Oleh Joyce Huang |
Di tengah melonjaknya ekspor drone, Taiwan hendak melipat-tigakan produksi dronenya pada 2030, yang menurut analis akan memperkuat pertahanan asimetrisnya terhadap serangan Tiongkok.
“Kami sangat yakin dengan prospek sektor ini dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang… saat ketegangan geopolitik mendorong sejumlah negara, termasuk Taiwan, untuk memperbesar armada drone mereka,” kata Gene Su, general manager Thunder Tiger Corp., kepada Focus.
Ia menambahkan peningkatan permintaan berasal dari luar maupun dalam negeri.
Thunder Tiger adalah produsen drone yang berkantor pusat di Taichung, Taiwan tengah.
![Perusahaan drone asal Taiwan, Thunder Tiger, meluncurkan drone bawah laut terbarunya, SeaShark 800, pada akhir April. [Atas izin Thunder Tiger Corp.]](/gc9/images/2026/05/06/55973-pix_3__courtesy_of_thunder_tiger_-370_237.webp)
Lonjakan produksi drone
Pernyataan Su mencerminkan visi Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai. Dalam rapat kabinet akhir April, Cho mengatakan Taiwan akan melakukan investasi lima tahun sebesar NT$44,2 miliar (US$1,4 miliar) guna mendorong nilai produksi industri drone hingga NT$40 miliar (US$1,27 miliar) pada 2030.
Menurut Su, hampir setengah dari investasi itu, yakni NT$20 miliar (US$636 juta), diperkirakan akan dialokasikan untuk pembelian drone dwiguna yang dirancang untuk keperluan sipil oleh polisi atau pemadam kebakaran, tetapi dapat dimodifikasi untuk kebutuhan militer.
Berdasarkan statistik Kementerian Perekonomian Taiwan pada akhir April, produksi tahunan industri ini—mencakup penjualan komponen maupun unit drone utuh—melonjak lebih dari dua kali lipat, dari NT$5 miliar (US$158 juta) pada 2024 menjadi NT$12,9 miliar (US$410 juta) pada 2025.
Nilainya diproyeksikan mencapai NT$20 miliar (US$636 juta) pada 2026.
Strategi "medan neraka"
Dengan adanya prakarsa pemerintah, industri ini berharap dapat mengisi pasar dalam negeri yang hingga kini masih kekurangan pasokan, kata Su dari Thunder Tiger.
Menurut Su, pemerintah Taiwan akan menerapkan konsep pertahanan “medan neraka” yang ditingkatkan setelah pelajaran terbaru dari perang AS-Israel melawan Iran.
Selama beberapa pekan, Iran meluncurkan drone Shahed murah untuk menyerang atau menguras rudal jet tempur AS yang mahal atau menghantam infrastruktur, termasuk pembangkit listrik dan ladang minyak di negara-negara tetangga, tambahnya.
Konsep operasi “medan neraka” di Selat Taiwan “memanfaatkan tembakan gencar dari berbagai arah oleh drone dan sistem nirawak lainnya untuk melemahkan armada invasi Tiongkok serta mengganggu pendaratan unit amfibi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) di pantai,” demikian laporan Center for a New American Security pada bulan Februari.
Penerapan konsep itu menuntut Taiwan memproduksi drone tempur dalam skala yang lebih besar daripada saat ini, kata Su.
Sebagai contoh, dengan lini perakitan yang inovatif, Thunder Tiger dapat memproduksi ratusan drone udara dan puluhan drone selam setiap bulan dengan biaya hanya sepersekian dari persenjataan tradisional, tambahnya.
“Perang di masa depan akan sepenuhnya berfokus pada perang atrisi. Negara-negara dengan kapasitas produksi drone terbesar akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan lebih lama daripada lawan,” kata Su.
Thunder Tiger belum lama ini meluncurkan lini drone terbaru Papa DELTA, yang terinspirasi dari drone militer LUCAS milik AS, serta drone bawah laut SeaShark 800. Perusahaan tersebut membidik pasar Taiwan dan negara-negara dalam rantai pulau terdepan, seperti Jepang dan Filipina.
Pengadaan drone
Pada bulan April, perusahaan tersebut memenangkan dua kontrak pengadaan drone dari militer Taiwan. Pihak militer berencana membeli hampir 50.000 unit hingga tahun 2027 untuk lima jenis drone, dengan drone FPV (first-person-view) Grup 1 menjadi porsi terbesar pembelian.
Drone FPV Overkill buatan Thunder Tiger dinyatakan layak untuk digunakan oleh pemerintah dan militer AS setelah meraih sertifikasi Blue UAS dari Dephan AS pada tahun lalu.
Su memperkirakan permintaan domestik untuk persenjataan asimetris, terutama drone tempur, akan semakin besar setelah Taiwan mengesahkan usulan anggaran militer khusus senilai NT$1,25 triliun (US$40 miliar) untuk delapan tahun ke depan. Sampai sekarang usulan ini mandek karena ditentang pihak oposisi yang menguasai parlemen Taiwan.
Rancangan anggaran itu akan memadukan pembelian dari luar negeri dan pengadaan dalam negeri, termasuk sekitar 200.000 unit pesawat terbang tanpa awak.
Meski demikian, industri drone Taiwan menghadapi tantangan besar dalam upaya ekspansinya, seperti terbatasnya kapasitas produksi serta ketergantungan pada teknologi luar negeri atau bahan baku dari Tiongkok, mengingat dominasi Beijing dalam rantai pasok drone global, demikian laporan Nikkei Asia.
Momentum ekspor
Menurut Su, peluang Taiwan membangun rantai pasok drone “non-merah” yang bebas dari komponen dan kendali Tiongkok akan terbentuk ketika pihak sekutu yang memiliki kekhawatiran terhadap keamanan siber berhenti memesan drone buatan Tiongkok.
Menurutnya, ekspor drone Taiwan akan terus meningkat seiring upaya negara-negara lain memulihkan stok atau membangun armada drone mereka.
Data resmi menunjukkan ekspor unit drone utuh Taiwan meningkat 21 kali lipat hingga mencapai ND$2,95 miliar (US$93,8 juta) pada tahun lalu.
Didorong permintaan dari Eropa Tengah dan Timur, ekspor drone Taiwan kembali meningkat hingga hampir US$116 juta pada kuartal pertama 2026, melampaui total sepanjang tahun lalu, menurut data tersebut.
Ceko dan Polandia menjadi dua pembeli terbesar, masing-masing mencatat penjualan sebesar US$100 juta dan US$11,8 juta pada kuartal pertama. Keduanya dianggap sebagai pintu masuk untuk pengiriman selanjutnya ke Ukraina.
![Wakil Presiden Taiwan Hsiao Bi-khim, kiri, mengunjungi drone Thunder Tiger dan teknologi utama lainnya di Asia UAV AI Innovation Application R&D Center di Chiayi, Taiwan, 26 Januari. [Atas izin Thunder Tiger Corp.]](/gc9/images/2026/05/06/55971-pix_1__courtesy_of_thunder_tiger_-370_237.webp)