Politik

Ketua KMT Taiwan berencana temui Xi Jinping dalam beberapa hari ke depan

Pertemuan antara Cheng Li-wun dan Xi Jinping dapat membentuk narasi lintas selat menjelang KTT Tiongkok-AS serta di tengah perdebatan pertahanan di Taiwan.

Foto gabungan ini menampilkan Ketua Partai Kuomintang Taiwan Cheng Li-wun (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan). Cheng dijadwalkan mengunjungi Tiongkok, sementara kemungkinan pertemuan dengan Xi belum dikonfirmasi. [I Hwa Cheng, Lintao Zhang/AFP/Focus]
Foto gabungan ini menampilkan Ketua Partai Kuomintang Taiwan Cheng Li-wun (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan). Cheng dijadwalkan mengunjungi Tiongkok, sementara kemungkinan pertemuan dengan Xi belum dikonfirmasi. [I Hwa Cheng, Lintao Zhang/AFP/Focus]

Oleh Jia Feimao |

Ketua partai oposisi utama Taiwan dijadwalkan mengunjungi Tiongkok, yang berpotensi menggelar pertemuan penting dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping.

Ketua Partai Kuomintang (KMT) Cheng Li-wun berencana memimpin delegasi ke Tiongkok pada 7–12 April. Sejak terpilih enam bulan lalu, ia berulang kali menyatakan minat untuk berdialog dengan Xi, bahkan mengatakan kepada The Economist bahwa masyarakat Taiwan seharusnya menerima bahwa mereka semua adalah “orang Tiongkok.”

Cheng mengadopsi sikap kontroversial yang cenderung sejalan dengan Beijing, meskipun Taiwan akan menggelar pemilu lokal tahun ini. Pihak internal KMT mengkhawatirkan potensi reaksi negatif pemilih, mengingat kurang dari 3% warga Taiwan dalam jajak pendapat saat ini menyatakan diri sebagai “orang Tiongkok."

Hung Hsiu-chu merupakan ketua KMT terakhir yang mengunjungi Tiongkok, pada tahun 2016.

Sebagian besar responden (62,9%) dalam survei di Taiwan pada Juli lalu mengidentifikasi diri sebagai orang Taiwan, sementara hanya 2,3%—terendah dalam sejarah—yang mengidentifikasi diri sebagai orang Tiongkok, menurut temuan jajak pendapat National Chengchi University (NCCU). [Pusat Studi Pemilihan NCCU]
Sebagian besar responden (62,9%) dalam survei di Taiwan pada Juli lalu mengidentifikasi diri sebagai orang Taiwan, sementara hanya 2,3%—terendah dalam sejarah—yang mengidentifikasi diri sebagai orang Tiongkok, menurut temuan jajak pendapat National Chengchi University (NCCU). [Pusat Studi Pemilihan NCCU]

Pertemuan dengan Xi belum dikonfirmasi

Lembaga penyiaran pemerintah Tiongkok, CCTV, melaporkan pada 30 Maret bahwa Xi telah menyampaikan undangan resmi. Cheng dijadwalkan tiba di Beijing pada 9 April, tetapi kedua pihak belum mengungkapkan apakah Xi akan menerimanya secara langsung.

Saat pengumuman perjalanan tersebut, Cheng menyatakan kunjungan ini didasarkan pada Konsensus 1992, yakni kerangka kerja di mana kedua pihak mengakui satu Tiongkok, tetapi mempertahankan interpretasi terpisah mengenai maknanya.

Meskipun PKT tidak pernah memerintah Taiwan, Beijing mengklaim pulau berpenduduk 23 juta jiwa itu sebagai wilayahnya dan berulang kali mengancam akan mengambil alihnya.

Kunjungan Cheng mendatang telah memicu perdebatan di dalam negeri terkait waktu pelaksanaannya dan tujuan strategis Beijing.

Manuver strategis Tiongkok

Beijing berupaya memperlakukan Taiwan sebagai urusan internal Tiongkok, guna membujuk Washington agar menghentikan pengiriman senjata ke Taiwan, kata Wakil Menteri Dewan Urusan Daratan Liang Wen-chieh.

