Diplomasi

Korea Selatan dan Filipina sepakati berbagai kerja sama di bidang energi nuklir, pertahanan, dan industri strategis

Perjanjian tersebut memperluas kerja sama dari bidang pembangunan kapal dan mineral strategis hingga modernisasi militer serta rencana pembangunan pelabuhan antariksa di Filipina.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (kedua dari kiri), Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. (ketiga dari kiri), dan ibu negara kedua negara berpose untuk foto bersama di Manila pada 3 Maret. [Rolex Dela Pena/Pool/AFP]
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (kedua dari kiri), Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. (ketiga dari kiri), dan ibu negara kedua negara berpose untuk foto bersama di Manila pada 3 Maret. [Rolex Dela Pena/Pool/AFP]

Oleh Shirin Bhandari |

Korea Selatan dan Filipina menandatangani serangkaian perjanjian yang mencakup mineral penting, energi nuklir, dan kerja sama pertahanan selama kunjungan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung ke Manila pada awal Maret, seiring upaya kedua negara untuk mempererat hubungan ekonomi dan keamanan.

Lee menemui Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. untuk menekankan pentingnya kerja sama yang melampaui bidang perdagangan dan investasi di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah. Kunjungan tersebut menghasilkan kerangka kerja sama yang luas di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, industri pertahanan, modernisasi infrastruktur, hingga pertukaran teknologi.

Dalam Forum Bisnis Korea-Filipina, Lee mendesak sekitar 250 pemimpin bisnis untuk berinvestasi dalam berbagai peluang baru.

Sinergi antara Seoul dan Manila

"Filipina memiliki banyak mineral penting seperti nikel dan kobalt, sementara Korea memiliki teknologi manufaktur yang canggih,” kata Lee.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. (kanan) dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (kiri) berjabat tangan di Manila pada 3 Maret. [Rolex Dela Pena/Pool/AFP]
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. (kanan) dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (kiri) berjabat tangan di Manila pada 3 Maret. [Rolex Dela Pena/Pool/AFP]

“Berdasarkan struktur industri yang saling melengkapi ini, kedua negara akan mampu menciptakan sinergi yang kuat.”

Selain bahan baku, Lee menyoroti kerja sama di bidang pembangunan kapal yang semakin erat, dengan menyebut sejumlah kapal yang dibangun oleh HD Hyundai Heavy Industries di galangan kapal Subic sebagai contoh utama dari hubungan industri yang semakin berkembang.

Agenda kerja sama antara Korea Selatan dan Filipina juga mencakup bidang keamanan energi, khususnya pengembangan tenaga nuklir. Filipina berencana untuk mulai mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir komersial pada tahun 2032 guna menekan biaya listrik yang tinggi.

“Jika teknologi nuklir kelas dunia dan kemampuan pasokan energi bersih Korea digabungkan dengan berbagai upaya ini, kedua negara dapat bersama-sama membangun sistem energi yang stabil dan ramah lingkungan,” kata Lee.

Modernisasi militer Filipina

Sejalan dengan berbagai inisiatif ekonomi, sektor keamanan diperkirakan akan mengalami perluasan kerja sama seiring dengan berlanjutnya program modernisasi militer Filipina. Para kontraktor pertahanan Korea Selatan telah mengusulkan untuk memasok jet tempur KF-21, sementara Korea Aerospace Industries dijadwalkan untuk mengirimkan pesawat tempur FA-50 pada tahun 2028.

Upaya diplomatik tersebut berujung pada penandatanganan 10 nota kesepahaman antar-pemerintah yang mencakup bidang teknologi, pengadaan di sektor pertahanan, dan koordinasi kepolisian.

Secara terpisah, Badan Antariksa Filipina menandatangani perjanjian dengan perusahaan roket Korea Selatan, Perigee Aerospace, untuk mendukung kegiatan pelatihan dan peluncuran eksperimental, sebuah langkah penting dalam upaya mendirikan pelabuhan antariksa khusus di Filipina.

Lokasi Filipina yang berada di garis khatulistiwa dapat mengurangi kebutuhan bahan bakar dan memberikan rute penerbangan yang lebih aman di atas Samudra Pasifik, kata sejumlah pejabat.

Keamanan regional

Dalam pembicaraan mereka, Marcos dan Lee mengalihkan fokus ke masalah keamanan regional, termasuk ketegangan di Laut Tiongkok Selatan dan konflik di Timur Tengah.

“Kami berdua menyadari ketidakpastian yang semakin meningkat dalam perkembangan geopolitik,” kata Marcos, sambil menekankan pentingnya mempertahankan tatanan yang didasarkan pada aturan di wilayah maritim.

Saat menutup forum tersebut, Marcos berusaha meyakinkan para investor bahwa pemerintahannya sedang menggalakkan reformasi ekonomi untuk menyederhanakan prosedur bisnis.

“Di dunia yang berubah dengan cepat, ketangguhan tidak dibangun secara sendiri-sendiri, melainkan melalui kerja sama,” kata Marcos.

“Oleh karena itu, bekerja sama secara erat dengan mitra yang dapat diandalkan seperti Republik Korea merupakan langkah yang strategis sekaligus berlandaskan prinsip.”

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link