Kapabilitas

Latih tubi RIMPAC unjuk kemampuan bawah laut dan serangan dalam latihan maritim terbesar di dunia

Korea Selatan memegang peran komando di RIMPAC untuk pertama kalinya, dengan 30 negara berlatih tembak amunisi hidup dan peperangan bawah laut di sekitar Hawaii.

Oleh Chelsea Robin |

Latihan Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026 dimeriahkan 30 negara saat Amerika Serikat memperingati ulang tahun ke-250, dengan pasukan angkatan laut menguji kemampuan tembak amunisi hidup dan peperangan bawah laut dalam latihan maritim internasional terbesar di dunia.

RIMPAC ke-30 dimulai pada 24 Juni di Kepulauan Hawaii dan sekitarnya. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 30.000 prajurit dari 30 negara hingga 31 Juli.

Lebih dari 30 kapal permukaan, lebih dari 206 pesawat terbang, lima kapal selam, dan 15 pasukan darat nasional ikut serta dalam latihan dua tahunan ini.

RIMPAC mencakup pelatihan maritim tradisional seperti operasi amfibi, peperangan antikapal selam, dan operasi pertahanan udara. Latih tubi tahun ini juga menampilkan tembakan presisi dan latihan penenggelaman kapal dengan amunisi hidup.

Anggota Korps Marinir dan Penjaga Pantai Filipina melakukan demonstrasi gabungan menaiki kapal saat RIMPAC 2026 di Pearl Harbor, Hawaii, 29 Juni. [Lettu Florenz Berbigal/Penjaga Pantai Filipina]
Anggota Korps Marinir dan Penjaga Pantai Filipina melakukan demonstrasi gabungan menaiki kapal saat RIMPAC 2026 di Pearl Harbor, Hawaii, 29 Juni. [Lettu Florenz Berbigal/Penjaga Pantai Filipina]
Marinir Korea Selatan menarik dua perahu karet ke darat saat pelatihan pergerakan dari kapal ke darat di Medan Latihan Korps Marinir Bellows di Hawaii pada 21 Juni, menjelang RIMPAC 2026. [Pratu Nicholas Figueroa/Korps Marinir AS]
Marinir Korea Selatan menarik dua perahu karet ke darat saat pelatihan pergerakan dari kapal ke darat di Medan Latihan Korps Marinir Bellows di Hawaii pada 21 Juni, menjelang RIMPAC 2026. [Pratu Nicholas Figueroa/Korps Marinir AS]
Teknisi penjinak bahan peledak Angkatan Laut AS melakukan pelatihan terjun bebas dari helikopter MH-60S Seahawk di Teluk Kaneohe, Hawaii, saat RIMPAC 2026 pada 30 Juni. [Sertu Spesialis Ryan A. LeCompte/Angkatan Laut AS]
Teknisi penjinak bahan peledak Angkatan Laut AS melakukan pelatihan terjun bebas dari helikopter MH-60S Seahawk di Teluk Kaneohe, Hawaii, saat RIMPAC 2026 pada 30 Juni. [Sertu Spesialis Ryan A. LeCompte/Angkatan Laut AS]

Latih tubi penenggelaman kapal

Dengan jumlah pasukan peserta yang sangat besar, perencanaan awal yang ekstensif dimulai bertahun-tahun sebelumnya, menurut Angkatan Laut AS. Komando Sistem Pasokan AL – Pusat Logistik Armada (Naval Supply Systems Command Fleet Logistics Center – NAVSUP FLC) Pearl Harbor mengoordinasikan logistik untuk mendukung pasukan peserta, termasuk Latihan Penenggelaman Kapal (Sinking Exercise – SINKEX).

SINKEX menggunakan tembakan amunisi hidup dari angkatan laut dan udara untuk menguji senjata dan taktik dengan menenggelamkan kapal yang sudah dipensiunkan atau usang. Para peserta berencana menenggelamkan eks-USS Mobile Bay (kapal jelajah berpeluru kendali) dan eks-USS Peleliu Bay (kapal serbu amfibi), menurut situs berita TWZ.

