Kapabilitas

Filipina dan AS laksanakan KAMANDAG 10, dari selat di utara hingga Laut Tiongkok Selatan

Latihan tahunan itu memperlihatkan pergeseran strategi Manila ke arah pertahanan teritorial, yang melibatkan operasi tembak drone gabungan antara Filipina dan AS.

Pesawat MV-22B Osprey Korps Marinir AS lepas landas saat demonstrasi perebutan lapangan terbang di Lapangan Terbang Berong di Palawan, Filipina, pada 22 Juni, sebagai bagian dari KAMANDAG 10. [Kopral Ryan Ramsammy/Korps Marinir AS]
Pesawat MV-22B Osprey Korps Marinir AS lepas landas saat demonstrasi perebutan lapangan terbang di Lapangan Terbang Berong di Palawan, Filipina, pada 22 Juni, sebagai bagian dari KAMANDAG 10. [Kopral Ryan Ramsammy/Korps Marinir AS]

Oleh Liz Lagniton |

Filipina dan Amerika Serikat menyelesaikan latihan KAMANDAG 10, yang melibatkan lebih dari 2.000 personel dari empat negara untuk pelatihan yang berfokus pada pertahanan teritorial, keamanan maritim, dan interoperabilitas di seluruh kepulauan Filipina.

Latihan 15 Juni-1 Juli itu melibatkan Korps Marinir Filipina (PMC), Korps Marinir AS (USMC), Pasukan Bela Diri Darat Jepang (JGSDF), dan Korps Marinir Korea Selatan. Sedangkan Australia, Bahrain, Kanada, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, dan Thailand mengirim pengamat.

Latihan dilaksanakan di Luzon Utara, Luzon Tengah, Palawan, Tawi-Tawi, Cavite, dan Metro Manila. Lokasi latihan membentang dari perairan utara Filipina yang berdekatan dengan Taiwan hingga wilayah maritim barat dan selatan, termasuk perairan di dekat Laut Tiongkok Selatan.

Cakupan geografis tersebut mencerminkan Konsep Pertahanan Kepulauan Komprehensif Angkatan Bersenjata Filipina, yang bertujuan memperkuat kemampuan negara itu melindungi alur laut, wilayah kepulauan, dan jalur komunikasi laut utamanya.

Pasukan yang ikut serta dalam KAMANDAG 10 melakukan latihan serangan amfibi di pantai Ternate di Cavite, Filipina, pada 20 Juni. Latihan itu menekankan interoperabilitas di antara pasukan sekutu dan mitra. [Instagram/AL Filipina]
Pasukan yang ikut serta dalam KAMANDAG 10 melakukan latihan serangan amfibi di pantai Ternate di Cavite, Filipina, pada 20 Juni. Latihan itu menekankan interoperabilitas di antara pasukan sekutu dan mitra. [Instagram/AL Filipina]

Latihan itu hanya melibatkan AS dan Filipina dari 2016 hingga 2021. Pada 2022, Korea Selatan dan Jepang mengirim pengamat. Semenjak itu, partisipasi multinasional meningkat.

Manila memperkuat kerja sama keamanan dengan mitra regional di tengah ketegangan yang terus berlanjut dengan Beijing di Laut Tiongkok Selatan.

PMC dan USMC bersama-sama membuka KAMANDAG 10 di Barak Marinir Rudiardo Brown di Fort Bonifacio, Kota Taguig, pada 15 Juni.

"Latihan KAMANDAG ke-10 ini berkembang dari kegiatan bilateral menjadi platform multinasional terkemuka yang dibangun atas dasar kepercayaan, kerja sama, dan tekad bersama," ujar Brigjen PMC Bob Apostol, direktur latihan KAMANDAG 10, saat upacara pembukaan.

Pergeseran strategis

KAMANDAG berkembang seiring perubahan strategi Manila dari keamanan internal menuju pertahanan eksternal dan teritorial.

