Kriminalitas & Keadilan

AS perluas sanksi terhadap perusahaan Tiongkok terkait dengan dagang minyak gelap Iran

Langkah terbaru ini bagian dari kampanye 'tekanan maksimum' Washington terhadap pendapatan minyak dan jaringan penghindaran sanksi Iran.

Pemandangan pelabuhan Qingdao di provinsi Shandong, Tiongkok. Pada 1 Mei, Washington menjatuhkan sanksi kepada Qingdao Haiye Oil Terminal Co., Ltd. karena menerima puluhan kali pengiriman minyak asal Iran pada 2025, dengan total puluhan juta barel. [X/Qingdao West Coast New Area]
Pemandangan pelabuhan Qingdao di provinsi Shandong, Tiongkok. Pada 1 Mei, Washington menjatuhkan sanksi kepada Qingdao Haiye Oil Terminal Co., Ltd. karena menerima puluhan kali pengiriman minyak asal Iran pada 2025, dengan total puluhan juta barel. [X/Qingdao West Coast New Area]

Oleh Zarak Khan |

Amerika Serikat meningkatkan kampanye sanksinya terhadap sektor minyak Iran, membidik perusahaan dan individu Tiongkok yang terlibat dalam jaringan penghindaran sanksi Teheran. Langkah ini membuktikan tekad Washington untuk menggagalkan upaya Beijing mempertahankan rantai pasokan minyak ilegal Iran.

Pada 1 Mei, Departemen Luar Negeri AS memberlakukan sanksi terhadap beberapa entitas yang berbasis di Tiongkok yang "terlibat dalam perdagangan minyak bumi dan produk minyak bumi Iran."

Tindakan ini menyoroti hal yang disebut pejabat AS sebagai pola yang terus terjadi saat pelaku komersial Tiongkok menghasilkan aliran pendapatan guna menunjang kegiatan regional Iran.

"Selama Iran masih menjual minyak untuk mendanai kegiatan destabilisasinya, Amerika Serikat tetap meminta pertanggungjawaban dari Iran dan semua mitranya yang mengakali sanksi," kata departemen itu.

Pada 26 April, pasukan AS mencegat kapal Sevan yang dikenai sanksi di Laut Arab dan memerintahkannya balik ke Iran. Kapal itu termasuk di antara 19 kapal armada bayangan yang dikenai sanksi oleh Depkeu AS karena mengangkut minyak dan gas Iran. [X/CENTCOM]
Pada 26 April, pasukan AS mencegat kapal Sevan yang dikenai sanksi di Laut Arab dan memerintahkannya balik ke Iran. Kapal itu termasuk di antara 19 kapal armada bayangan yang dikenai sanksi oleh Depkeu AS karena mengangkut minyak dan gas Iran. [X/CENTCOM]

Langkah ini diambil setelah keluar arahan Gedung Putih, Memorandum Presiden tentang Keamanan Nasional-2 (NSPM-2), pada Februari 2025. Memorandum itu memberlakukan kembali strategi "tekanan maksimum" yang bertujuan mengekang ambisi nuklir Iran, pengembangan rudal, dan dukungan terhadap kelompok teroris di seluruh Timur Tengah.

Tiongkok jadi sasaran

Pejabat AS mengatakan sanksi terbaru ini menyingkap entitas yang menggunakan "skema penghindaran canggih", termasuk pemindahan ilegal antar-kapal dan pengerahan "armada gelap" yang menggunakan praktik pengiriman yang menipu dan membahayakan perdagangan maritim yang sah.

Salah satu yang menjadi sasaran adalah Qingdao Haiye Oil Terminal Co. (QINGDAO HAIYE), operator terminal minyak bumi di Tiongkok yang menangani volume besar minyak mentah asal Iran.

Fasilitas itu menerima puluhan kali pengiriman pada 2025 saja, yang berjumlah puluhan juta barel minyak asal Iran, padahal ada pembatasan internasional, kata departemen itu dalam pernyataan tanggal 1 Mei.

