Oleh Chelsea Robin |
Konflik berkepanjangan di Iran, isu keamanan maritim, dan cadangan minyak dunia menjadi fokus utama dalam perundingan diplomatik tingkat tinggi yang diselenggarakan India pada bulan Mei.
Saat para menteri luar negeri BRICS menggelar pertemuan di New Delhi pada 14–15 Mei, Presiden AS Donald Trump bertemu dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping di Beijing. Hanya beberapa hari setelah kunjungan kenegaraan Trump ke Beijing, Xi menjamu pemimpin Rusia Vladimir Putin untuk melakukan pembicaraan tatap muka.
Waktu pelaksanaan pertemuan-pertemuan tersebut menyoroti ambisi strategis India, seiring negara demokrasi terbesar di dunia itu melaju cepat menuju status sebagai kekuatan global, menurut para analis.
Pertemuan menteri luar negeri BRICS itu merupakan langkah awal menuju KTT BRICS ke-18 yang akan digelar pada 12–13 September, di mana India akan menjamu para pemimpin dunia, baik dari negara anggota maupun di luar koalisi negara-negara berkembang tersebut.
![Kapal angkatan laut India IOS Sagar terlihat di Galangan Kapal Angkatan Laut di Mumbai, India, pada 2 April. [Indranil Aditya/NurPhoto/AFP]](/gc9/images/2026/05/25/56275-afp__20260403__aditya-notitle260402_np95b__v1__highres__indiannavycommissionsiossaga-370_237.webp)
BRICS merupakan akronim dari negara-negara pendirinya pada tahun 2009, yakni Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok, dengan Afrika Selatan bergabung setahun kemudian.
Pada tahun 2024, BRICS memperluas keanggotaannya dengan menerima Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab, kemudian diikuti Indonesia tahun lalu. Arab Saudi terdaftar sebagai anggota resmi, tetapi hingga kini belum memastikan status keanggotaan penuhnya.
Pertemuan tandingan
“Di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat, KTT BRICS yang akan digelar di New Delhi dipandang jauh melampaui agenda diplomatik biasa,” tulis India Today pada 20 Mei. “Kepastian kehadiran pemimpin Rusia Vladimir Putin serta kemungkinan partisipasi Xi Jinping membuat signifikansi KTT itu meningkat tajam."
Washington diperkirakan akan memantau secara ketat pelaksanaan KTT BRICS pada September mendatang.
Setelah pertemuan yang disebut “sangat sukses” dan “bersejarah” antara Donald Trump dan Xi Jinping pada bulan Mei, sang presiden AS mengundang pemimpin Tiongkok tersebut ke Gedung Putih untuk pertemuan tatap muka kedua — juga pada bulan September.
“Momentum penyelenggaraan KTT BRICS serta pemimpin Rusia dan Tiongkok — dua negara paling berpengaruh di dalam blok tersebut — yang diperkirakan akan menghadiri acara itu dinilai sangat penting di tengah perbedaan internal yang semakin nyata dalam BRICS mengenai isu geopolitik utama, terutama perang Iran," lapor India Today.
Menyusul pertemuan menteri luar negeri BRICS, India menggelar pertemuan tingkat menteri luar negeri lainnya pada tanggal 26 Mei.
Menteri luar negeri Australia, Jepang, dan Amerika Serikat bertemu dengan menteri luar negeri India dalam Quadrilateral Security Dialogue atau “Quad” — sebuah kemitraan diplomatik informal yang dibentuk untuk menahan meningkatnya pengaruh ekonomi dan militer Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik.
Kemandirian strategis
Melalui kepemimpinannya dalam dua pertemuan pada bulan Mei dan KTT BRICS pada bulan September, India memperlihatkan esensi kebijakan luar negerinya, yakni kemandirian strategis — kebebasan untuk menjalankan kepentingan nasional tanpa harus berpihak pada satu blok kekuatan besar mana pun.