Komando Indo-Pasifik AS (INDOPACOM) menyebut KAMANDAG 10 sebagai latihan gabungan, multimatra, dan terpadu yang dirancang untuk meningkatkan keamanan maritim, interoperabilitas, kemampuan logistik konflik, serta kesiapan gabungan pasukan sekutu dan mitra.

Apostol menyebut latihan itu bagian dari upaya yang lebih luas untuk mempersiapkan pasukan peserta menghadapi tantangan keamanan yang muncul.

"Kesiapan itu bukan pilihan; melainkan tanggung jawab. Kerja sama itu bukan kemudahan; melainkan kebutuhan. Dan interoperabilitas itu bukan aspirasi; melainkan keharusan operasional," katanya.

Marinir AS dari Tim Tempur Pesisir 3, Resimen Pesisir Marinir 3, melaksanakan latihan tembak amunisi aktif pada 14–15 Juni di Fort Magsaysay dengan kendali jarak jauh, menurut INDOPACOM.

Drone serang Resimen Pesisir Marinir 3 dikerahkan pertama kalinya di Filipina. Latihan tembak dilakukan bersama marinir Filipina, mendemonstrasikan penggunaan sistem itu di medan rimba.

Latihan itu bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas pasukan di medan maritim yang kompleks dan memperkuat koordinasi saat misi kemanusiaan dan darurat militer.

Kolonel USMC George Flynn, komandan Pasukan Rotasi Marinir-Darwin 26, mengatakan latihan itu secara langsung mendukung Konsep Pertahanan Kepulauan Komprehensif militer Filipina.

Flynn mengatakan latihan itu berfokus pada "pertahanan teritorial, operasi pertahanan pantai, dan interoperabilitas" di berbagai "titik yang tersebar dari Luzon Utara hingga Palawan dan Tawi-Tawi."

KAMANDAG 10 bertepatan dengan peringatan ke-75 Perjanjian Pertahanan Bersama AS-Filipina. Kolonel USMC Robert S. Bunn, komandan Pasukan Rotasi Marinir-Asia Tenggara, menyebut tonggak sejarah itu cerminan evolusi aliansi dari kerja sama militer tradisional menuju "integrasi operasional" yang lebih besar.

Pertahanan kepulauan

Salah satu kegiatan yang paling banyak dipantau dalam latihan ini adalah operasi terjun militer yang melibatkan personel JGSDF di Batanes, provinsi paling utara Filipina.

Pulau Batan terletak sekitar 200 km dari Taiwan dan menghadap Selat Bashi, alur laut strategis yang menghubungkan Laut Tiongkok Selatan dan Pasifik barat yang dianggap sebagai salah satu jalur pelayaran utama di kawasan ini.

Pasukan JGSDF terjun payung ke Pulau Batan pada bulan Juni sebagai bagian dari latihan udara, demikian pernyataan JGSDF di Instagram. Latihan itu bertujuan untuk menilai kesiapan konflik yang dapat timbul di kawasan sekaligus meningkatkan koordinasi antar-militer negara mitra, kata Apostol.

Keikutsertaan itu menunjukkan semakin eratnya hubungan pertahanan antara Manila dan Tokyo setelah perjanjian akses timbal balik yang memungkinkan kerja sama militer lebih besar antara kedua negara.

Acara penting KAMANDAG lainnya adalah perebutan lapangan terbang di Pulau Thitu yang dikuasai Filipina di Kepulauan Spratly—salah satu fitur di Laut Tiongkok Selatan yang diklaim oleh Manila dan Beijing—melalui operasi amfibi dan udara.

Thitu merupakan salah satu pos terbesar Filipina di gugus pulau sengketa itu dan menjadi titik fokus upaya Manila untuk memperkuat kehadirannya di Laut Tiongkok Selatan.

Skenario tersebut mencerminkan titik berat Manila pada pertahanan pulau terpencil dan keberlanjutan operasi di area maritim yang diperebutkan.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link