Keamanan

Kegagalan CM-302 di Iran ungkap keretakan dalam ekspor rudal Tiongkok

Gagalnya serangan salvo Iran yang menggunakan rudal 'pembunuh kapal induk' buatan Tiongkok semakin memperkuat keraguan global terhadap keandalan dan kredibilitas sistem pertahanan ekspor Beijing.

Sebuah kapal perang Angkatan Laut AS meluncurkan rudal dalam misi Epic Fury pada bulan Maret, dalam cuplikan video dari akun X Komando Pusat AS.
Sebuah kapal perang Angkatan Laut AS meluncurkan rudal dalam misi Epic Fury pada bulan Maret, dalam cuplikan video dari akun X Komando Pusat AS.

Oleh Zarak Khan |

Kegagalan rudal antikapal supersonik CM-302 buatan Tiongkok yang digunakan oleh Iran telah menghancurkan mitos yang tersisa tentang “ketangguhan militer” Tiongkok dan meningkatkan sorotan terhadap ekspor pertahanan Beijing.

Dalam serangan salvo skala besar oleh Iran yang menggunakan rudal supersonik CM-302 terhadap gugus tempur kapal induk AS yang dipimpin oleh USS Abraham Lincoln, sistem intersepsi berhasil melumpuhkan seluruh rudal yang datang. Hal ini dilaporkan pada bulan Maret oleh Global Defense Corp, sebuah platform berita yang berfokus pada pertahanan.

Iran telah terlibat dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari.

Salah tembak dan penyimpangan

“Rudal-rudal ini, yang gencar dipromosikan Beijing sebagai ‘pembunuh kapal induk’, gagal total. Tidak satu pun yang mengenai sasaran,” demikian isi laporan tersebut. Sistem pertahanan Aegis milik AS disebut berhasil mencegat sejumlah rudal.

Model rudal antikapal supersonik CM-302 Tiongkok dipamerkan di Zhuhai Airshow 2016. Beijing mempromosikan rudal ini sebagai senjata yang mampu menargetkan kapal induk. [People’s Daily]
Model rudal antikapal supersonik CM-302 Tiongkok dipamerkan di Zhuhai Airshow 2016. Beijing mempromosikan rudal ini sebagai senjata yang mampu menargetkan kapal induk. [People’s Daily]

Kekurangan lainnya juga berasal dari faktor internal.

Rudal CM-302 “gagal di tengah penerbangan, baik menyimpang dari sasaran akibat kegagalan sistem pemandu atau mengalami malfungsi pada ketinggian jelajah, sehingga tidak mampu mencapai kecepatan Mach 3 pada fase terminal,” lapor Global Defense Corp.

Sebelum peluncuran serangan AS terhadap Iran, Reuters melaporkan pada 24 Februari bahwa Teheran hampir merampungkan kesepakatan untuk membeli rudal CM-302 guna “secara signifikan meningkatkan kemampuan serangan Iran dan menimbulkan ancaman terhadap pasukan Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.”

Negosiasi antara Teheran dan Beijing telah berlangsung setidaknya selama dua tahun dan meningkat tajam setelah konflik 12 hari antara Israel dan Iran pada bulan Juni, menurut Reuters.

Perusahaan milik negara Tiongkok, China Aerospace Science and Industry Corp., memasarkan CM-302 sebagai “rudal antikapal terbaik yang tersedia di pasar senjata dunia.”

Namun, kinerjanya yang buruk melawan gugus tempur kapal induk AS disebut oleh para analis sebagai kemunduran yang signifikan bagi Teheran dan Beijing.

Kredibilitas ekspor menurun

Kelemahan persenjataan Tiongkok di Iran mengingatkan pengamat pada buruknya kinerja sistem pertahanan Tiongkok di Venezuela dan Pakistan baru-baru ini, kata para analis.

Operasi pada 28 Februari oleh pasukan AS dan Israel di Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi Ali Khamenei dan beberapa pejabat senior, mengungkap kelemahan dalam jaringan pertahanan udara Iran.

Sistem rudal darat-ke-udara HQ-9B buatan Tiongkok yang ditempatkan di sekitar Teheran terbukti tidak efektif, menurut laporan pertahanan regional.

Di Venezuela, radar anti-siluman JY-27A buatan Tiongkok menjadi bagian dari sistem pertahanan udara berlapis bersama platform buatan Rusia.

Namun, serangan operasi khusus AS pada bulan Januari berhasil menembus jaringan tersebut. Pasukan komando tersebut menewaskan pengawal diktator Nicolás Maduro dan membawa dirinya beserta istrinya ke Amerika Serikat untuk diadili.

Pada Mei lalu, India dan Pakistan terlibat konflik selama empat hari, di mana kedua pihak menggunakan berbagai sistem persenjataan canggih.

Pakistan, pembeli terbesar perangkat keras militer Tiongkok di dunia, mengerahkan radar dan sistem HQ-9B buatan Tiongkok, namun pejabat India kemudian menyatakan bahwa pasukan mereka berhasil menghantam sejumlah target di wilayah Pakistan.

Keraguan sistemik

Terungkapnya kelemahan CM-302 di Iran dapat menandai kemunduran bagi industri pertahanan Tiongkok, yang telah menghadapi meningkatnya skeptisisme dari pelanggan, menurut para pengamat militer. Kredibilitas militer Tiongkok juga bisa ikut terdampak.

Data industri persenjataan yang dihimpun oleh Stockholm International Peace Research Institute menunjukkan bahwa ekspor senjata Tiongkok mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir.

Keraguan terhadap keandalan perangkat keras Tiongkok diperparah oleh gejolak internal dalam tubuh militer Tiongkok, termasuk pembersihan terhadap perwira senior Tentara Pembebasan Rakyat yang bertanggung jawab atas pengadaan dan pasukan rudal.

Perkembangan ini dapat mengindikasikan adanya kelemahan institusional yang lebih dalam, kata para analis.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link