Oleh Focus dan AFP |
TOKYO -- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan masyarakat menyadari "kebutuhan mendesak" akan reformasi besar-besaran setelah partainya menang telak bersejarah dan berjanji untuk memperkuat pertahanan Jepang.
Pemilihan dini pada 8 Februari yang digagas Takaichi memberi Partai Demokrat Liberal (LDP) mayoritas dua pertiga kursi di majelis rendah untuk pertama kalinya dalam sejarah LDP.
Partai LDP meraih 315 kursi, menurut hasil resmi pada 10 Februari. Angka itu melampaui 310 kursi yang dibutuhkan untuk mayoritas dua pertiga dan membuka peluang amandemen konstitusi.
Takaichi mulai menjabat bulan Oktober lalu. Dengan momentum positif setelah menjadi perdana menteri kelima Jepang sejak pandemi, dia mengadakan pemilihan dini bulan lalu. Keputusan itu membuahkan hasil luar biasa.
![Petugas pemilihan membuka kotak surat suara sebelum menghitung suara untuk pemilihan DPR di distrik Minato, Tokyo, 8 Februari. [Philip Fong/AFP]](/gc9/images/2026/02/10/54576-afp__20260208__96kn36b__v1__highres__japanpoliticsvote-370_237.webp)
![Dua pemilih memberikan suara pada 8 Februari di Tokyo saat pemilihan DPR Jepang, yang menghasilkan kemenangan telak bagi partai PM Sanae Takaichi. [Kazuhiro Nogi/AFP]](/gc9/images/2026/02/10/54577-afp__20260208__96k22t6__v1__highres__japanpoliticsvote-370_237.webp)
Agenda pertahanan
Perdana menteri wanita pertama Jepang ini bermandat untuk menentukan kebijakan empat tahun ke depan di negara berpenduduk 123 juta jiwa itu. Dia bertekad memperkuat keamanan nasional dan memperketat imigrasi.
"Ini awal dari tanggung jawab yang sangat berat untuk membuat Jepang lebih kuat dan lebih makmur," kata pemimpin berusia 64 tahun itu dalam konferensi pers 9 Februari.
"Kami percaya masyarakat mengerti dan mendukung seruan kami mengenai kebutuhan yang mendesak akan perubahan kebijakan yang besar-besaran," katanya.
Takaichi, pengagum "Wanita Besi" Inggris Margaret Thatcher, mengatakan bahwa pemerintahannya akan bergerak cepat untuk memperkuat pertahanan, termasuk pembentukan biro intelijen baru dan revisi dokumen keamanan nasional.
"Tidak ada yang akan membantu negara yang tidak bertekad membela diri dengan tangan sendiri," kata Takaichi.
"Kami akan melindungi perdamaian dan kemerdekaan bangsa kami; wilayah kami, laut teritorial dan wilayah udara kami; serta nyawa dan keselamatan warga negara kami," tambahnya.
Ketegangan dengan Tiongkok
Retorika semacam itu meningkatkan ketegangan dengan Tiongkok, yang memiliki sengketa wilayah dengan Jepang dan meradang setelah Takaichi bulan November lalu mengatakan bahwa Tokyo dapat campur tangan secara militer jika Beijing berusaha merebut Taiwan dengan kekerasan.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok, menanggapi kemenangan telak LDP, kembali mendesak Jepang untuk mencabut pernyataan itu, dan memperingatkan bahwa salah langkah yang berkelanjutan ada konsekuensinya.
Tiongkok memberlakukan serangkaian tindakan balasan segera setelah Takaichi berbicara tentang Taiwan. Di antaranya pembatasan impor makanan laut Jepang, peringatan terhadap pariwisata ke Jepang, dan pembatasan ekspor mineral penting.
Beijing bertekad akan "dengan tegas mencegah kebangkitan kembali militerisme Jepang" jika Tokyo bersikeras dengan sikap yang disebutnya "jalan yang salah".
"Negara kami terbuka untuk dialog dengan Tiongkok. Kami sudah melakukan pertukaran pandangan. Kami akan melanjutkan pertukaran pandangan itu. Namun, kami akan melakukannya dengan cara yang tenang dan sesuai," kata Takaichi.
Merapat ke AS
Presiden AS Donald Trump mengucapkan selamat kepada Takaichi yang didukungnya.
Dalam upaya mempererat aliansi AS-Jepang, Takaichi akan bertemu Trump di Washington pada 19 Maret untuk "menegaskan kembali persatuan yang tak tergoyahkan antara Jepang dan AS."
Takaichi berasal dari sayap ultrakonservatif LDP dan menyuntikkan energi baru ke partai yang memerintah Jepang hampir terus menerus selama puluhan tahun.
Analis mengatakan bahwa kemenangan telaknya memperkuat posisinya dalam kebijakan pertahanan dan hubungan dengan Beijing. Jepang mungkin akan "sangat proaktif dalam kebijakan pertahanan", khususnya terkait konflik di Taiwan, kata Kevin Maher, mantan diplomat AS yang sekarang bekerja di NMV Consulting di Washington, kepada Straits Times.
"Salah satu dampaknya mungkin Presiden [Tiongkok] Xi Jinping terpaksa menerima pendirian Takaichi yang tegas," tambahnya.
Kemenangan telak Takaichi menjadi dilema bagi Xi: menjalin hubungan dengan pemimpin terpopuler Jepang pascaperang atau melanjutkan pembekuan diplomatik dengan sekutu utama AS di Asia, menurut Financial Times.
Dengan mayoritas suara, Takaichi dapat mendorong revisi konstitusi pasifis Jepang, yang disahkan setelah Perang Dunia II dan tidak pernah diamandemen.
Masalah ekonomi, meskipun tetap ada, dikesampingkan demi keamanan. Takaichi menyebut stabilitas dan pertahanan sebagai prasyarat pertumbuhan jangka panjang.
Pemilihan ini menandai pergeseran dari "ambiguitas strategis" ke "kejelasan strategis", kata pengamat di kawasan itu. Jepang kini bersekutu erat dengan Amerika Serikat, bersikap keras terhadap Tiongkok, dan memperluas kerja sama dengan Taiwan.
Jepang sudah mantap "pro-AS", "menentang Tiongkok", dan "bekerja sama dengan Taiwan," kata Tung Li-wen dari Foundation on Asia-Pacific Peace Studies di Taipei pada 9 Februari, menurut TaiSounds, media yang berbasis di Taiwan.
![PM Jepang dan pemimpin Partai Demokrat Liberal Sanae Takaichi berbicara kepada media di Tokyo setelah menang telak dalam pemilihan 8 Februari. [Kim Kyung-Hoon/Pool/AFP]](/gc9/images/2026/02/10/54575-afp__20260208__96l23g4__v1__highres__japanpoliticsvote-370_237.webp)