oleh Zarak Khan |
Sebuah lembaga kajian terkemuka di AS menyerukan agar AS dan para sekutu utamanya di Indo-Pasifik membentuk kerangka kerja penangkalan yang melibatkan empat negara. Menurut lembaga tersebut, persenjataan nuklir dan kemampuan militer Tiongkok yang berkembang pesat mengubah keseimbangan strategis di kawasan itu.
Rekomendasi tersebut tercantum dalam laporan bulan Juni yang diterbitkan oleh National Bureau of Asian Research (NBR), berjudul “Extended Deterrence in the Indo-Pacific in an Era of Great-Power Competition.” Laporan tersebut menyebutkan bahwa percepatan modernisasi militer Tiongkok telah mempersempit keunggulan yang telah lama dinikmati oleh Amerika Serikat dan sekutunya, serta menandai dimulainya periode ketidakpastian strategis yang semakin meningkat.
Laporan tersebut mengusulkan pembentukan Dialog Perluasan Penangkalan Segi Empat yang melibatkan AS, Jepang, Korea Selatan, dan Australia guna melembagakan koordinasi, meningkatkan pertukaran informasi intelijen, serta memperkuat perencanaan penangkalan konvensional dan nuklir terhadap ancaman regional yang muncul.
Usulan tersebut muncul di tengah upaya Tiongkok membangun kekuatan nuklirnya dan memperluas jangkauan kekuatannya, sehingga memicu lebih banyak perdebatan tentang cara seharusnya sekutu AS memperkuat penangkalan kolektif di bawah payung keamanan Washington.
![Kapal induk Tiongkok, Fujian, sedang menjalani uji coba di laut. Sebuah lembaga kajian AS mengatakan bahwa penguatan militer Beijing memungkinkan negara itu memproyeksikan kekuatannya di Indo-Pasifik. [China Central Television]](/gc9/images/2026/07/09/56956-fujian-aircraft-carrier_cp-scaled-e1762530914844-370_237.webp)
Ekspansi nuklir
Laporan tersebut mengidentifikasi “upaya ekspansi dan modernisasi nuklir yang sedang berlangsung” di Tiongkok sebagai salah satu tantangan strategis paling signifikan yang dihadapi Amerika Serikat dan sekutunya.
Laporan tersebut menyoroti pembangunan ratusan silo rudal baru oleh Beijing serta kemajuannya menuju triad nuklir—sistem pengiriman berbasis darat, laut, dan udara—sebagai bukti postur nuklir yang berkembang pesat.
Mengutip perkiraan Departemen Pertahanan AS, laporan itu menyebutkan bahwa persenjataan nuklir Tiongkok diperkirakan dapat mencapai sekitar 1.500 hulu ledak pada 2035, yang merupakan salah satu peningkatan kekuatan nuklir tercepat dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut NBR, kombinasi silo rudal baru, sistem pengiriman yang lebih baik, serta kemajuan dalam kemampuan komando dan kendali menunjukkan bahwa Beijing sedang berupaya membangun postur nuklir yang lebih fleksibel dan aktif, yang mampu mendukung tujuan strategis yang lebih luas.
Penilaian itu sejalan dengan temuan Stockholm International Peace Research Institute, yang melaporkan pada bulan Juni bahwa senjata nuklir Tiongkok meningkat dari sekitar 600 hulu ledak pada Januari 2025 menjadi kira-kira 620 setahun kemudian, dan diperkirakan akan terus bertambah sepanjang dekade mendatang.
NBR menyoroti “perubahan Beijing menuju postur siap-luncur saat ada peringatan, serta pengabaian postur penangkalan minimal, dan melemahnya kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu yang telah lama dianutnya."
Sikap seperti itu memungkinkan Tiongkok meluncurkan senjata nuklir begitu mendeteksi ada serangan, alih-alih menunggu konfirmasi serangan tersebut. Kemampuan itu dapat mempersingkat waktu pengambilan keputusan saat krisis dan meningkatkan risiko eskalasi.