India pada saat yang sama tetap menjalin hubungan diplomatik yang berjalan baik dengan Tiongkok, Uni Eropa (UE), negara2 Selatan Dunia, Rusia, serta Amerika Serikat dan negara-negara mitra NATO.
Bahkan di lingkup BRICS, India dituntut untuk mengelola hubungan yang memanas antara Iran dan Uni Emirat Arab, yang terlibat aksi saling serang militer, serta hubungan India sendiri dengan Tiongkok yang tegang, tetapi mulai mencair.
New Delhi berharap pendekatan “berteman dengan semua pihak” tersebut dapat membawa keuntungan di dalam negeri serta memperkuat posisinya di panggung global.
Namun, dengan menjalin hubungan dengan banyak sekutu strategis, India berisiko kehilangan konsentrasi karena terlalu banyak kepentingan yang harus dijaga, kata jurnalis sekaligus pengusaha media India, Minhaz Merchant.
"Kemandirian strategis merupakan prinsip geopolitik yang memandu India. Namun, jika ditarik terlalu jauh, prinsip itu bisa berubah menjadi sikap netral pasif,” ujarnya dalam Voice of India pada 17 Mei. “Itu bukan cara sebuah negara beralih dari Kekuatan Menengah menjadi Kekuatan Besar."
Untuk mencapai status sebagai kekuatan global, kata Minhaz Merchant, India “memerlukan tata kelola yang lebih baik dan birokrasi yang lebih sedikit, lebih banyak reformasi dan lebih sedikit regulasi, serta keterlibatan yang lebih tegas dengan dunia internasional dan lebih sedikit netralitas pasif."
Sejumlah pihak menilai India tengah berkembang pesat menjadi kekuatan global yang patut diperhitungkan.
"India — yang lama digambarkan sebagai 'raksasa tidur’ — kini telah bangkit,” tulis pendiri EU Reporter Colin Stevens dalam artikel yang dipublikasikan pada tanggal 27 Januari.
"Dalam geopolitik, ekonomi, teknologi, pertahanan, demografi, dan diplomasi, India tengah muncul sebagai kekuatan global yang sepenuhnya matang, bukan sekadar ‘negara berkembang,’ melainkan aktor yang membentuk tatanan sistem,” tambahnya.
“Pemain penting” di kawasan Indo-Pasifik
Dari sudut pandang geopolitik, India berada di pusat jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Di sisi barat India terdapat Selat Hormuz, yang memisahkan Iran di bagian utara dengan Uni Emirat Arab dan Oman di bagian selatan. Diperkirakan 40% perdagangan minyak dunia via laut melewati jalur strategis tersebut, yang kini dilanda krisis akibat perang Iran yang masih berlanjut.
Sekitar 35% perdagangan minyak dunia melalui jalur laut lainnya melewati Selat Malaka, yang berada di antara Malaysia dan Indonesia, serta menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik melalui Laut Tiongkok Selatan.
Selat Bab al-Mandeb, yang juga berada di bawah tekanan akibat perang dan situasi keamanan yang tidak menentu, terletak di antara Tanduk Afrika dan Timur Tengah, serta menjadi jalur strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Tengah hingga pasar-pasar Eropa.
“Seiring meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan dan Selat Taiwan, peran India dalam menjaga kebebasan navigasi di Samudra Hindia kini memiliki arti penting secara global,” kata Colin Stevens.
“Lewat aliansi strategis seperti Quad, India menempatkan dirinya sebagai kekuatan penyeimbang — bukan bagian dari blok tertentu, tetapi pemain penting yang perannya krusial bagi stabilitas kawasan Indo-Pasifik,” lanjutnya.
![Pertemuan menteri luar negeri negara-negara BRICS di New Delhi, 14 Mei. [Arun Sankar/AFP]](/gc9/images/2026/05/25/56274-afp__20260514__b2tm48v__v1__highres__indiadiplomacypoliticsbrics-370_237.webp)