Kapabilitas

Taiwan lakukan uji tembak rudal Hsiung Feng III dari udara, perluas kemampuan serangan anti-kapal

Seiring dengan semakin luasnya jangkauan pesawat tempur berbasis kapal induk Tiongkok, Taiwan berupaya memasang rudal anti-kapal Hsiung Feng III pada pesawat tempurnya.

Uji peluncuran rudal anti-kapal supersonik Hsiung Feng III (HF-3) Taiwan dari suatu lokasi di pesisir. [Institut Sains dan Teknologi Nasional Chung-Shan (Taiwan)]
Uji peluncuran rudal anti-kapal supersonik Hsiung Feng III (HF-3) Taiwan dari suatu lokasi di pesisir. [Institut Sains dan Teknologi Nasional Chung-Shan (Taiwan)]

Oleh Jia Feimao |

Rudal anti-kapal supersonik Hsiung Feng III (HF-3) buatan dalam negeri Taiwan telah menyelesaikan uji tembak dari udara pertama dari pesawat tempur AIDC F-CK-1 Ching-kuo, sehingga menambah satu opsi serangan lagi bagi senjata yang dikenal sebagai “pembunuh kapal induk.”

Institut Sains dan Teknologi Nasional Chung-Shan Taiwan pada 1 Juli mengonfirmasi bahwa varian HF-3 yang diluncurkan dari udara, yang dikembangkan dengan nama sandi Proyek Hsiung Zhi, telah menyelesaikan uji tembak di lepas pantai Jiupeng, di pesisir tenggara Taiwan. Versi yang diluncurkan dari darat dan kapal sudah beroperasi dan memiliki jangkauan sekitar 150 hingga 200 km.

Kapal induk Fujian milik Tiongkok, yang dilengkapi dengan sistem katapel elektromagnetik, mulai beroperasi November lalu. Pesawat yang berbasis di kapal induk itu memiliki jangkauan tempur lebih dari 400 km, sehingga dapat melakukan serangan dari luar Zona Identifikasi Pertahanan Udara Taiwan, demikian menurut Shu Hsiao-huang, peneliti madya di INDSR Taiwan, kepada Global Views Monthly.

Memperluas jangkauan rudal

Sementara, rudal HF-3 Taiwan yang diluncurkan dari darat dan kapal memiliki jangkauan sekitar 150-200 km, sehingga menimbulkan hal yang disebut Shu sebagai “kesenjangan jangkauan.” Pemasangan rudal HF-3 pada pesawat tempur memperluas jangkauannya dan dapat mencapai area di luar jangkauan sistem rudal berbasis darat, ujarnya.

Rudal anti-kapal supersonik HF-3 milik Taiwan diluncurkan dalam latihan rudal gabungan yang melibatkan angkatan laut dan udara di Kabupaten Pingtung pada 24 Mei 2022. Rudal ini dapat diluncurkan dari kapal atau peluncur pertahanan pantai bergerak. [Military News Agency (Taiwan)]
Rudal anti-kapal supersonik HF-3 milik Taiwan diluncurkan dalam latihan rudal gabungan yang melibatkan angkatan laut dan udara di Kabupaten Pingtung pada 24 Mei 2022. Rudal ini dapat diluncurkan dari kapal atau peluncur pertahanan pantai bergerak. [Military News Agency (Taiwan)]

Meskipun varian yang diluncurkan dari udara mungkin membawa hulu ledak yang sedikit lebih ringan, benturan dengan kecepatan sekitar tiga kali kecepatan suara tetap mampu menimbulkan kerusakan parah pada kapal permukaan berukuran besar, kata Shu.

Rudal HF-3 yang diluncurkan dari darat atau laut memiliki mobilitas lebih rendah dan lebih mudah terlacak dibandingkan senjata yang dibawa oleh pesawat terbang, demikian disampaikan Su Tzu-yun, Direktur Divisi Sumber Daya dan Strategi Pertahanan di INDSR Taiwan, kepada Focus.

“Jangkauan rudal, ditambah jangkauan pesawat tempur, memungkinkannya terbang pada ketinggian sangat rendah untuk menghindari deteksi musuh dan menyerang dari arah tak terduga,” kata Su.

