Hiburan

India membalas kritik Tiongkok terhadap film Bollywood yang mengangkat konflik Galwan 2020

New Delhi menolak tudingan media pemerintah Tiongkok bahwa film "Battle of Galwan" memutarbalikkan bentrokan perbatasan India–Tiongkok yang paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir.

Poster film Bollywood "Battle of Galwan," yang terinspirasi bentrokan tahun 2020 antara pasukan India dan Tiongkok di sepanjang Garis Kendali Aktual (Line of Actual Control/LAC) yang disengketakan. ["Pertempuran Galwan"]
Poster film Bollywood "Battle of Galwan," yang terinspirasi bentrokan tahun 2020 antara pasukan India dan Tiongkok di sepanjang Garis Kendali Aktual (Line of Actual Control/LAC) yang disengketakan. ["Pertempuran Galwan"]

Oleh Zarak Khan |

India menepis keberatan Tiongkok terhadap film Bollywood mendatang, yang terinspirasi bentrokan mematikan di perbatasan Lembah Galwan pada tahun 2020. New Delhi menegaskan Beijing tidak memiliki kewenangan untuk membatasi ekspresi artistik ataupun mengatur bagaimana konflik militer paling mematikan antara kedua negara dalam beberapa dekade terakhir digambarkan.

Ketegangan diplomatik ini terjadi menyusul peluncuran trailer "Battle of Galwan" pada 27 Desember. Dibintangi Salman Khan, film tersebut merupakan adaptasi buku "India’s Most Fearless 3." Ceritanya berfokus pada aksi Kolonel Bikkumalla Santosh Babu, komandan pasukan India yang dianugerahi Maha Vir Chakra secara anumerta setelah gugur dalam konfrontasi tersebut.

Film ini dijadwalkan tayang secara global pada 17 April.

Media milik pemerintah Tiongkok, Global Times, pada 30 Desember menyatakan film tersebut “memicu sikap bermusuhan” dan “tidak selaras dengan fakta.”

Salah satu adegan dalam film "Battle of Galwan" yang merekonstruksi bentrokan di Lembah Galwan pada tahun 2020—konfrontasi perbatasan paling mematikan antara India dan Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir. ["Pertempuran Galwan"]
Salah satu adegan dalam film "Battle of Galwan" yang merekonstruksi bentrokan di Lembah Galwan pada tahun 2020—konfrontasi perbatasan paling mematikan antara India dan Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir. ["Pertempuran Galwan"]

Media itu menuduh film tersebut mendorong narasi India yang “menyimpang” dan sepihak mengenai bentrokan Juni 2020 di sepanjang Garis Kendali Aktual (LAC), batas de facto yang memisahkan kedua negara.

Kritik tersebut, menurut para pejabat dan analis India, mencerminkan sikap Beijing yang tidak toleran terhadap narasi yang berbeda dari versinya sendiri.

Bentrokan perbatasan 2020

Pertempuran terjadi di Lembah Galwan, wilayah terpencil di kawasan Ladakh, India, di sepanjang LAC, pada Juni 2020, ketika pasukan India dan Tiongkok terlibat pertempuran tangan kosong yang brutal.

India mengonfirmasi kematian 20 tentaranya, sementara Tiongkok hanya mengakui empat korban jiwa di pihak Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Insiden tersebut menjadi bentrokan perbatasan paling mematikan antara kedua negara sejak tahun 1975. Setelah itu, kedua pihak memperkuat posisi di garis depan dan menjalani negosiasi militer serta diplomatik selama berbulan-bulan untuk menarik pasukan dan meredakan ketegangan. Meski ada sejumlah kemajuan, hubungan tetap tegang, kepercayaan rendah, dan beberapa titik gesekan di sepanjang perbatasan masih belum terselesaikan.

Dengan menyoroti kepemimpinan Babu serta detik-detik terakhirnya, narasi bergeser dari gambaran umum konflik perbatasan menjadi kisah pribadi. Pendekatan tersebut memberi sentuhan sinematik pada pertempuran itu.

Babu dianugerahi Maha Vir Chakra—penghargaan militer tertinggi kedua India di masa perang—secara anumerta atas aksinya selama konfrontasi itu.

India menolak kritik Tiongkok

Para pembuat film dan tokoh industri perfilman India menepis kritik dari Tiongkok.

Aktor sekaligus produser Rahul Mitra mengatakan kritik tersebut tidak mengejutkan. Kepada NDTV, ia menegaskan "Film dibuat melalui riset yang matang karena riset merupakan dasar dari sebuah naskah yang baik."

Berbeda dengan Tiongkok, di mana pemerintah mengawasi industri hiburan secara ketat, pemerintah India tidak ikut campur dalam film Bollywood—baik soal cerita maupun jadwal rilis. Bollywood, menurut Sumit Ahlawat, analis di New Delhi, dalam Eurasian Times, beroperasi terutama berdasarkan pertimbangan hiburan dan komersial.

Ia menambahkan film bernuansa sangat nasionalistis bukanlah fenomena yang hanya terjadi di India, karena tren serupa juga terlihat di Hollywood maupun industri film Tiongkok.

Para pemimpin serikat pekerja perfilman India bahkan lebih blak-blakan dalam memberikan penilaiannya.

“Jika seorang sineas atau rumah produksi ingin menggambarkan konfrontasi antara India dan Tiongkok, tidak ada yang salah dengan hal tersebut,” ujar Ashoke Pandit, penasihat utama Federation of Western India Cine Employees, serikat pekerja industri film di Mumbai.

Sengketa perbatasan India–Tiongkok, yang melibatkan klaim wilayah yang saling tumpang tindih, telah berlangsung sejak tahun 1950-an.

Industri film India sebelumnya pernah menampilkan kembali kisah-kisah sensitif dari sejumlah konflik lewat film seperti "Haqeeqat" dan "121," yang berlatar Perang India–Tiongkok 1962 di Ladakh.

“India adalah negara yang menjunjung kebebasan berekspresi,” demikian NDTV mengutip sumber pemerintah. “Pemerintah tidak memiliki peran apa pun dalam film ini.”

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link