Keamanan

Perubahan strategi pertahanan udara Taiwan: dari "landak" jadi "neraka" dengan drone

Mengerahkan drone murah dalam jumlah besar dapat mengurangi risiko korban jiwa Taiwan dan menciptakan kekuatan tempur yang dahsyat melawan invasi Tiongkok, menurut lembaga kajian AS.

Ilustrasi memperlihatkan skenario "neraka" yang dipenuhi drone di Selat Taiwan. [Lockheed Martin]
Ilustrasi memperlihatkan skenario "neraka" yang dipenuhi drone di Selat Taiwan. [Lockheed Martin]

Oleh Jia Feimao |

Laporan Center for a New American Security (CNAS), berbasis di Washington, pada akhir Februari menyarankan agar Taiwan mengadopsi strategi pertahanan "Hellscape" (neraka) dengan sistem tanpa awak murah dalam jumlah besar yang terintegrasi dengan senjata konvensional untuk menciptakan jaringan tembakan pertahanan berlapis.

Konsep itu perlu menggabungkan sistem nirawak udara, permukaan, dan bawah air dengan pertahanan artileri darat, ranjau, dan pertahanan udara bergerak guna menghasilkan hujan tembakan lintas matra guna menangkal superioritas udara dan laut Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) dan menimbulkan kerugian besar sebelum pasukan musuh mencapai pantai.

Taiwan selama ini mengandalkan strategi "landak", tetapi pengalaman perang di Iran dan Ukraina menunjukkan drone mampu mengubah keseimbangan menyerang dan bertahan.

Laporan itu membagi konsep menjadi empat lapis operasi yang dirancang untuk melemahkan kekuatan tempur armada penyerang secara bertahap pada jarak yang berbeda-beda. "Di setiap tingkat, Taiwan bisa mengerahkan teknologi nirawak untuk mengeksploitasi kelemahan bawaan invasi amfibi, dengan jumlah dan intensitas serangan yang meningkat seiring armada Tiongkok mendekati garis pantai Taiwan," demikian tulisnya.

Pesawat nirawak antiradiasi buatan dalam negeri ditampilkan saat tur media di National Chung-Shan Institute of Science and Technology di Taichung, Taiwan, 14 Maret 2023. [Sam Yeh/AFP]
Pesawat nirawak antiradiasi buatan dalam negeri ditampilkan saat tur media di National Chung-Shan Institute of Science and Technology di Taichung, Taiwan, 14 Maret 2023. [Sam Yeh/AFP]

Saturasi drone

Di lapis terluar (dimulai sekitar 80 km dari Taiwan hingga sekitar 40 km lepas pantai), Taiwan bisa mengerahkan drone jarak jauh dan drone-umpan di samping sistem nirawak permukaan dan bawah air serta misil antikapal untuk melakukan serangan jenuh terhadap sistem pertahanan udara musuh.

Laporan itu menyebutkan bahwa dengan dihujani serangan campuran drone dan misil, pasukan Tiongkok tidak punya cukup waktu untuk membedakan mana rudal canggih mana drone-umpan dan terpaksa menembak semuanya. Situasi ini akan menguras misil pencegat di kapal, membuat armada semakin rentan terhadap serangan lanjutan.

Di tahap pendekatan akhir (dari sekitar 5 km lepas pantai hingga garis pantai), kendala medan akan memaksa armada pendaratan TPR mendekati garis pantai dalam kelompok-kelompok kecil. Pasukan pertahanan kemudian bisa meluncurkan misil jarak dekat, roket, dan drone ke arah kapal pendaratan yang mendekat.

Drone dapat memperkuat strategi pertahanan asimetris Taiwan yang ada, kata laporan itu. Para penulis menyarankan peningkatan produksi sistem nirawak dalam negeri dan mengadopsi pendekatan operasi yang lebih fleksibel, termasuk dengan mendirikan "Laboratorium Drone".

"Drone dapat melengkapi persediaan senjata mahal Taiwan yang terbatas dengan senjata massal yang jitu dan murah," demikian tulis laporan itu.

Produksi rendah

Namun, Taiwan perlu meningkatkan produksi drone secara drastis, laporan itu menambahkan. Taiwan kekurangan basis industri dalam negeri yang mampu memproduksi drone dalam skala besar dan memiliki tantangan institusional di dalam tubuh militer.

Taiwan memproduksi sekitar 8.000 hingga 10.000 drone kecil setiap tahun, terlalu sedikit untuk perang. Pemerintah hendak meningkatkan kapasitas produksi hingga 180.000 unit/tahun pada 2028.

Mengambil pelajaran dari Ukraina, para analis mengatakan stok drone Taiwan akan berkurang cepat saat konflik. Laporan US Naval Institute (USNI) tahun 2025 mengatakan tahap awal konflik dapat "menghabiskan ribuan [drone]" dalam sehari.

Militer Taiwan sedang mengkaji ulang strategi pertahanan udaranya dalam upaya beradaptasi. Mereka menekankan pada kemampuan pertahanan rudal dan kontra-drone.

Jika TPR kehilangan sekitar 40% kapal saat menerobos pertahanan berlapis, kemampuan komando dan tempur pasukan pendaratannya akan sangat menurun, kata Chieh Chung, peneliti di Association of Strategic Foresight, kepada Focus. Penurunan itu akan mengurangi kemungkinan berhasilnya pendaratan di pulau utama Taiwan.

Taiwan sudah mulai membangun struktur kekuatan "Hellscape", termasuk menempatkan misil antikapal dan meningkatkan kemampuan drone, kata platform analisis militer di Taiwan Maret lalu. Namun, platform itu meragukan TPR akan menunggu Taiwan membangun sistem yang diperlukan.

AI sangat penting

Kunci untuk membangun "Hellscape" tidak hanya terletak pada pengerahan drone murah dalam jumlah besar tetapi juga pada pengembangan kemampuan perang kawanan yang didukung kecerdasan buatan (AI), kata Chieh. Ini memungkinkan puluhan, bahkan ribuan, drone beroperasi secara terkoordinasi, membagi tugas, dan mengenali sasaran secara mandiri. Hasilnya adalah serangan bertubi-tubi dengan biaya yang relatif rendah.

"Jika kita hendak mengoordinasikan drone, decoy, atau bahkan persenjataan konvensional dalam jumlah besar guna melaksanakan serangan terkoordinasi, kita harus menggunakan AI," tambahnya.

Taktik kawanan-drone Taiwan berpusat pada seri "Mighty Hornet" yang dikembangkan National Chung-Shan Institute of Science and Technology (NCSIST). Meskipun "terbang kawanan" mampu dicapai, "serangan kawanan" masih menjadi fokus pengembangan ke depan, kata Chu-Hsiang Chiou, direktur Aerospace Research Institute di NCSIST, kepada Liberty Times pada bulan Januari.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link