Oleh Ha Er-rui |
Menteri Perang AS Pete Hegseth memaparkan pendekatan strategis Washington untuk kawasan Indo-Pasifik, dan tanggapannya terhadap ancaman militer Tiongkok, saat kesaksian di hadapan kongres pada akhir April.
Hegseth mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menangkal Tiongkok "melalui kekuatan, bukan konfrontasi", dengan tujuan utama menjaga kedamaian dan stabilitas regional.
"Tugas kita adalah memastikan Beijing melihat kekuatan militer AS yang tidak terbantahkan," ujar Hegseth kepada anggota legislatif.
Keseimbangan kekuatan
"Maksud kita melakukan hal itu bukanlah untuk mendominasi Tiongkok; ataupun mengekang atau mempermalukan mereka," kata Hegseth. "Alih-alih, tujuan kita sederhana: Mencegah siapa pun, termasuk Tiongkok, mendominasi kita atau sekutu kita."
![Jenderal (AD) AS Xavier T. Brunson, komandan Pasukan AS di Korea, memberi kesaksian di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat di Washington, DC, 21 April. [Daniela Lechuga/Angkatan Darat AS]](/gc9/images/2026/05/12/56076-brunson-370_237.webp)
Strategi itu bertujuan menciptakan "hubungan yang seimbang. Keseimbangan kekuatan yang memungkinkan kita semua -- semua negara -- menikmati kedamaian di Indo-Pasifik dengan perdagangan yang terbuka dan adil. Tempat kita semua bisa makmur, dan semua kepentingan dihormati," katanya.
Pernyataan itu disampaikan menjelang rencana lawatan Presiden Donald Trump ke Tiongkok pada pertengahan Mei untuk pertemuan kedua dengan Presiden Xi Jinping, setelah pertemuan puncak November lalu.
"Hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok lebih baik dan lebih erat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," ucap Hegseth. "Kunjungan kenegaraan balasan pada 2026 memberi peluang untuk kemajuan yang lebih besar lagi."
Komunikasi antar-militer dengan Tiongkok tetap aktif setelah pertemuannya bulan Oktober lalu dengan Menteri Pertahanan Dong Jun, katanya. Interaksi ini mencerminkan upaya Pentagon untuk mengelola konflik dan meredakan ketegangan dengan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.
Mengulangi pernyataan bahwa Washington tidak ingin mengekang pertumbuhan Tiongkok atau mengubah status quo atas Taiwan, Hegseth menekankan transparansi.
"Tugas kita adalah memastikan Beijing melihat kekuatan militer AS yang tidak terbantahkan," ujar Hegseth, mendesak Tiongkok agar "menghormati kepentingan jangka panjang kita di Indo-Pasifik."
Washington tidak berupaya mendominasi Beijing, kata Hegseth. Sebaliknya, AS berupaya memastikan "tidak satu pun sekutu kita yang rentan terhadap agresi militer yang berkelanjutan. Inilah yang kami maksud dengan penangkalan di Indo-Pasifik."
"Kami akan memastikan militer kita, jika perlu, menunjukkan kemampuan yang berkelanjutan di Rantai Pulau Terdepan dan seluruh kawasan Indo-Pasifik. Itu artinya menjadi sangat kuat sehingga pihak lain tidak terpikir untuk agresi, dan kedamaian terjaga. Ini daya tangkal melalui rintangan."
"Rantai pulau terdepan" yang strategis mencakup Jepang, Taiwan, dan Filipina.
Jangkauan Tiongkok
Kehadiran militer Tiongkok kini membentang dari perairan Asia Timur Laut hingga Pasifik Selatan dan menuju Samudra Hindia. Operasi rutinnya yang meningkat memberikan tekanan besar pada negara-negara di rantai pulau terdepan dan tetangga mereka di Indo-Pasifik.
Kajian strategis oleh Australian Strategic Policy Institute menelaah kemungkinan skenario untuk ekspansi militer Tiongkok hingga tahun 2031 dan 2036. Hasil yang didapati adalah Beijing bisa beralih dari kemunculan sporadis di laut menjadi pengaruh berkelanjutan di kedua lautan. Peningkatan ambisi Tiongkok dapat mengganggu "kohesi regional dan tekad aliansi", menurut lembaga kajian itu.
Jaringan aliansi
Menghadapi ekspansi Tiongkok dan ancaman dari Korea Utara dan Rusia, Jenderal (AD) AS Xavier T. Brunson, komandan Komando PBB dan Pasukan AS di Korea, mengusulkan untuk menghubungkan kemampuan militer Korea Selatan, Jepang, dan Filipina menjadi "jaring pembunuh". Sistem bidik yang tangkas ini memanfaatkan jaringan satelit, drone, dan sensor darat untuk mengirim data dan menyerang sasaran dalam waktu nyata.
"Kita harus menghubungkan kemampuan komplementer ini menjadi suatu jaring pembunuh sehingga menciptakan efek gabungan dan multi-matra," katanya kepada Japan Times pada bulan April.
Proposal itu mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam cara Pentagon berpikir -- beralih dari memperlakukan ancaman sebagai insiden tersendiri menuju pertahanan terpadu berbasis aliansi.
Brunson mengatakan yang menjadi pertanyaan adalah apakah pasukan sekutu sudah siap untuk menanggapi bersama, "atau baru serabutan berkoordinasi setelah kejadian."
"Tidak satu pun dari aliansi ini mampu bertahan sendiri," ujar Brunson. "Ketika digabungkan, kita menciptakan kekuatan yang saling tumpang tindih sehingga tidak ada satu poros pun yang dapat dimanfaatkan oleh musuh untuk merencanakan strategi."
Pernyataan Hegseth dan Brunson menunjukkan upaya Washington untuk lebih meningkatkan integrasi militer dengan para sekutu Indo-Pasifik sambil tetap menjaga komunikasi dengan Beijing.
"Kita mengharapkan perdamaian, tetapi kita harus bersiap untuk perang," kata Hegseth kepada Kongres.
![Menteri Perang AS Pete Hegseth, 29 April, di Washington, DC, memberi kesaksian saat dengar pendapat Komite Angkatan Bersenjata Senat mengenai permohonan anggaran departemennya untuk tahun fiskal 2027. [Alex Wroblewski/AFP]](/gc9/images/2026/05/12/56075-afp__20260429__a9ck76h__v1__highres__uscongresshegsethcainewariranisrael-370_237.webp)