Waktu kunjungan ini dinilai sensitif karena Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan bertemu dengan Xi pada pertengahan Mei. Para analis menilai Beijing dapat memanfaatkan diskusi Cheng-Xi—jika terjadi—untuk membentuk narasi menjelang KTT tersebut.

Beijing tengah memberi sinyal kepada Washington bahwa KMT adalah mitra utama dialognya di Taipei, bukan Presiden Lai Ching-te, menurut Chang Chun-hao, profesor ilmu politik di Tunghai University, Taichung, Taiwan, kepada BBC.

Lai berasal dari Partai Progresif Demokratik (DPP).

Dalam pertemuannya dengan Trump, Xi dapat menyatakan bahwa bantuan militer AS kepada Taiwan “merusak status quo kawasan yang sebenarnya mulai stabil” yang dibangun oleh Xi dan Cheng, tulis analis Hsu Hsiao-chiang di Taiwan Strategic Simulation Society, dalam United Daily News.

Perdebatan anggaran pertahanan

Kunjungan ini juga bertepatan dengan perdebatan domestik yang sengit mengenai anggaran pertahanan. Presiden Lai telah mengusulkan anggaran khusus pertahanan sebesar 1,25 triliun dolar Taiwan (sekitar US$39,1 miliar) untuk pembelian senjata AS selama periode delapan tahun, tetapi masih terhambat di parlemen yang dikuasai oposisi.

KMT mengajukan alternatif paket yang lebih kecil, sebesar 380 miliar dolar Taiwan (US$11,9 miliar), yang difokuskan pada sistem senjata yang telah disetujui sebelumnya. DPP menuduh oposisi menukar kepentingan pertahanan nasional demi akses politik ke Beijing.

Para kritikus menilai keseimbangan tradisional KMT antara Washington dan Beijing kini telah condong ke Tiongkok di bawah kepemimpinan Cheng.

Sung Kuo-cheng, peneliti senior di National Chengchi University (NCCU) di Taipei, menulis di Up Media bahwa KMT di bawah Cheng menyelaraskan diri dengan strategi Beijing untuk “memanfaatkan Taiwan dalam menghadapi AS.”

Beijing telah "menunggu satu dekade" untuk mendapatkan ketua KMT yang begitu pro-Beijing dan skeptis terhadap Washington, ujar Yeh Yao-yuan, profesor ilmu politik di University of St. Thomas di Houston, Texas, kepada Focus.

Tantangan bagi KMT

Namun, perdebatan internal KMT dan temuan jajak pendapat yang terus menunjukkan sentimen negatif dapat menggagalkan upaya Cheng mempromosikan agenda yang lebih bersimpati kepada Beijing.

Perubahan arah ke Tiongkok juga memperdalam perpecahan internal di dalam KMT sendiri.

Wali Kota Taichung Lu Shiow-yen, anggota KMT sekaligus kandidat potensial presiden 2028, mengambil sikap lebih tegas dalam isu pertahanan. Ia baru-baru ini mengunjungi AS untuk membahas pengadaan senjata dan menyatakan paket pertahanan khusus yang diusulkan seharusnya berkisar antara 800 miliar hingga 1 triliun dolar Taiwan, lapor Central News Agency.

Sementara itu, opini publik di Taiwan menunjukkan minimnya dukungan terhadap identitas pan-Tiongkok. Survei NCCU pada Juli lalu mencatat hanya 2,3% responden yang mengidentifikasi diri sebagai orang Tiongkok—angka terendah sejak jajak pendapat NCCU dimulai pada 1992—dibandingkan 62,9% yang mengidentifikasi diri sebagai orang Taiwan.

Selain itu, survei My Formosa pada 1 April menunjukkan 56,1% responden menilai pertemuan Cheng-Xi akan merugikan prospek elektoral KMT, sementara 54,5% menyatakan tidak mempercayai Cheng.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link