Oleh Zarak Khan |
Semakin eratnya kerja sama teknologi antara Tiongkok dan Iran mengubah keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah, di mana sistem pengawasan dan navigasi canggih milik Beijing meningkatkan kemampuan Teheran dalam melancarkan serangan presisi.
Kerja sama tersebut memungkinkan Iran untuk meningkatkan akurasi rudal dan drone-nya, sehingga memicu kekhawatiran atas meningkatnya daya mematikan operasinya terhadap sasaran militer maupun sipil.
Dukungan tersembunyi
Meskipun transfer senjata skala besar dari Tiongkok ke Iran menurun akibat sanksi internasional pada tahun 1990-an dan 2000-an, dukungan saat ini telah beralih ke saluran yang kurang terlihat. Dukungan Beijing kini mengalir “dalam bentuk komponen yang dapat digunakan baik dalam teknologi sipil maupun rudal dan drone,” demikian dilaporkan The New York Times pada 15 April.
Pada Februari 2025, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap enam entitas yang berbasis di Tiongkok dan Hong Kong, yang dituduh memasok material untuk program rudal balistik dan pesawat tak berawak Iran. Hal ini menunjukkan kekhawatiran Washington terhadap rantai pasokan tidak langsung yang mendukung kemajuan militer Teheran.
![Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi (kanan) bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi di Tianjin, Tiongkok, pada Juli 2025. [Kementerian Luar Negeri Tiongkok]](/gc9/images/2026/04/21/55648-focus_photo_2-370_237.webp)
Kerja sama militer antara Tiongkok dan Iran semakin erat sejak penandatanganan perjanjian kerja sama komprehensif pada tahun 2021, dengan para analis mencatat adanya percepatan koordinasi menjelang operasi militer AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.
Rantai serangan
Penilaian terbaru menunjukkan peran Tiongkok tidak hanya sebatas penyediaan pasokan material. Dalam laporan tanggal 20 Maret yang diterbitkan oleh Small Wars Journal disebutkan Beijing telah “memberikan kontribusi yang signifikan dalam bentuk dukungan intelijen, navigasi satelit, sistem radar, dan teknologi perang elektronik yang memperkuat kemampuan penargetan Iran.”
Citra satelit komersial Tiongkok, sistem navigasi BeiDou, dan teknologi ganda lainnya membantu Iran membangun jaringan pengawasan, pelacakan, dan pemandu dalam rantai serangan modern—sesuatu yang akan sulit dipertahankan Teheran tanpa dukungan Partai Komunis Tiongkok.
Pentagon mengatakan pada bulan Desember bahwa perusahaan satelit komersial yang berbasis di Tiongkok telah terlibat dalam transaksi bisnis dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), sehingga memperkuat kekhawatiran bahwa aset ruang angkasa dan teknologi Tiongkok yang secara terang-terangan bersifat sipil justru mendukung ekosistem penargetan Iran.
Satelit memaparkan target
Inti dari kemampuan yang terus berkembang ini adalah integrasi platform satelit komersial dan infrastruktur navigasi Tiongkok.
Perusahaan Tiongkok MizarVision telah merilis citra satelit beresolusi tinggi yang menampilkan aset militer AS dan sekutunya di kawasan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan pejabat pertahanan Barat terkait implikasi operasional dari intelijen yang tersedia secara komersial. Platform semacam itu dapat membantu Iran menargetkan objek “seukuran 0,3 meter persegi,” kata para pakar militer kepada ABC News pada 6 April.
“Kami melihat sejumlah sasaran, termasuk pesawat E-3 Sentry milik AS, dihantam dengan presisi yang luar biasa. Pasukan kami akan menanggapi ancaman ini dengan sangat serius -- dan memang seharusnya demikian,” kata Mayor Jenderal Gus McLachlan, pensiunan jenderal militer Australia, sambil mengutip serangan terhadap pesawat komando dan kendali AS di pangkalan udara Saudi pada akhir Maret.
