Oleh Zarak Khan |
India telah menyetujui restrukturisasi formasi militer garis depan dengan tujuan mempercepat penempatan pasukan dan memperkuat posisinya terhadap Tiongkok di sepanjang perbatasan Himalaya yang disengketakan. Rencana tersebut mencakup pembentukan kelompok tempur terpadu (Integrated Battle Groups/IBGs) yang lebih kecil dan bergerak cepat untuk operasi cepat.
"Banyak persetujuan pemerintah untuk restrukturisasi dikeluarkan selama 14–15 bulan terakhir, termasuk IBG dari Korps [XVII] yang inovatif dan pembentukan brigade udara," kata Panglima AD Jenderal Upendra Dwivedi kepada wartawan dalam konferensi pers tahunannya pada 13 Januari.
Pemerintah akhirnya menyetujui perubahan Korps Serangan Gunung XVII, unit khusus untuk operasi melawan Tiongkok, menjadi IBG yang mandiri, kata Dwivedi.
Korps XVII memiliki sekitar 90.000 prajurit.
![Prajurit dan tank dari Komando Barat Daya Angkatan Darat India ikut serta dalam latihan persiapan operasional dan validasi teknik tempur pada Desember. [Angkatan Darat India/X]](/gc9/images/2026/01/27/53624-focus_photo_2-370_237.webp)
India jelas mengubah postur militernya menuju strategi pencegahan tangkas dan berfokus pada Tiongkok setelah bertahun-tahun insiden dan bentrokan di sepanjang Garis Kontrol Aktual (LAC), perbatasan de facto yang memisahkan kedua negara Asia itu.
Pengerahan cepat
Rencananya AD India akan membentuk "unit tempur kelas brigade yang mandiri dan lincah" yang dirancang untuk pengerahan cepat dan pertempuran intensitas tinggi di medan pegunungan, demikian dilaporkan Indian Express pada 12 Januari, mengutip pejabat senior.
Setiap IBG beranggotakan lebih dari 5.000 prajurit, dengan kemampuan melancarkan operasi dalam waktu 48 jam setelah diperintahkan, menurut laporan media India.
IBG pertama diperkirakan dibentuk dari Korps XVII yang bermarkas di Panagarh, korps serangan gunung India yang khusus untuk front Tiongkok.
India membentuk Korps XVII pada 2014 untuk menghadapi serangan di perbatasan Tiongkok, tetapi masalah pendanaan dan struktural menghambat kemajuan korps itu selama bertahun-tahun.
Menurut analis dan perencana militer, model IBG dirancang untuk mempercepat proses mobilisasi angkatan darat yang terkenal lambat.
Hal ini berakar dari Cold Start Doctrine AD India, rumusan strategi pasca-insiden militer 2001–2002 dengan Pakistan yang memungkinkan operasi konvensional cepat dan terbatas sebelum musuh dapat sepenuhnya memobilisasi atau meningkatkan konflik, menurut lembaga kajian pertahanan.
Lembaga kajian yang berbasis di New Delhi, Observer Research Foundation, dalam laporan Agustus lalu menyebut bahwa militer berencana mengembangkan dua jenis IBG reaksi cepat, satu untuk front Tiongkok dan yang lainnya untuk Pakistan.
"IBG adalah satuan kecil dan mandiri yang mengintegrasikan sumber daya infanteri, kavaleri, artileri, dan penerbangan di bawah satu komando," demikian analisis Financial Express tahun 2024.
Kemampuan mencapai lokasi bentrokan atau eskalasi dengan cepat adalah prioritas IBG, tulisnya.
Faktor Tiongkok
Restrukturisasi India dipandang sebagai respons terhadap Komando Palagan Barat (WTC) PLA Tiongkok, yang mengawasi perbatasan dengan India dan digambarkan analis sebagai komando militer Tiongkok yang "paling luas" dari kelima komando militer Tiongkok.
Meskipun WTC bertugas menjaga stabilitas di wilayah Xinjiang dan Tibet yang bergejolak, secara eksternal mereka fokus pada perbatasan Sino-India, menurut Organization for Research on Asia and China, lembaga kajian yang berbasis di New Delhi dan berfokus pada Tiongkok.
Lembaga kajian itu mengatakan WTC menyederhanakan operasi gabungan AD, AU, dan Angkatan Roket PLA, dengan fokus pada "kesiapan untuk skenario konflik potensial" di sektor sengketa dataran tinggi di sepanjang LAC, termasuk Aksai Chin dan Arunachal Pradesh.
Selama dekade terakhir, Beijing beralih dari "pembagian divisi lama ke Brigade Gabungan yang kecil dan multiguna," demikian dilaporkan Indian Express pada 12 Januari.
Titik rawan perbatasan
Ketegangan antara dua tetangga bersenjata nuklir ini tetap tinggi sejak konfrontasi maut di Lembah Galwan pada 2020 yang menewaskan sedikitnya 20 tentara India dan empat tentara Tiongkok, berdasarkan keterangan Tiongkok -- korban jiwa pertama dalam pertempuran di perbatasan yang disengketakan sejak 1975.
Meskipun kesepakatan perbatasan Oktober 2024 membantu meredakan gesekan, kedua belah pihak terus memperkuat garis depan dengan puluhan ribu pasukan dan kendaraan lapis baja, artileri, dan aset udara, mengubah perbatasan itu menjadi salah satu zona dataran tinggi yang paling termiliterisasi di dunia.
"Setelah bentrokan Galwan, India meninggalkan sikap defensifnya menuju pengamanan perbatasan dengan doktrin militer yang tegas," kata Krishna Kapoor, akademisi India yang meneliti hubungan Sino-India, kepada Focus.
Konsep IBG mencerminkan perubahan menuju postur militer berbasis kemampuan dan operasi multi-domain sebagai respons ancaman dari PLA, katanya.
Bentrokan Galwan juga "mendorong India lebih dekat ke AS dan mitra Barat lainnya" melalui kelompok Indo-Pasifik seperti Dialog Keamanan Segiempat (Quad) yang melibatkan Australia, India, Jepang, dan AS, untuk melawan pengaruh regional Tiongkok yang semakin meningkat, tambahnya.
![Pasukan India berbaris dalam parade Hari Angkatan Darat di Jaipur pada 16 Januari. India telah mengizinkan restrukturisasi besar-besaran unit militer garis depan untuk memperkuat posisinya di sepanjang perbatasan dengan Tiongkok. [Angkatan Darat India/X]](/gc9/images/2026/01/27/53623-focus_photo_1-370_237.webp)