Oleh Wu Qiaoxi |
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. kembali memperingatkan Filipina dapat terseret ke dalam konflik terkait Taiwan. Peringatan ini muncul seiring langkah Manila memperkuat hubungan keamanan dengan Amerika Serikat dan Jepang di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan.
Saat berbicara kepada media Jepang di Istana Malacañang pada 18 Mei menjelang kunjungan kenegaraannya ke Jepang pada 26–29 Mei, Marcos mengatakan Filipina — tidak seperti Jepang — hampir tidak memiliki pilihan selain terlibat dalam kemungkinan krisis Taiwan karena letaknya yang dekat dengan Taiwan dan banyaknya warga Filipina yang tinggal di sana.
Risiko geografis
“Di Filipina, kami tidak punya pilihan karena Taiwan sangat dekat dengan Filipina, dan hampir 200.000 warga negara Filipina kini tinggal dan bekerja di Taiwan,” kata Marcos.
“Hanya dengan melihat peta, Anda bisa mengetahui bahwa setidaknya wilayah utara Filipina akan menjadi bagian dari konflik tersebut atau akan merasakan dampaknya,” tambahnya.
![Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. berbicara saat konferensi pers di Manila pada 25 Maret. [Ezra Acayan/Pool/AFP]](/gc9/images/2026/05/22/56265-afp__20260325__a4lt79e__v1__highres__philippinespoliticseconomyenergyoil__1_-370_237.webp)
Titik paling utara Filipina, Pulau Itbayat, hanya berjarak sekitar 160 kilometer dari Taiwan.
Meski demikian, Marcos kembali menegaskan komitmen Filipina terhadap kebijakan “Satu Tiongkok”, dengan mengatakan Manila tidak menginginkan konflik dan akan terus mendorong semua pihak untuk mengupayakan penyelesaian yang damai.
Ini bukan pertama kalinya Marcos mengangkat kemungkinan tersebut.
“Secara realistis, jika terjadi konfrontasi antara Tiongkok dan Amerika Serikat mengenai Taiwan, Filipina tidak akan mungkin bisa menghindar, semata-mata karena lokasi geografis negara kami,” ujarnya kepada media India, Firstpost, saat berkunjung ke India pada Agustus tahun lalu.
Pernyataan itu menggarisbawahi semakin sulitnya posisi Manila dalam menyeimbangkan tekanan dari Tiongkok, risiko keamanan di Selat Taiwan, serta aliansi dengan Washington dan Tokyo.
Memperluas kerja sama
Manila dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan kerja sama pertahanan. Latihan militer gabungan AS-Filipina, Balikatan 2026, pada bulan April dan Mei menjadi penyelenggaraan terbesar sepanjang sejarah Balikatan, dengan melibatkan sekitar 17.000 personel militer. Jepang secara resmi mengirimkan personel Pasukan Bela Diri untuk pertama kalinya. Balikatan 2026 mencakup latihan pertahanan udara dan latihan dengan amunisi aktif untuk menghadapi pendaratan musuh, serta latihan serangan maritim di perairan lepas wilayah utara Filipina yang dekat dengan Taiwan.
Tahun lalu, The Washington Post melaporkan Filipina dan Taiwan diam-diam telah memperluas kerja sama keamanan guna merespons meningkatnya ketegangan regional. Kapal penjaga pantai Filipina dan Taiwan melakukan patroli bersama di Selat Bashi, sementara pengamat Angkatan Laut dan Marinir Taiwan menghadiri latihan bersama AS-Filipina dan berpartisipasi dalam sesi simulasi perang.
Kerentanan strategis
Di bawah pemerintahan Marcos, Filipina mengizinkan penempatan rudal AS di wilayahnya dan memberikan akses tambahan bagi pasukan AS ke pangkalan militer, termasuk beberapa yang berada dekat dengan Taiwan. Langkah itu menjadikan Filipina sebagai salah satu negara garis depan dalam upaya yang dipimpin AS untuk membendung ekspansi regional Tiongkok.
Beijing mengkritik keras pernyataan Marcos. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, mengatakan pada 19 Mei bahwa populasi warga Filipina di Taiwan dan kedekatan geografis bukanlah alasan untuk mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
“Kami berharap Filipina akan... mematuhi prinsip ‘Satu Tiongkok’ dengan tindakan nyata,” kata Guo.
Di sisi lain, hubungan pertahanan dengan Jepang juga terus berkembang. Percepatan transfer kapal bekas Pasukan Bela Diri Maritim Jepang ke Manila diperkirakan menjadi salah satu topik pembahasan antara Marcos dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam waktu dekat di Tokyo.
Marcos mengatakan dirinya ingin mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai perubahan postur keamanan Jepang setelah Tokyo melonggarkan pembatasan ekspor pertahanan dan untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade mengirim pasukan tempur ke Filipina untuk latihan gabungan.
“Kami ingin mendengar lebih banyak tentang... apa sebenarnya yang ingin dilakukan Jepang dan apa yang bersedia mereka lakukan,” pungkasnya.
![Marinir Filipina dan Amerika Serikat melakukan latihan simulasi serangan amfibi dalam Latihan KAMANDAG di Provinsi Palawan pada 15 Oktober 2024. Latihan tersebut mencerminkan semakin eratnya kerja sama keamanan Manila dengan Washington di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan. [Kopral Luis Agostini/Korps Marinir AS]](/gc9/images/2026/05/22/56266-8704664-370_237.webp)