Ilmu Pengetahuan & Teknologi

Sensor patungan Sony-TSMC perkuat ambisi rantai pasokan AI Jepang

Dua perusahaan terkemuka dunia dari Jepang dan Taiwan bekerja sama menciptakan rantai pasokan teknologi tinggi yang independen dari Tiongkok.

Persimpangan jalan raya terlihat dalam video Sony Semiconductor Solutions yang memperlihatkan manfaat teknologi pencitraan untuk aplikasi otomotif dan industri. [Sony Semiconductor Solutions]
Persimpangan jalan raya terlihat dalam video Sony Semiconductor Solutions yang memperlihatkan manfaat teknologi pencitraan untuk aplikasi otomotif dan industri. [Sony Semiconductor Solutions]

Oleh Joyce Huang |

Sony Group dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) mempererat aliansi mereka untuk menjadikan industri semikonduktor Kumamoto Jepang sebagai pusat rantai pasokan otomotif dan robotika masa depan.

Langkah ini menyatukan dua perusahaan terkemuka dunia dalam menciptakan rantai pasokan vital yang independen dari Tiongkok.

Pada 8 Mei, Sony Semiconductor Solutions dan TSMC menandatangani nota kesepahaman yang tidak mengikat untuk mendirikan usaha patungan guna pengembangan dan produksi sensor citra generasi baru, yang mayoritas sahamnya dipegang Sony. Fasilitas baru ini akan dibangun di pabrik semikonduktor baru Sony di kota Koshi, Prefektur Kumamoto, Jepang.

Usaha patungan ini "berupaya menjelajahi dan merebut peluang dalam aplikasi AI [kecerdasan buatan] fisik, seperti otomotif dan robotika, merintis inovasi masa depan dan kemajuan teknologi yang lebih luas," kata Sony dalam pernyataan bersama. TSMC menyebut kemitraan ini "langkah penting dalam mendorong teknologi sensor masa depan di era AI."

Logo Sony terlihat di ponsel cerdas dengan latar belakang bendera Jepang dalam ilustrasi foto tanggal 17 April. Jepang berencana menyubsidi pabrik sensor citra Sony di Prefektur Kumamoto hingga 60 miliar yen (380 juta dolar AS). [Nikolas Kokovlis/NurPhoto via AFP]
Logo Sony terlihat di ponsel cerdas dengan latar belakang bendera Jepang dalam ilustrasi foto tanggal 17 April. Jepang berencana menyubsidi pabrik sensor citra Sony di Prefektur Kumamoto hingga 60 miliar yen (380 juta dolar AS). [Nikolas Kokovlis/NurPhoto via AFP]

Berbicara dalam pengarahan strategi perusahaan pada hari yang sama, CEO Sony Group Hiroki Totoki menyebut kemitraan dengan TSMC sebagai langkah awal dalam memangkas fabrikasi di perusahaan. Ini untuk meningkatkan profitabilitas sekaligus mengurangi pengeluaran modal besar yang dibutuhkan untuk membangun pabrik.

"Hingga saat ini, pasokan sensor citra dibatasi oleh kapasitas pabrik kami sendiri," kata Totoki, menurut Nikkei Asia.

Pemerintah Jepang diperkirakan akan memberi subsidi hingga 60 miliar yen (380 juta dolar AS) untuk fasilitas baru itu, demikian dilaporkan Reuters pada bulan April, mengutip Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang.

Gugus Kyushu

Rencana Kumamoto ini menambah lapisan baru pada upaya Jepang membangun kembali industri cipnya. TSMC telah membangun basis manufaktur di wilayah itu melalui Japan Advanced Semiconductor Manufacturing (JASM), usaha patungan dengan Sony yang didirikan pada 2021 dan mayoritas sahamnya dimiliki oleh TSMC.

Pabrik pertama JASM mulai berproduksi pada akhir 2024, sementara pabrik kedua diperkirakan akan beroperasi pada 2028.

Pabrik baru ini sejalan dengan strategi Jepang untuk membangun gugus semikonduktor di Kyushu, "tempat cip dan sensor citra diproduksi berdampingan," tulis Shashi Bellamkonda, direktur riset utama di Info-Tech Research Group, dalam catatan penelitian bulan Mei.

Bagi TSMC, ekspansi di Jepang "memberikan diversifikasi geografis sekaligus memperkuat hubungan dengan salah satu pasar elektronik terpenting di dunia," demikian menurut Parameter, publikasi teknologi Inggris.

Kiprah otomotif

Sony sudah menjadi pemimpin global dalam sensor citra semikonduktor oksida logam (CMOS), dengan pangsa pasar mendekati 50%. Namun, di segmen otomotif -- target utama usaha baru ini -- Sony berada di peringkat ketiga.

Perusahaan Tiongkok berada di puncak: OmniVision, anak perusahaan Will Semiconductor yang terdaftar di bursa Shanghai, diperkirakan menguasai 35% pangsa pasar sensor CMOS otomotif pada 2024. Diikuti oleh ON Semiconductor Corp. (AS) dengan 33% dan Sony dengan 17%, menurut catatan penelitian dari CMB International Capital Corp. yang berbasis di Hong Kong, yang mengutip perkiraan dari beberapa perusahaan termasuk Yole Group.

Permintaan diperkirakan akan naik drastis.

"Momentum pertumbuhan tinggi selanjutnya mungkin berasal dari produk fisik berbasis AI, dengan peran penting dari sensor citra canggih," kata Jason Tsai, wakil direktur DIGITIMES, kepada Focus. "Mobil dengan fungsi mengemudi otonom mungkin perlu memasang setidaknya empat kamera atau lebih. Begitu juga robot. Permintaan mungkin akan melambung tinggi."

Di luar sektor otomotif dan robotika, sensor citra canggih dalam produk medis berbasis AI dan aplikasi manufaktur cerdas seperti automasi gudang akan menciptakan peluang bagi usaha patungan ini, tambah Tsai.

Pertaruhan rantai pasokan

Pasar robot humanoid global masih dalam tahap awal. DIGITIMES memperkirakan produksi sekitar 38.000 unit tahun ini dan saat ini didominasi pengembang Tiongkok. Usaha patungan Kumamoto membuat Sony dan TSMC sebagai penyedia teknologi sensor penting bagi produsen otomotif dan robotika yang mencari alternatif di luar rantai pasokan yang didominasi Tiongkok.

Kemitraan ini memiliki implikasi yang jauh melampaui posisi pasar Sony, kata Bellamkonda.

"Sony tidak sedang mempertahankan posisinya di sektor sensor ponsel pintar. Mereka mengincar peluang lapisan persepsi untuk seluruh larik AI fisik," tulisnya pada bulan Mei.

Fasilitas Kumamoto diperkirakan mulai berproduksi pada Mei 2029. Namun, keunggulan awal dalam arsitektur larik CMOS generasi baru dapat berperan penting.

"Siapa pun yang mengendalikan lapisan [persepsi AI] itu dapat memiliki pengaruh besar di seluruh rantai pasokan AI," tulis Robert Quinn, pendiri Quinns Media, di LinkedIn pada bulan Mei.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link