Jangkauan militer
Selain senjata nuklir, laporan tersebut mengemukakan kekhawatiran terkait kemampuan militer dan teknologi konvensional Tiongkok yang berkembang pesat.
Mengutip penilaian Departemen Pertahanan AS tahun 2024, NBR mengatakan bahwa Beijing telah melakukan penelitian biologi dwi-guna untuk tujuan sipil dan potensi militer, dan “dilaporkan telah mengubah risin, toksin botulinum, dan agen penyebab antraks, kolera, pes, serta tularemia menjadi senjata.”
Laporan itu menyebutkan bahwa peningkatan kemampuan militer Tiongkok tidak lagi terbatas pada wilayah sekitarnya.
Laporan itu mengutip latihan tembak tanpa pemberitahuan yang dilakukan AL Tiongkok di Laut Tasman pada Februari 2025 serta operasi angkatan laut di dekat Australia sebagai bukti meningkatnya kemampuan Beijing memproyeksikan kekuatan militernya lebih jauh ke Pasifik dan mengganggu lingkungan operasional sekutu AS.
Dialog penangkalan
NBR mengatakan modernisasi militer Tiongkok, ditambah dengan pengembangan program nuklir dan rudal Korea Utara yang terus berlanjut, serta kerja sama strategis Rusia dengan Beijing yang semakin erat, mengubah dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Menurut laporan itu, perubahan lingkungan-ancaman memicu perdebatan di Jepang, Korsel, dan Australia mengenai penguatan daya tangkal jangka panjang di bawah payung keamanan AS.
Untuk menghadapi lingkungan keamanan yang terus berubah, laporan itu mengusulkan Dialog Perluasan Penangkalan Segi Empat Trek 1 secara berkala yang melibatkan AS, Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
Forum itu dapat digunakan oleh keempat negara untuk mengoordinasikan penilaian ancaman, meningkatkan pertukaran informasi, dan membahas kemampuan militer sekutu, sekaligus melengkapi mekanisme penangkalan bilateral yang sudah ada.
“Dialog semacam itu seharusnya melengkapi, bukan menggantikan, pembicaraan bilateral masing-masing negara dengan AS,” kata laporan itu. Fokus utamanya harus pada pertukaran informasi mengenai ancaman eksternal dan kemampuan sekutu, tambahnya.
Laporan tersebut mengatakan bahwa perencanaan operasional yang lebih sensitif harus dilanjutkan melalui mekanisme bilateral yang ada, termasuk Kelompok Konsultasi Nuklir AS-Korea Selatan, Dialog Perluasan Penangkalan AS-Jepang, dan Dialog Kebijakan Strategis AS-Australia.
Rekomendasi serupa juga termuat dalam laporan tahun 2025 yang disusun oleh United States Studies Center di University of Sydney dan Asan Institute for Policy Studies dari Korea Selatan.
“Di tengah lingkungan yang semakin penuh persaingan, penangkalan nuklir yang diperluas merupakan bagian penting dari setiap strategi keamanan nasional di kawasan ini,” kata Prof. Peter Dean, direktur kebijakan luar negeri dan pertahanan di United States Studies Center.
“Namun demikian, Australia, Korsel, Jepang, dan Amerika Serikat menghadapi ketidakseimbangan antara kemampuan dan interoperabilitas, sehingga pendekatan bertahap merangkak-berjalan-berlari sangat penting untuk membangun keamanan kolektif yang bermakna,” tambahnya.
![Rudal balistik antarbenua Dongfeng-41 milik Tiongkok dipamerkan saat parade militer di Beijing pada 1 Oktober 2019. Sebuah lembaga kajian AS mengatakan bahwa peningkatan kemampuan nuklir Beijing mengubah dinamika keamanan di Indo-Pasifik. [Greg Baker/AFP]](/gc9/images/2026/07/09/56955-afp__20191011__1lb641__v1__highres__chinapoliticsanniversary-370_237.webp)