Oleh Zarak Khan |
Serangan rudal Iran yang gagal ke pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Samudra Hindia menuai kecaman keras dari para pejabat Barat. Mereka memperingatkan bahwa tindakan "nekat" Iran berisiko mengeskalasi tegangan regional dan membahayakan stabilitas ekonomi dunia.
Rezim Iran pada 20 Maret menembakkan dua rudal balistik ke Diego Garcia, fasilitas militer penting di Kepulauan Chagos. Tidak satu pun mengenai sasaran.
Serangan sia-sia
Salah satu rudal jatuh sendiri, sementara kapal perang AS menjatuhkan yang lain dengan rudal pencegat SM-3, dilaporkan Wall Street Journal pada 22 Maret, mengutip pejabat AS.
Fasilitas militer itu memainkan peran penting dalam operasi pendukung di seluruh kawasan Timur Tengah, Afrika Timur, dan Indo-Pasifik.
![Marinir AS melaksanakan latihan intai sewaktu simulasi serbuan amfibi di Diego Garcia pada 24 Maret. [Praka Victor Gurrola/Korps Marinir AS]](/gc9/images/2026/04/14/55346-9582070-370_237.webp)
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mengecam upaya serangan itu sebagai bagian dari pola "ancaman sembrono Iran".
Kepada BBC, Cooper mengatakan bahwa Pemerintah Inggris menyadari "ancaman Iran yang semakin meningkat terhadap pelayaran internasional" serta terhadap mitra London di kawasan Teluk.
Juru bicara Kemenhan Inggris lebih lanjut menyebut perilaku rezim itu "melampiaskan amarah di seluruh wilayah," menyebut upaya Iran "menyandera" Selat Hormuz membahayakan secara langsung kepentingan Inggris dan para sekutu.
Serangan itu terjadi menjelang pengumuman 20 Maret bahwa Inggris akan mengizinkan AS menggunakan pangkalannya, termasuk di Diego Garcia, secara lebih luas "guna melemahkan lokasi dan kemampuan rudal [Iran] yang digunakan untuk menyerang kapal di Selat Hormuz."
Taktik tekanan
Rezim Iran mengalami kerugian strategis yang signifikan setelah dimulainya Operasi Epic Fury pada 28 Februari. Kampanye itu meningkat dari serangan terbatas menjadi penghancuran infrastruktur militer dan politik Iran secara sistematis.
Melalui serangan jarak jauh seperti yang dilakukan terhadap Diego Garcia, Iran tampaknya menekan Amerika Serikat agar menghentikan operasinya.
Can Kasapoğlu, peneliti senior di Hudson Institute, lembaga pemikir yang berbasis di Washington, mengatakan peluncuran itu menunjukkan bahwa Iran hendak "menguji rudal jarak jauhnya dalam kondisi operasional, dan menargetkan lokasi yang sebelumnya dianggap di luar jangkauan Teheran."
"Upaya itu sejalan dengan tujuan geopolitik Iran untuk memberikan dampak strategis dalam skala global," kata Kasapoğlu dalam analisis 24 Maret, menambahkan bahwa tindakan tersebut dimaksudkan menekan Pemerintah AS agar menghentikan serangannya.
Meskipun kemampuan rudal Iran mencapai sasaran yang begitu jauh masih diragukan, rudal yang gagal pada 20 Maret dilaporkan berhasil menempuh jarak sekitar 3.000 km dari pangkalan peluncurannya.
Insiden ini meningkatkan kekhawatiran atas meningkatnya jangkauan persenjataan Teheran. Diego Garcia berjarak hampir 4.000 km dari Iran.
Meskipun Iran sebelumnya mengklaim bahwa jangkauan rudalnya dibatasi hingga 2.000 km, Angkatan Bersenjata Israel kini menegaskan bahwa rezim itu telah meluncurkan senjata yang mampu menempuh jarak hingga 4.000 km, demikian dilaporkan The Guardian pada 23 Maret.
Sidharth Kaushal, peneliti senior di Royal United Services Institute, lembaga pemikir yang berbasis di London, mengatakan kepada BBC pada 23 Maret bahwa Iran "sudah lama diketahui" memiliki program rudal balistik jarak jauh. Teheran berpotensi mampu mencapai sasaran di seluruh Eropa.
Eropa dan AS sudah lama mempersiapkan diri menghadapi ancaman semacam itu, kata para analis.
Amerika Serikat mengoperasikan sistem Aegis Ashore di Polandia dan Rumania. Sistem ini memiliki rudal pencegat SM-3 yang mampu melawan rudal jarak menengah dan jarak jauh, menurut analisis Euractiv pada 25 Maret.
"Angkatan laut Eropa, di samping aset maritim AS di kawasan, juga mengerahkan teknologi pencegat di Laut Tengah, termasuk rudal pencegat Aster 30B1 dan Aster 30B1NT buatan Prancis-Italia," laporan itu menambahkan.
Meskipun ambisi Iran semakin besar, para analis menunjukkan masih adanya keterbatasan teknis.
Analisis 25 Maret oleh Janes menyebut kegagalan salah satu rudal dan pencegatan rudal yang lain mengungkap "batasan kemampuan" Iran, terutama dalam kondisi operasional.
Peningkatan jangkauan rudal Iran "memperbesar galat" sistem panduan, kata Decker Eveleth, analis riset di CNA Corporation yang berbasis di Washington.
"Betul bahwa rudalnya dapat mencapai London," ujar Eveleth kepada BBC, tetapi senjata pada jarak sejauh itu "tidak mudah diarahkan".
Penindakan keras, eksekusi
Perkembangan ini terjadi di tengah 47 tahun pemerintahan otoriter di Iran, dengan penindasan politik yang berkepanjangan memicu gelombang kerusuhan berulang.
Unjuk rasa di seluruh negeri meningkat pada bulan Januari, ketika pihak berwajib melancarkan penindakan besar-besaran yang ditandai dengan penangkapan massal dan penggunaan kekuatan mematikan. Demonstrasi itu, yang awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi, berkembang cepat menjadi protes anti-pemerintah yang lebih luas.
Pihak berwenang Iran mengakui lebih dari 3.000 orang tewas selama kerusuhan itu, sementara Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS melaporkan 6.872 orang tewas yang sebagian besarnya oleh pasukan keamanan.
Pada bulan Maret, Iran mengeksekusi tiga orang, termasuk juara gulat remaja, atas tuduhan terlibat unjuk rasa. Kelompok HAM memprotes pengakuan paksa dan persidangan yang tidak adil.
![Diego Garcia, pangkalan militer gabungan Inggris-AS di Samudra Hindia, tampak di edaran foto tanggal 9 Februari 2006 oleh Angkatan Laut AS. [Wikipedia]](/gc9/images/2026/04/14/55345-diegogarcia-370_237.webp)