Menurut Su, ketinggian dan kecepatan awal pesawat tempur mengurangi energi yang dibutuhkan rudal, sehingga membantu menambah jangkauan totalnya.

Varian yang diluncurkan dari udara pada akhirnya dapat diintegrasikan dengan varian HF-3 Taiwan yang saat ini diluncurkan dari darat dan kapal, serta dengan drone, untuk menyerang formasi angkatan laut Tiongkok secara berkelompok dari berbagai arah yang tak terduga, kata Su.

Drone berkecepatan rendah dapat mengalihkan tembakan pertahanan udara sementara rudal HF-3 yang lebih cepat melancarkan serangan mematikan, katanya. Idealnya, keduanya diatur untuk menciptakan efek “waktu kena sasaran (TOT)”, sehingga memaksimalkan daya tembak untuk serangan serentak yang menghancurkan terhadap kapal musuh.

Rudal HF-3 yang diluncurkan dari udara harus diperkecil ukurannya agar sesuai dengan daya angkut pesawat tempur. Karena diluncurkan dari pesawat, HF-3 tidak memerlukan dua pendorong yang dibutuhkan oleh versi peluncuran darat dan kapal. Dengan meniadakan pendorong, berat rudal berkurang dari 1.500 kg menjadi sekitar 900 kg.

Persenjataan asimetris Taiwan

Rudal anti-kapal merupakan bagian penting dari persenjataan “perang asimetris” Taiwan, yang dianggap krusial untuk menghadapi invasi atau blokade Tiongkok. Pada bulan Juni, Reuters memperkirakan bahwa persediaan rudal anti-kapal Taiwan akan mencapai 1.850 unit pada awal 2029, termasuk 850 rudal Harpoon buatan AS dan sekitar 1.000 rudal HF-2 dan HF-3 buatan dalam negeri.

Berbeda dengan rudal subsonik Harpoon dan HF-2, rudal supersonik HF-3 melaju dengan kecepatan sekitar Mach 2,5 dan dapat mencapai kecepatan maksimum Mach 3. Saat radar kapal musuh mendeteksi rudal itu, kapal itu hanya memiliki waktu kurang dari 30 detik sebelum rudal menghantam.

“Harpoon berkecepatan subsonik dan mudah dicegat; sedangkan HF-3 mampu menembus pertahanan dengan kecepatan 2,5 Mach,” tulis Chang Cheng, mantan pemimpin program HF-3, di Facebook Desember lalu. Kemampuan supersonik—yang bahkan tidak dimiliki oleh peralatan militer aktif AS—membuat HF-3 yang diluncurkan dari udara secara taktis tak tergantikan, ujarnya.

Selain menjadi mimpi buruk bagi kapal musuh, HF-3 juga menjadi ancaman serius bagi sistem pertahanan udara di pantai tenggara Tiongkok, demikian dilaporkan surat kabar milik pemerintah Tiongkok, Global Times, pada 2016, mengutip para analis. Kemampuannya untuk terbang pada ketinggian sangat rendah dan mengunci sasaran dari jarak dekat membuat sistem pertahanan udara tersebut hanya memiliki satu kesempatan untuk mencegatnya.

Terbukti secara tidak sengaja

HF-3 belum pernah digunakan dalam pertempuran, tetapi insiden tembakan tak disengaja pada tahun 2016 membuktikan konsep tersebut di dunia nyata.

Seorang awak kapal secara tidak sengaja menyetel sistem rudal ke mode tempur aktif saat latihan, dan rudal HF-3 pun meluncur menuju sasaran simulasi yang berjarak 74 km. Rudal itu menghantam kapal nelayan, menewaskan kapten kapal dan melukai tiga awaknya.

Hancurnya kapal itu, meski tragis, membuktikan kemampuan rudal tersebut. Kapal itu memiliki penampang kecil dan terbuat dari serat karbon. Kedua faktor itu membuatnya lebih sulit ditembak dibandingkan kapal perang.

Seorang sumber dari Kementerian Pertahanan Nasional, yang saat itu berbicara kepada Defense News, menyebut HF-3 “sangat efisien.”

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link