Pada bulan Februari, MizarVision merilis citra satelit yang memperlihatkan sebelas jet tempur F-22 AS yang ditempatkan di Pangkalan Udara Uvda, Israel, demikian dilaporkan The Times of Israel pada 26 Februari, yang menyoroti sejauh mana intelijen sumber terbuka atau komersial mengungkap posisi militer yang sensitif.
BeiDou mengarahkan rudal
Para analis semakin sering menyebut kemungkinan penggunaan Sistem Satelit Navigasi BeiDou milik Tiongkok oleh Iran sebagai faktor di balik peningkatan akurasi pemandu rudal.
Sistem ini, yang dikembangkan Beijing sebagai alternatif Sistem Penentuan Posisi Global (GPS), menyediakan layanan penentuan posisi, navigasi, dan penentuan waktu secara global, serta telah menjadi landasan utama dalam upaya Tiongkok untuk memperluas jangkauan teknologinya.
“Selama konflik yang sedang berlangsung, rudal Iran ‘lebih akurat dibandingkan dengan perang yang terjadi delapan bulan lalu, sehingga memunculkan banyak pertanyaan mengenai sistem pemandu rudal-rudal tersebut,’” kata Alain Juillet, mantan direktur intelijen di badan intelijen luar negeri Prancis, kepada podcast independen Prancis, Tocsin, pada bulan Maret.
Selain dampak langsung di medan perang, konflik ini juga memberi kesempatan kepada Beijing untuk menguji dan menyempurnakan sistem-sistemnya dalam kondisi nyata. Para peneliti mengatakan data yang dikumpulkan dari berbagai operasi di Iran dapat membantu Tiongkok mengevaluasi kinerja teknologinya dalam menghadapi platform militer Barat yang canggih.
“Konflik ini memungkinkan Tiongkok untuk ‘mengevaluasi keefektifan sistemnya dalam menghadapi pesawat tempur generasi kelima Amerika Serikat seperti F-35’,” kata Theo Nencini, peneliti di platform riset ChinaMed Project, kepada Al-Jazeera pada bulan Maret. Ia juga mencatat konflik tersebut telah membantu Tiongkok mengumpulkan data berharga mengenai kemampuan AS dalam mencegat rudal dan drone Iran yang dipandu oleh sistem BeiDou.
Biaya menjadi bumerang
Para analis mengatakan manfaat strategis dari kemitraan Iran-Tiongkok mungkin akan terimbangi oleh meningkatnya biaya ekonomi.
Meskipun Beijing mempertahankan hubungan yang membantu Iran bertahan dari perang dan sanksi, pada awal April, pihak berwenang Tiongkok membatasi kenaikan harga bahan bakar sebesar 420 yuan per ton untuk bensin dan 400 yuan untuk solar — jauh di bawah kenaikan sebesar 800 yuan dan 770 yuan yang seharusnya dipicu oleh mekanisme penetapan harga Tiongkok, menurut laporan Wall Street Journal tanggal 7 April.
Langkah tersebut mempertegas dilema politik yang dihadapi pemimpin Tiongkok Xi Jinping, karena beban dukungan terhadap Teheran akhirnya membebani konsumen di dalam negeri.
CNN melaporkan pada tanggal 11 April bahwa intelijen AS mengindikasikan Tiongkok sedang bersiap untuk mengirimkan MANPADS baru, atau sistem rudal anti-pesawat yang diluncurkan dari bahu, ke Iran dalam beberapa minggu ke depan, sebagai tanda bahwa dukungan Beijing mungkin telah melampaui teknologi penggunaan ganda menuju upaya yang lebih langsung untuk membantu Teheran memperkuat pertahanannya.
Laporan tersebut mengatakan ada indikasi Beijing berusaha mengalihkan pengiriman tersebut melalui negara ketiga untuk menyamarkan asal-usulnya.
![Foto media pemerintah Tiongkok memperlihatkan peluncuran satelit baru untuk Sistem Satelit Navigasi BeiDou-3 di Provinsi Sichuan pada tahun 2024. [Global Times/X]](/gc9/images/2026/04/21/55647-photo_1_focus-370_237.webp)