Oleh AFP dan Focus |
BEIJING -- Tiongkok mengumumkan bahwa kapal selamnya melakukan uji tembak rudal "strategis" dengan hulu ledak kosong di Samudra Pasifik pada 6 Juli, yang langsung menuai kecaman dari negara-negara di kawasan tersebut.
Selandia Baru menyebut uji coba itu melibatkan "rudal balistik jarak jauh" yang mampu membawa hulu ledak nuklir, tetapi Kementerian Pertahanan dan Luar Negeri Tiongkok tidak mengonfirmasi apakah militer mereka menggunakan rudal balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile – ICBM).
Uji coba itu dilakukan dua tahun setelah Angkatan Roket Tiongkok menembakkan ICBM ke laut dekat Polinesia Prancis, peluncuran ICBM di perairan internasional yang pertama dalam lebih dari 40 tahun.
Kapal selam nuklir meluncurkan "rudal strategis yang membawa hulu ledak simulasi" pada pukul 12.01 waktu setempat, menurut pernyataan angkatan laut Tiongkok, menambahkan bahwa rudal itu "mendarat dengan tepat di lokasi laut yang ditentukan."
![Rudal balistik antarbenua JL-3 berbasis kapal selam dipamerkan saat parade militer yang merayakan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II di Beijing pada 3 September lalu. Tiongkok mungkin menggunakan rudal JL-3 dalam uji coba di Pasifik pada 6 Juli, kata para analis. [Pedro Pardo/AFP]](/gc9/images/2026/07/07/56907-afp__20250903__738u9fd__v1__highres__chinadefenceanniversarywwiiparade-370_237.webp)
Alex Luck, analis angkatan laut yang berfokus pada modernisasi militer Tiongkok, mengatakan kepada AFP bahwa rudal itu mungkin ICBM JL-3 yang diluncurkan dari kapal selam, varian jarak jauh dari JL-2 milik Tiongkok.
Tiongkok memamerkan JL-3 saat parade militer di Beijing bulan September lalu.
Namun, Luck mengatakan bahwa "mungkin juga" Tiongkok menguji coba rudal JL-2.
Juru bicara angkatan laut Tiongkok, Wang Xuemeng, mengatakan di WeChat bahwa uji tembak itu adalah "kegiatan rutin latihan militer tahunan Tiongkok," dan bahwa "negara-negara yang berkepentingan telah diberi tahu sebelumnya."
Uji coba itu dilaksanakan dua jam setelah Tiongkok memberi tahu negara-negara Pasifik tentang peluncuran tersebut, kata Selandia Baru.
Penambahan nuklir
Amerika Serikat menyampaikan kekhawatiran atas uji coba itu, menyebutnya sebagai bagian dari modernisasi militer Tiongkok yang pesat.
"Pada saat Amerika Serikat bekerja lebih keras mencegah proliferasi nuklir, Tiongkok justru melakukan hal sebaliknya," kata Tommy Pigott, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, dalam sebuah pernyataan. "Penambahan senjata nuklir Beijing yang cepat dan tidak transparan sangat mengkhawatirkan bagi kawasan dan dunia."
"Kami terus mendesak Tiongkok untuk ikut dalam diskusi pengendalian senjata yang serius," tambahnya.
Rudal itu menunjukkan bahwa Tiongkok memiliki opsi yang semakin banyak selain peluncuran rudal dari darat, kata Lyle Morris, anggota senior di Asia Society Policy Institute.
"Uji coba ini merupakan perkembangan besar dan menunjukkan bahwa Tiongkok sedang bergerak menuju kemampuan penangkalan nuklir berbasis laut yang jauh lebih tahan lama dan memiliki jangkauan lebih jauh," katanya.
Tiongkok memamerkan kekuatan militernya pada hari yang sama Australia dan Fiji menandatangani pakta pertahanan. Kedua negara memperkukuh hubungan mereka seiring dengan upaya Canberra membendung pengaruh Tiongkok di kawasan Pasifik Selatan yang strategis.