"Saat latihan SINKEX, orang akan melihat kapal, pesawat, dan sistem senjata bekerja bersama," kata Letkol Laut David Francia, direktur operasi NAVSUP FLC Pearl Harbor. "Yang mungkin tidak mereka lihat adalah pendukung logistik yang bekerja di balik layar guna memastikan unit-unit tersebut memiliki bahan bakar, perbekalan, dan dukungan yang mereka butuhkan untuk berada di sana."

Latihan ini "mendemonstrasikan interoperabilitas dan kekuatan bersama yang mendasari keamanan regional dan stabilitas maritim di Pasifik," kata 3rd Fleet AS dalam pernyataan tanggal 26 Juni. Latihan ini "memberi kesempatan kepada negara-negara peserta untuk memvalidasi taktik, teknik, dan prosedur sambil melatih kemampuan komando dan kendali dalam lingkungan multinasional."

Peperangan bawah laut

Angkatan kapal selam di bawah Komando Angkatan Kapal Selam Armada Pasifik AS (Commander, Submarine Force, U.S. Pacific Fleet – COMSUBPAC) menggunakan skenario latihan di laut yang realistis untuk memperkuat operasi bawah laut, kata 3rd Fleet AS dalam pernyataan tanggal 25 Juni. Latihan ini melibatkan wahana bawah laut nirawak (unmanned undersea vehicle – UUV) canggih dan tembakan jarak jauh.

"Unit COMSUBPAC akan terintegrasi dengan UUV canggih untuk memperluas jangkauan dan ketahanan intelijen, pengawasan, dan pengintaian bawah laut," demikian bunyi pernyataan itu.

"Demonstrasi ini memanfaatkan sistem nirawak sebagai pengganda kekuatan, memungkinkan platform berawak untuk beroperasi dengan lebih tersembunyi, mematikan, dan efisien."

Kapal selam COMSUBPAC menembakkan rudal jelajah antikapal UGM-84 Harpoon, yang memperlihatkan kemampuan "memberi efek mematikan terhadap ancaman permukaan dari jarak jauh, sambil melindungi aset penting," menurut pernyataan tersebut.

Korea Selatan memimpin

Korea Selatan untuk pertama kalinya menjadi komandan komponen maritim latihan ini. Dalam 55 tahun sejarah RIMPAC, ini pertama kalinya angkatan laut Asia memegang peran tersebut. Tim komando multinasional beranggotakan perwira senior dari Chili, Jepang, dan Kanada.

Media Korea Selatan menyebut penunjukan itu, serta peningkatan peran negara itu dalam latihan tahun ini, mencerminkan peran Seoul yang semakin besar dalam kerja sama keamanan regional.

Kapal induk USS Theodore Roosevelt menjadi tuan rumah pertukaran awak helikopter internasional pada 27 Juni, yang diikuti lebih dari 45 penerbang dari negara-negara mitra untuk membandingkan prosedur operasional, membahas tantangan penerbangan, dan memperkuat interoperabilitas, menurut 3rd Fleet AS.

RIMPAC semakin membesar selama dasawarsa terakhir seiring penguatan kerja sama keamanan oleh Amerika Serikat dan sekutunya sebagai tanggapan atas peningkatan kehadiran militer dan kegiatan maritim Tiongkok di Indo-Pasifik. Latihan ini menjadi platform utama untuk pelatihan multinasional dan interoperabilitas bagi negara-negara di Pasifik.

RIMPAC "terus menjadi ajang pelatihan maritim multinasional terkemuka di dunia, yang menyatukan sekutu dan mitra yang berkomitmen untuk memperkuat keamanan dan stabilitas di seluruh kawasan," kata Laksdya Angkatan Laut AS Jeff Jablon, komandan Gugus Tugas Gabungan untuk RIMPAC 2026, dalam sebuah pernyataan.

"Dengan berlatih bersama dalam skenario yang kompleks dan realistis, negara-negara peserta meningkatkan kesiapan, mempertajam keterampilan berperang, dan memperkuat interoperabilitas yang diperlukan untuk beroperasi bersama secara efektif kapan pun dan di mana pun dibutuhkan."

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link