Japan Times (JT) pada 29 Januari.

Tokyo merespons situasi tersebut dengan terus memperkuat postur pertahanannya sekaligus memperluas kemitraan keamanan, kata JT.

Inggris telah menjadi "mitra strategis penting, namun masih kurang dihargai," tambahnya. Perubahan ini mencerminkan meningkatnya penekanan Jepang pada mitra andal yang mampu berkontribusi terhadap keamanan regional.

Hubungan Tokyo dengan Beijing memburuk sejak Takaichi pada bulan November lalu menyatakan bahwa Jepang dapat melakukan intervensi militer apabila jika terjadi potensi serangan terhadap Taiwan. Tiongkok menganggap menganggap pulau demokratis yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut sebagai bagian dari wilayahnya.

Starmer dan Takaichi juga sepakat dalam pembahasan mengenai keamanan ekonomi bahwa penguatan rantai pasok, "termasuk mineral penting, sangat dibutuhkan," kata Takaichi.

Kekhawatiran kehilangan logam tanah jarang

Muncul kekhawatiran bahwa Beijing dapat mencekik ekspor logam tanah jarang yang krusial untuk memproduksi berbagai barang, mulai dari mobil listrik hingga rudal. Tiongkok, sebagai produsen terkemuka di dunia untuk mineral tersebut, mengumumkan kendali ekspor baru pada bulan Oktober untuk logam tanah jarang dan teknologi terkait.

Baik Inggris maupun Jepang memiliki "kepentingan yang jelas dalam menjaga perdagangan yang bebas dan dapat diprediksi," ujar Starmer.

Inggris, Jepang, dan Italia saat ini bersama-sama mengembangkan pesawat tempur generasi berikutnya di bawah Global Combat Air Program, menandai pergeseran bagi Tokyo setelah puluhan tahun bergantung pada pesawat militer buatan AS. Para mitra akan mempercepat kemajuan proyek tersebut, kata Takaichi.

Para mitra industri BAE Systems dan Mitsubishi Heavy Industries telah membentuk perusahaan patungan, Edgewing, untuk memimpin pengembangan proyek ini. Sebuah pesawat demonstrator supersonic diharapkan akan terbang pada tahun 2027, menjelang target produksi yang direncanakan dimulai pada tahun 2035.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link