Oleh AFP dan Focus |
MUNDRA, India -- Persaingan energi hijau dimulai. India, didorong meningkatnya permintaan listrik dan upaya mengurangi ketergantungan pada Tiongkok, memproduksi panel surya secara pesat, memicu pasar yang berkembang tetapi tidak pasti.
Di pabrik Adani Group di Mundra, Gujarat, lini perakitan memproduksi panel fotovoltaik sepanjang waktu.
Hingga 10.000 unit dihasilkan setiap hari, sebagian besar langsung dikirim ke Khavda, jauh di utara, tempat konglomerat India itu membangun ladang surya terbesar di dunia.
Namun, CEO Adani Solar, Muralee Krishnan, mengatakan bahwa produksinya "kurang cepat".
![Karyawan memeriksa sel fotovoltaik di pabrik panel surya Adani Group di Mundra, Gujarat, India, 5 November, di tengah perluasan pesat produksi energi bersih dalam negeri. [Shammi Mehra/AFP]](/gc9/images/2026/02/12/54553-afp__20251218__83gq8nk__v4__highres__indiaenvironmentpoliticsenergy-370_237.webp)
"Kapasitas kita harus dimanfaatkan sepenuhnya -- kita harus bekerja 48 jam sehari."
Intensitas itu disaingi pabrikan besar lainnya di negara terpadat sedunia itu.
Di pabrik konglomerat Tata di Tirunelveli, Tamil Nadu di selatan, 4.000 karyawan, sebagian besar perempuan, juga bekerja tanpa henti secara aplusan.
"Mereka bekerja 24/7, sehingga hasil meningkat, efisiensi meningkat, dan produktivitas meningkat," kata Praveer Sinha, CEO Tata Power.
"Lini produksi tidak pernah berhenti ... ada dorongan untuk berproduksi guna memaksimalkan hasil."
Dengan dua pendorong utama, yaitu pembangunan dan pengurangan emisi karbon, India menetapkan sasaran energi terbarukan yang ambisius.
Tahun lalu, separuh kapasitas pembangkit listriknya dinyatakan "ramah lingkungan", lima tahun lebih cepat dari tenggat yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris tentang pengurangan emisi.
Namun, 75% listriknya masih berasal dari PLTU batu bara, dengan operasi yang tidak fleksibel dan perjanjian pembelian listrik batu bara jangka panjang yang menghambat adopsi energi terbarukan.
'Buat di India'
Ada tanda-tanda perubahan.
Tahun lalu, produksi listrik tenaga batu bara di India turun 3%, penurunan tahunan kedua dalam lima tahun terakhir, menurut Center for Research on Energy and Clean Air.
Kapasitas energi terbarukan 230 GW diperkirakan akan menjadi 500 GW pada 2030, termasuk 280 GW dari PLTS.
Namun Perdana Menteri Narendra Modi menetapkan batasan lain pada industri ini: "Buat di India."
Artinya, tidak bisa mengimpor panel surya dari Tiongkok, yang memasok sekitar 90% pasar dunia.
Semua tender publik mensyaratkan produksi "lokal", yang didukung India dengan subsidi besar yang memikat perusahaan-perusahaan besar.
Tata, pelopor panel surya sejak 1990-an, bersaing dengan Adani dan Reliance yang membangun pabrik canggih dan terautomasi.
"Kualitas produk sangat, sangat penting," kata Ashish Khanna, CEO Adani Green Energy.
"Saat membangun proyek sebesar ini, kita juga perlu memastikan rantai pasokannya. Tidak boleh ada gangguan atau interupsi dalam proses itu."
Namun, saat ini teknologi dan bahan baku masih berasal dari Tiongkok.
Dan Beijing telah menyampaikan keluhan ke WTO terkait subsidi India dan pembatasan panel surya buatan Tiongkok.
Dorongan PLTS begitu kuat sehingga Adani berniat menambang silikon untuk mengamankan bahan baku utama, menurut sumber internal perusahaan, dan ada dugaan bahwa Tata Power hendak memproduksi wafer silikon sendiri.
'Pasar yang sangat besar'
Pertumbuhan sektor ini sangat pesat, dengan kapasitas produksi panel surya India diperkirakan akan segera melampaui 125 GW, menurut perusahaan konsultan Wood Mackenzie.
Jumlah itu tiga kali lipat kebutuhan India saat ini, kata Yana Hryshko, analis Wood Mackenzie.
Insentif dari pemerintah "sangat efektif mendorong pembangunan pabrik baru, tetapi saat ini ada tanda-tanda akan ada kelebihan kapasitas," kata Hryshko dalam laporan tahun lalu.
Keberlanjutan jangka panjang sektor ini bergantung pada ekspor, dan beberapa perusahaan sudah mengincar pasar global.
"Energi surya adalah pasar yang sangat besar: kapasitas PLTS dunia akan berlipat ganda, dari 2.000 GW menjadi 4.000 GW dalam empat tahun," kata Ashish Khanna, kepala International Solar Alliance.
"Pertanyaannya -- mampukah produsen India bersaing dengan Tiongkok di pasar dunia?"
Tejpreet Chopra, dari perusahaan listrik swasta Bharat Light and Power, mengatakan "masalahnya lebih murah mengimpor dari Tiongkok daripada membeli buatan lokal."
Dan tingkat manufaktur di Tiongkok "jauh lebih tinggi sehingga sangat sulit ditandingi," tambahnya.
Peningkatan ekspor
Beberapa pabrikan mengatakan bahwa prospeknya mungkin sekarang berubah.
Kesepakatan dagang AS-India yang baru saja diumumkan, yang menurunkan tarif ekspor India dari 25% ke 18%, disambut baik produsen panel surya India sebagai dorongan bagi prospek ekspor setelah berbulan-bulan mengalami ketidakpastian.
Prashant Mathur, bos produsen modul surya Saatvik Green Energy, menyebut perjanjian itu "titik balik strategis" bagi sektor ini, dan mengatakan bahwa perjanjian itu mengatasi "kekhawatiran akan produsen Tiongkok menghindari tarif" dan menempatkan India sebagai "basis manufaktur alternatif yang kredibel dan andal" yang selaras dengan tujuan perdagangan dan industri AS, menurut situs berita Mercom India.
Para eksekutif sektor ini mengatakan produsen India kini memiliki kapasitas yang cukup untuk mendukung rantai pasokan non-Tiongkok untuk sel dan modul surya, yang berpotensi meningkatkan daya saing mereka di pasar AS yang merupakan tujuan ekspor terbesar sektor ini.
CEO Tata Power, yang belum melakukan ekspor, tetap yakin bisnisnya memiliki masa depan yang cerah.
"Kami sangat yakin," kata Sinha, "bahwa energi surya akan memainkan peran yang sangat penting dalam sektor energi terbarukan di India."
![Karyawan mengerjakan sudu turbin angin di pabrik Adani Group di Mundra, Gujarat, India, 5 November, saat negara itu menggenjot produksi energi terbarukan. [Shammi Mehra/AFP]](/gc9/images/2026/02/12/54552-afp__20251218__83fz6t7-370_237.webp)