Oleh AFP |
TAIPEI -- Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan bahwa Taiwan tidak akan pernah "dikorbankan dalam kesepakatan dagang", sembari mendesak Amerika Serikat untuk terus menjual senjata kepada negara demokrasi kepulauan tersebut guna menjaga perdamaian regional.
Pernyataan Lai pada 17 Mei itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa penjualan senjata ke Taiwan dapat digunakan sebagai posisi tawar dengan Tiongkok. Beijing mengklaim pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya dan mengancam akan merebutnya dengan kekuatan militer.
Trump mengakhiri kunjungan kenegaraan ke Beijing pada 15 Mei. Dalam kunjungan tersebut, Presiden Tiongkok Xi Jinping mendesaknya untuk tidak mendukung Taiwan. Selama ini, Taiwan sangat bergantung pada dukungan keamanan AS untuk menangkal potensi serangan dari Tiongkok.
“Kelanjutan penjualan senjata Amerika Serikat kepada Taiwan serta pendalaman kerja sama keamanan Taiwan-AS bukan hanya diperlukan, tetapi juga merupakan elemen penting dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional,” kata Lai dalam sebuah pernyataan di Facebook.
![Presiden Taiwan Lai Ching-te berpose saat wawancara dengan AFP pada 12 Februari. [AFP]](/gc9/images/2026/05/18/56190-55091284586_812021a2f0_k-370_237.webp)
![Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) dan Presiden AS Donald Trump tiba dalam jamuan kenegaraan di Beijing pada 14 Mei. [Brendan Smialowski/AFP]](/gc9/images/2026/05/18/56189-afp__20260514__b2ua4jc__v3__highres__topshotchinausdiplomacy-370_237.webp)
Taiwan, yang merupakan kekuatan global dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) dan manufaktur chip semikonduktor, berada di "inti" kepentingan global dan "tidak akan pernah dikorbankan atau dijadikan alat tawar-menawar," tegas Lai.
Dukungan AS
Amerika Serikat hanya mengakui Beijing secara diplomatik, tetapi berdasarkan Undang-Undang Hubungan Taiwan, Washington diwajibkan menyediakan senjata bagi pertahanan Taiwan. Namun, AS tetap mempertahankan sikap ambigu mengenai apakah pasukan militernya akan turun tangan membantu Taiwan jika terjadi konflik.
AS tidak mendukung kemerdekaan formal Taiwan, tetapi secara historis juga tidak secara eksplisit menyatakan penolakan terhadap kemerdekaan tersebut.
Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan ia menilai pernyataan Lai sebagai “hal yang wajar diucapkan oleh seorang pemimpin di sana.”
“Tiongkok tidak bisa begitu saja mengambil alih wilayah, dan kami akan berdiri teguh, begitu pula Kongres,” kata Johnson kepada Fox News.
Parlemen Taiwan baru-baru ini menyetujui rancangan anggaran pertahanan senilai US$25 miliar yang akan digunakan untuk membeli senjata dari Amerika Serikat.
Para anggota parlemen mengatakan dana tersebut akan mencakup hampir US$9 miliar dari paket senjata senilai US$11,1 miliar yang diumumkan Washington pada Desember lalu, serta tahap kedua penjualan senjata -- yang belum disetujui Amerika Serikat -- dengan nilai lebih dari US$15 miliar.
Trump mengatakan dirinya masih mempertimbangkan penjualan senjata tersebut dan akan mengambil keputusan “dalam waktu yang relatif singkat.”
Kantor Kepresidenan Taiwan mengutip penegasan berulang kali dari Washington bahwa kebijakan jangka panjang AS terhadap Taiwan tetap tidak berubah.
“Taiwan berharap dapat terus bekerja sama dengan AS di bawah komitmen kuat dari Undang-Undang Hubungan Taiwan,” kata juru bicara Karen Kuo dalam sebuah pernyataan.
Status quo
“Kami tidak ingin perang, dan jika situasinya dipertahankan seperti sekarang, saya rasa Tiongkok akan menerima hal itu,” kata Trump kepada Fox News dalam sebuah wawancara.
Lai menyebut Tiongkok sebagai “akar penyebab ketidakstabilan regional” dan menegaskan Taiwan tidak akan “memprovokasi atau meningkatkan konflik,” namun juga tidak akan menyerahkan “cara hidup yang demokratis dan bebas” di bawah tekanan.
“Status quo inilah yang ingin kami pertahankan; tidak ada yang disebut isu ‘kemerdekaan Taiwan’,” kata Lai, yang memandang Taiwan pada dasarnya sudah merdeka sehingga deklarasi formal tidak diperlukan.
Xi membuka KTT di Beijing dengan sebuah peringatan mengenai Taiwan. Menurutnya, salah penanganan terhadap isu ini dapat memicu "konflik".