Fasilitas yang berada di Pelabuhan Qingdao, provinsi Shandong, Tiongkok, itu menerima kargo dari berbagai kapal yang terlibat dalam pemindahan ilegal minyak mentah asal Iran yang dilakukan di lepas pantai Singapura, khususnya di batas pelabuhan luar bagian timur (EOPL). Otoritas AS mengidentifikasi area itu sebagai lokasi pemindahan minyak Iran secara diam-diam, menurut pernyataan tersebut.

Washington juga menjatuhkan sanksi kepada Xinchun Li, bos perusahaan itu dan warga negara Tiongkok, "karena secara sadar terlibat dalam transaksi signifikan untuk pembelian, akuisisi, penjualan, pengangkutan, atau pemasaran minyak bumi atau produk minyak bumi dari Iran."

AS memberi sanksi kepada dua perusahaan manajemen kapal atas "keterlibatan mereka dalam pengangkutan dan pembelian produk minyak bumi Iran."

Sanksi terbaru ini merupakan kelanjutan dari tindakan bulan Agustus lalu, ketika Washington menjatuhkan sanksi kepada Qingdao Port Haiye Dongjiakou Oil Products Co., operator terminal Tiongkok lainnya.

Pejabat AS mengatakan bahwa fasilitas itu "mengimpor setidaknya 65 juta barel minyak mentah asal Iran yang diangkut oleh sejumlah armada bayangan sejak Desember 2024," sebagian besar diangkut oleh kapal yang sudah kena sanksi AS.

Pada saat yang sama, pihak berwenang membidik Yangshan Shengang International Petroleum Storage and Transportation Co., yang berbasis di provinsi Zhejiang, Tiongkok.

Perusahaan itu terlibat dalam penerimaan kiriman dari tanker yang kena sanksi, termasuk Turaco, yang mengirim lebih dari 500.000 barel minyak mentah Iran terkait dengan National Iranian Oil Co.

Sanksi itu "melarang transaksi yang melibatkan Amerika Serikat melalui operator terminal, yang merupakan bagian dari pusat maritim besar Qingdao di Laut Kuning," kata Defense Post dalam analisisnya pada 3 Mei.

Tekanan meningkat

Secara terpisah, Departemen Keuangan AS meningkatkan kampanyenya di bawah Operasi Economic Fury, upaya lebih luas untuk mencekik pendapatan minyak dan keuangan Iran serta menghalangi pengadaan senjata.

Prakarsa ini menggabungkan sanksi dengan pelaksanaan maritim yang membidik kapal, seperti Touska dan Tifani, yang dicurigai Washington menyelundupkan minyak Iran.

Pada 1 Mei, Depkeu AS menjatuhkan sanksi kepada tiga perusahaan bursa valas Iran dan jaringan yang terkait karena memfasilitasi aliran keuangan rahasia terkait dengan penjualan minyak.

Sanksi ini merupakan kelanjutan dari tindakan sebelumnya yang "membidik mekanisme perbankan bayangan Iran, termasuk tempat pertukaran, perusahaan rahbar perbankan Iran, dan bursa aset digital yang digunakan untuk menghindari sanksi," menurut pernyataan departemen itu.

Pada 25 April, AS menjatuhkan sanksi kepada 19 kapal "armada bayangan", termasuk M/V Sevan, atas kegiatan terkait dengan "pengangkutan produk energi, minyak, dan gas Iran senilai miliaran dolar, termasuk propana dan butana, ke pasar luar negeri."

Pada 24 April, sanksi diberikan kepada Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co., Ltd. (Hengli), kilang minyak kecil independen milik swasta di Tiongkok, karena dituduh sebagai pembeli utama minyak mentah Iran senilai miliaran dolar.

"Kilang minyak kecil independen di Tiongkok terus memainkan peran penting dalam menopang ekonomi minyak Iran, dan Hengli adalah salah satu pelanggan terbesar Iran untuk minyak mentah dan produk minyak bumi lainnya," kata Depkeu AS pada 24 April.

"Operasi Economic Fury memberikan tekanan finansial yang besar pada Iran, menghambat agresinya di Timur Tengah, dan membantu mengekang ambisi nuklirnya," kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

"Kami akan terus mempersempit jaringan kapal, perantara, dan pembeli yang diandalkan Iran untuk mengangkut minyaknya ke pasar global," katanya.

Siapa pun yang terlibat akan dikenai sanksi, katanya.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link