Keamanan

Keberadaan pesawat militer Tiongkok dekat Taiwan turun tajam, timbulkan pertanyaan

Analis memperdebatkan apakah langit sunyi di atas Selat Taiwan merupakan isyarat politik bagi "sidang dua sesi" yang sedang berlangsung di Beijing atau tipuan taktis.

Foto jet tempur J-16 AU Tiongkok, dikeluarkan oleh Kemenhan Taiwan pada akhir 2025. Kementerian itu mengatakan pesawat itu dipantau oleh F-16 Taiwan di dekat Taiwan. [Kemenhan Taiwan]
Foto jet tempur J-16 AU Tiongkok, dikeluarkan oleh Kemenhan Taiwan pada akhir 2025. Kementerian itu mengatakan pesawat itu dipantau oleh F-16 Taiwan di dekat Taiwan. [Kemenhan Taiwan]

Oleh AFP |

TAIPEI, Taiwan -- Taiwan tidak mendeteksi satu pun pesawat militer Tiongkok di sekitar negara pulau tersebut selama sembilan dari sepuluh hari terakhir, membuat para pengamat bertanya-tanya alasan penurunan drastis patroli itu, demikian laporan AFP pada 9 Maret.

Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan mengancam akan menggunakan kekerasan untuk mengambil alih negara pulau itu.

Beijing, dalam beberapa tahun terakhir, meningkatkan tekanan militernya terhadap Taiwan dengan mengirim jet tempur dan kapal perang ke dekat Taiwan hampir setiap hari.

Sepi patroli

Sejak 28 Februari, hanya dua pesawat Tiongkok yang tercatat dalam periode 24 jam di dekat Taiwan, menurut hitungan AFP yang dirilis setiap hari oleh Kemenhan Taiwan.

Menhan Taiwan Wellington Koo menjelaskan anggaran pertahanan saat konferensi pers di Taipei pada 26 November lalu. Ambisi Tiongkok mengambil alih Taiwan dengan kekerasan belum berubah meskipun terjadi penurunan kegiatan pesawat militer Tiongkok baru-baru ini di sekitar Taiwan, kata Koo pada 10 Maret. [I-Hwa Cheng/AFP]
Menhan Taiwan Wellington Koo menjelaskan anggaran pertahanan saat konferensi pers di Taipei pada 26 November lalu. Ambisi Tiongkok mengambil alih Taiwan dengan kekerasan belum berubah meskipun terjadi penurunan kegiatan pesawat militer Tiongkok baru-baru ini di sekitar Taiwan, kata Koo pada 10 Maret. [I-Hwa Cheng/AFP]

Bandingkan dengan 86 sortie untuk periode yang sama tahun lalu. Ini rentang waktu terpanjang tanpa patroli Tiongkok sejak AFP mulai mencatat tahun 2024.

Rata-rata enam kapal perang Tiongkok terdeteksi setiap hari di sekitar Taiwan dalam sepuluh hari terakhir, angka yang sama dengan tahun lalu.

Patroli militer Tiongkok di dekat Taiwan juga turun 42% pada periode Januari dan Februari dibandingkan tahun lalu. Jumlah kapal perangnya sekitar 4,5% lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Para pengamat berspekulasi tentang alasan penurunan tajam patroli pesawat Tiongkok, dengan berbagai kemungkinan mulai dari rapat politik tahunan Tiongkok, dikenal dengan sebutan "dua sesi", yang sedang berlangsung di Beijing, hingga pembersihan militer baru-baru ini.

Alasan lain termasuk kunjungan terjadwal Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada akhir bulan ini untuk bertemu Presiden Xi Jinping, serta konflik Timur Tengah.

"Saya tidak menyangka akan khawatir soal penghentian operasi TPR [Tentara Pembebasan Rakyat] di sekitar Taiwan, tetapi tidak adanya penjelasan yang rasional sangat mengkhawatirkan," tulis Drew Thompson, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University Singapura, di Substack.

Pengamat militer Tiongkok yang lain berkata kepada AFP bahwa "tidak jelas sama sekali bagaimana membaca situasi ini."

"Saya juga bertanya-tanya."

"Perubahan signifikan"

Ben Lewis dari situs web analisis PLATracker mengatakan hal ini "jelas merupakan perubahan signifikan terhadap aktivitas rutin."

"Semakin lama jeda aktivitas ini berlanjut, semakin besar kekhawatiran saya, tetapi saya belum melihat indikasi bahwa RRT [Republik Rakyat Tiongkok] sedang menyiapkan pergerakan besar," ujar Lewis kepada AFP.

Analis lain tidak heran dengan penurunan kegiatan pesawat.

"Pelanggaran udara oleh TPR ke ADIZ [Zona Identifikasi Pertahanan Udara] Taiwan turun hingga/hampir nol saat 'sidang dua sesi' setiap tahun," tulis Brian Hart, wakil direktur dan peneliti China Power Project di CSIS yang berbasis di Washington, di X.

"Jika pola ini berlanjut jauh setelah sidang dua sesi, maka itu peristiwa tidak biasa. Namun, menurut saya sejauh ini masih normal."

Kemungkinan siasat

Su Tzu-yun, analis militer di INDSR di Taipei, menduga bahwa Beijing mungkin mencoba "melemahkan dukungan publik" bagi rencana Taiwan meningkatkan pembelanjaan pertahanannya.

Presiden Taiwan Lai Ching-te mengusulkan tambahan pengeluaran pertahanan sebesar 40 miliar dolar AS oleh pemerintahnya selama delapan tahun, tetapi rencana itu menghadapi perlawanan di parlemen yang dikuasai oleh partai oposisi.

Senada dengan hal itu, pejabat keamanan Taiwan berkata kepada AFP bahwa Beijing mungkin mencoba "menciptakan kesan palsu bahwa Tiongkok mengendurkan ancamannya terhadap Taiwan guna menipu AS agar mengurangi dukungannya terhadap keamanan Taiwan."

Amerika Serikat tidak punya hubungan diplomatik formal dengan Taiwan, tetapi Washington adalah penyokong utama Taipei dan pemasok persenjataannya yang terbesar.

"Kita tidak boleh lengah," ucap pejabat itu.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link