Keamanan

Uji coba rudal kapal selam Tiongkok memberi sinyal jangkauan nuklir yang semakin luas, dikritik karena pemberitahuan sebelumnya yang terbatas

Beijing hanya memberi tahu Amerika Serikat dan Jepang beberapa jam sebelum ledakan tersebut.

Rudal balistik antarbenua JL-3 milik Tiongkok yang diluncurkan dari kapal selam ditampilkan dalam parade militer di Beijing pada 3 September tahun lalu, yang memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. [Pedro Pardo / AFP]
Rudal balistik antarbenua JL-3 milik Tiongkok yang diluncurkan dari kapal selam ditampilkan dalam parade militer di Beijing pada 3 September tahun lalu, yang memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. [Pedro Pardo / AFP]

Oleh Wu Qiaoxi |

Peluncuran rudal balistik berkemampuan nuklir oleh Tiongkok dari kapal selam ke Pasifik Selatan dimaksudkan untuk mengirimkan pesan strategis kepada Amerika Serikat dan menyoroti pertumbuhan persenjataan nuklir Beijing, kata para analis keamanan.

Sebuah kapal selam Tiongkok meluncurkan rudal tersebut pada 6 Juli, yang kemudian jatuh di perairan internasional. Uji coba tersebut menandai pertama kalinya Beijing meluncurkan senjata semacam itu ke wilayah Pasifik terbuka. “Pesan yang paling penting adalah bahwa PLA [Tentara Pembebasan Rakyat] sedang menjadi kekuatan militer yang kuat dengan kemampuan nuklir strategis yang sangat tangguh,” kata Tong Zhao, peneliti senior di Program Kebijakan Nuklir pada Carnegie Endowment for International Peace, sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Washington.

Global Times, yang dikelola pemerintah Tiongkok, mengatakan uji coba tersebut menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan “triad nuklir” Beijing yang terdiri atas senjata nuklir berbasis darat, laut, dan udara, menurut analisis Reuters.

Peluncuran tersebut menunjukkan bahwa militer Tiongkok telah mengembangkan apa yang dikenal sebagai kemampuan serangan kedua, kata Dominic Meagher, peneliti di Crawford School of Public Policy, Australian National University. Memiliki kemampuan tersebut berarti bahwa bahkan jika Tiongkok diserang terlebih dahulu, Tiongkok dapat membalas, karena kemampuan peluncurannya dapat berasal dari mana saja di lautan atau daratan, katanya.

Ditampilkan area peringatan navigasi yang terkait dengan uji coba rudal balistik Tiongkok yang diluncurkan dari kapal selam pada 6 Juli, termasuk area peluncuran dan zona yang ditetapkan sebagai lokasi jatuhnya puing-puing, berdasarkan peringatan navigasi yang dianalisis oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (Center for Strategic and International Studies/CSIS). Grafis dibuat ulang berdasarkan analisis CSIS. [Focus]
Ditampilkan area peringatan navigasi yang terkait dengan uji coba rudal balistik Tiongkok yang diluncurkan dari kapal selam pada 6 Juli, termasuk area peluncuran dan zona yang ditetapkan sebagai lokasi jatuhnya puing-puing, berdasarkan peringatan navigasi yang dianalisis oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (Center for Strategic and International Studies/CSIS). Grafis dibuat ulang berdasarkan analisis CSIS. [Focus]

Identitas kapal selam dan rudal dipertanyakan

Media pemerintah Tiongkok tidak mengungkapkan model kapal selam atau rudal yang terlibat, dan hanya mengatakan bahwa platform peluncurnya adalah kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir. Para analis dan akademisi yang dikutip Reuters menilai bahwa Tiongkok menggunakan kapal selam Tipe 094, yang menurut laporan Departemen Pertahanan Amerika Serikat tahun 2022 telah digunakan Beijing untuk melakukan patroli penangkalan nuklir yang hampir terus-menerus.

