Keamanan

Tiongkok modernisasi pangkalan perang elektronik di Spratly, memperkuat pengawasan Laut Tiongkok Selatan

Infrastruktur tersebut mendukung patroli masa damai dan berpotensi memengaruhi komunikasi serta navigasi dalam situasi konflik.

Citra satelit menunjukkan deretan antena serta sistem perang elektronik/intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) yang dikerahkan melalui kendaraan di Terumbu Mischief, bersama dengan posisi pertahanan pesisir. [Vantor/AMTI/CSIS]
Citra satelit menunjukkan deretan antena serta sistem perang elektronik/intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) yang dikerahkan melalui kendaraan di Terumbu Mischief, bersama dengan posisi pertahanan pesisir. [Vantor/AMTI/CSIS]

Oleh Wu Qiaoxi |

Tiongkok tengah mengubah pos-posnya di Terumbu Fiery Cross, Mischief, dan Subi menjadi pusat canggih untuk perang elektronik dan intelijen, menurut sebuah studi baru dari Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI), sebuah proyek dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington.

Dalam laporan yang dirilis pada awal Desember, AMTI menyebutkan bahwa sejak tahun 2022, Tiongkok telah menambahkan stasiun radar baru, deretan antena, serta berbagai sistem perang elektronik di ketiga terumbu tersebut.

“Peningkatan ini menegaskan fakta bahwa fungsi utama basis-basis Tiongkok adalah menyediakan cakupan ISR—intelijen, pengawasan, dan pengintaian—yang tak tertandingi di Laut Tiongkok Selatan,” tulis laporan tersebut. Fasilitas ini mendukung operasi penjaga pantai dan Angkatan Laut Tiongkok pada masa damai, sekaligus memungkinkan Beijing untuk "mengatasi penggunaan spektrum elektromagnetik oleh pihak lain jika terjadi konflik," yang secara langsung dapat memengaruhi komunikasi dan navigasi.

Antena dan radar

Analisis citra satelit menunjukkan antara tahun 2023 dan 2024, Tiongkok memasang sedikitnya enam deretan antena monopole tetap di ketiga terumbu tersebut, yang seluruhnya menghadap ke perairan terbuka. Menurut laporan itu, peralatan tersebut tampak terintegrasi dengan sistem sensor dan komunikasi yang dipasang pada kendaraan, dan kemungkinan akan digunakan untuk pengacauan elektronik atau pelacakan arah sinyal.

Citra satelit juga mengungkap pemasangan deretan antena monopole tetap baru di Terumbu Fiery Cross, Mischief, dan Subi. Dipasang antara tahun 2023 dan 2024, antena-antenna ini menghadap ke laut terbuka dengan garis pandang yang tidak terhalang. [Vantor/AMTI/CSIS]
Citra satelit juga mengungkap pemasangan deretan antena monopole tetap baru di Terumbu Fiery Cross, Mischief, dan Subi. Dipasang antara tahun 2023 dan 2024, antena-antenna ini menghadap ke laut terbuka dengan garis pandang yang tidak terhalang. [Vantor/AMTI/CSIS]

Pada awal tahun 2025, Tiongkok menambahkan dua radome—kubah pelindung radar—di Terumbu Subi. Desainnya sangat mirip dengan radome yang telah ada di Terumbu Fiery Cross dan Mischief sejak tahun 2017. Kesamaan tersebut mengindikasikan Beijing tengah membangun jaringan radar luas yang saling tumpang tindih dan mampu memantau secara terus-menerus area-area strategis di Laut Tiongkok Selatan.

Selain peningkatan kemampuan perang elektronik tersebut, Terumbu Mischief juga mencatat penambahan posisi pertahanan pesisir baru sejak tahun 2023. Posisi yang diperkuat ini berpotensi mendukung pengerahan sistem senjata bergerak, seperti artileri atau peluncur roket ganda, sehingga semakin memperluas peran militer terumbu tersebut.

Persaingan dengan Manila

Langkah Tiongkok ini terjadi di tengah seringnya konfrontasi dengan Filipina di sekitar Karang Second Thomas dan Scarborough, yang meningkatkan kebutuhan akan kemampuan pengawasan dan kontra-pengawasan maritim.

Pos-pos Spratly tersebut berlokasi sekitar 600 kilometer dari pangkalan militer besar terdekat Tiongkok, sehingga meningkatkan biaya untuk pemantauan dan patroli berkelanjutan. Pada saat yang sama, negara-negara seperti Filipina dan Vietnam juga memperkuat kemampuan pengawasan mereka di Laut Tiongkok Selatan.

Filipina menuduh militer Tiongkok menembakkan tiga suar dari Terumbu Subi pada 6 Desember ke arah sebuah pesawat Filipina yang sedang melakukan operasi pengawasan wilayah maritim di Laut Tiongkok Selatan.

“Pesawat milik Biro Perikanan dan Sumber Daya Perairan merekam video tiga suar yang ditembakkan dari terumbu tersebut ke arah pesawat selama penerbangan lintas yang sah,” kata penjaga pantai Filipina.

Untuk meningkatkan pengawasan maritim dan pengumpulan data intelijen, Manila telah meminta pengerahan drone MQ-9A tanpa senjata dari Amerika Serikat. Pengerahan sementara tersebut dimulai bulan lalu.

Pada Oktober, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengusulkan pembentukan sistem udara dan bawah laut tak berawak bersama di antara negara-negara Asia Tenggara, dengan tujuan meningkatkan efisiensi pemantauan sekaligus mengurangi risiko dan biaya.

Persaingan dengan Hanoi

Studi lain yang dipublikasikan pada bulan Agustus menyebutkan Vietnam juga mempercepat proses reklamasi lahan di Laut Tiongkok Selatan, dengan skala total yang diperkirakan akan melampaui Tiongkok. Perkembangan ini memunculkan pertanyaan apakah Hanoi akan meniru model intelijen dan pengawasan elektronik Beijing.

Tiongkok mengklaim kedaulatan atas lebih dari 80 persen wilayah Laut Tiongkok Selatan, klaim yang ditolak oleh putusan pengadilan internasional pada tahun 2016.

Beijing memulai proses reklamasi lahan skala besar di Laut Tiongkok Selatan pada tahun 2013, yang disusul dengan proses militerisasi cepat, termasuk pembangunan landasan pacu, barak, platform rudal, dan sistem radar. Pada tahun 2016, Tiongkok secara terbuka mendaratkan sebuah pesawat militer di Terumbu Fiery Cross, meskipun terumbu tersebut masih berada dalam sengketa internasional. Menurut majalah Time, peristiwa itu merupakan pendaratan militer pertama di salah satu dari tiga terumbu yang disengketakan—Fiery Cross, Mischief, dan Subi—di kawasan tersebut.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link