Pada saat yang sama, Tiongkok berupaya meningkatkan pengaruhnya di Pasifik, dengan membangun rumah sakit dan stadion serta jalan aspal baru di banyak pulau.
Reaksi keras kawasan
"Pasifik adalah Samudra Perdamaian dan kami sangat prihatin dengan uji coba senjata berkemampuan nuklir oleh Tiongkok di Pasifik Selatan," kata Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters, yang menambahkan bahwa peluncuran itu "tidak cocok dengan stabilitas regional."
Australia menyebut peluncuran itu "mengganggu stabilitas". Hal itu dilakukan "dalam situasi peningkatan kekuatan militer Tiongkok secara pesat, tanpa transparansi dan penjelasan mengenai niatnya sebagaimana diharapkan kawasan," kata Menteri Luar Negeri Penny Wong, menurut Australian Broadcasting Corporation.
Jepang telah "menyampaikan keprihatinan serius," dan Taiwan menegaskan bahwa Tiongkok "sengaja memamerkan kekuatan militernya, meningkatkan ketegangan di kawasan."
Filipina, yang telah berulang kali bentrok dengan Tiongkok terkait dengan sengketa wilayah di Laut Tiongkok Selatan, mengecam uji coba itu sebagai "pameran kekuatan militer yang ceroboh."
“Peluncuran ini … merupakan ejekan dan provokasi yang diperhitungkan terhadap pihak yang menolak tindakan koersif dan ekspansi ilegal Tiongkok,” kata departemen pertahanan negara itu dalam sebuah pernyataan.
Rusia, sekutu Tiongkok, membela uji tembak Beijing sebagai "hak kedaulatan" mereka.
Ketika ditanya tentang reaksi tersebut, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan bahwa peluncuran itu "tidak ditujukan kepada negara atau sasaran tertentu."
"Negara-negara yang bersangkutan diharapkan tidak menafsirkan hal ini secara berlebihan," kata juru bicara kementerian Mao Ning kepada wartawan.
Peningkatan militer Tiongkok
Beijing menggenjot pengembangan nuklirnya dan menaikkan pembelanjaan militer dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Pentagon, Tiongkok memiliki lebih dari 500 hulu ledak nuklir operasional pada Mei 2023 dan kemungkinan akan memiliki lebih dari 1.000 pada 2030.
Beijing melakukan uji tembak rudal itu pada hari dimulainya latihan angkatan laut gabungan tahunan dengan Rusia di lepas pantai Qingdao, pelabuhan militer dan resor tepi laut di timur Tiongkok.
"Kapal-kapal perang yang ikut serta akan berlayar ke laut dekat Qingdao untuk melakukan latih tubi seperti pengintaian gabungan, pertahanan udara dan rudal, serta latihan penggunaan senjata sebenarnya," kata kantor berita pemerintah Xinhua.
Akan ada lebih banyak uji tembak Tiongkok
Setelah peluncuran itu, Menlu Selandia Baru Peters mengatakan bahwa pemerintahnya khawatir "ini akan menjadi pola yang berulang."
Menurut analis, saat uji coba ICBM tahun 2024 di dekat Polinesia Prancis, Tiongkok sepertinya menggunakan rudal canggih Dong Feng-31 yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Rudal itu jatuh ke laut yang telah lama ditetapkan sebagai zona bebas nuklir berdasarkan perjanjian internasional.
Armada kapal selam Tiongkok menjalani "modernisasi dan ekspansi signifikan," kata Luck. "Sejalan dengan tren ini, kami perkirakan pengujian rudal juga akan meningkat secara signifikan."
![Militer Tiongkok mengeluarkan rekaman video uji tembak rudal balistik berkemampuan nuklir dengan hulu ledak kosong dari kapal selam di Samudra Pasifik pada 6 Juli 2026. Beijing menyebut rudal itu membawa hulu ledak simulasi. [Tangkapan layar dari China Central Television]](/gc9/images/2026/07/07/56944-missile-370_237.webp)