Global Times, yang dikelola pemerintah Tiongkok, dengan mengutip analis militer Zhang Junshe, mengatakan bahwa rudal tersebut kemungkinan adalah JL-3, senjata yang diperkenalkan dalam parade militer tahun lalu dengan jangkauan lebih dari 10.000 km.

Namun, Menteri Pertahanan Taiwan Koo Li-hsiung mengatakan pada 8 Juli bahwa militer Taiwan, dengan mengandalkan data gabungan intelijen, pengawasan, dan pengintaian serta berbagai sumber intelijen, menilai senjata tersebut sebagai JL-2, rudal balistik antarbenua peluncuran kapal selam generasi kedua yang lebih tua dengan jangkauan sekitar 7.400 hingga 9.000 km.

Collin Koh, pakar keamanan di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura, mengatakan bahwa uji coba tersebut tidak hanya terbatas pada evaluasi kinerja teknis rudal dan kapal selam. Uji coba itu memungkinkan Tiongkok menilai seberapa efektif mereka dapat mempertahankan komando, kendali, dan komunikasi dengan kapal selam nuklir yang berupaya tetap tersembunyi.

“Masih ada tantangan yang harus dihadapi, tetapi tampaknya mereka semakin mendekati kemampuan serangan operasional di sini … mereka mungkin berusaha menunjukkan bahwa meskipun mereka tidak dapat mencapai posisi untuk menyerang wilayah kontinental Amerika Serikat, mereka tetap dapat menargetkan Guam dan Hawaii,” kata Koh.

Uji coba tersebut menuai kritik dari Australia, Selandia Baru, Jepang, Taiwan, Filipina, dan Amerika Serikat. Analis pertahanan Australia Jennifer Parker mengatakan bahwa peluncuran tersebut tidak hanya mencerminkan perkembangan militer Tiongkok tetapi juga kesediaan Beijing untuk memproyeksikan kekuatan militer secara lebih asertif di seluruh wilayah tersebut.

Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok menepis kritik tersebut sebagai pemberitaan yang menyimpang dan dibesar-besarkan.

Pemberitahuan yang tidak memadai

Meskipun Beijing menggambarkan uji coba tersebut sebagai kegiatan rutin, pemberitahuan awal yang diberikannya tidak memenuhi standar internasional, menurut analisis 7 Juli oleh Joseph Rodgers, Bonny Lin, dan Leon Li dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (Center for Strategic and International Studies/CSIS) di Washington. Tiongkok hanya memberikan peringatan beberapa jam sebelumnya kepada Amerika Serikat dan Jepang serta pemberitahuan sekitar 23 jam sebelumnya kepada Australia, kata para analis tersebut.

Tiongkok tidak mengikuti Kode Etik Den Haag (Hague Code of Conduct/HCC) yang mencegah proliferasi rudal balistik, yang mewajibkan negara-negara peserta untuk memberi tahu seluruh 140 anggota setidaknya 24 jam sebelum peluncuran serta memberikan informasi mengenai area peluncuran secara umum, arah, dan kelas rudal. “Tiongkok adalah satu-satunya negara besar yang memiliki kemampuan antariksa dan rudal balistik yang masih sepenuhnya berada di luar” kode etik tersebut, tulis CSIS.

Tiongkok bertindak serupa pada tahun 2024. Setelah uji coba rudal Tiongkok yang serupa pada tahun 2024, Amerika Serikat, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Prancis mengkritik Beijing karena pemberitahuan awal yang tidak memadai, kata para analis. Meski demikian, para diplomat Tiongkok telah mengutip peringatan pada tahun 2024 sebagai bukti transparansi pemerintah mereka.

HCC mulai berlaku pada November 2002. Selama Tiongkok tetap berada di luar kerangka tersebut, hal itu dapat memberikan perlindungan bagi negara-negara lain seperti Korea Utara dan Iran untuk melakukan uji coba rudal tanpa pemberitahuan sebelumnya, tulis CSIS.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link