Oleh AFP dan Focus |
Manila, Filipina — Otoritas Filipina menangkap tiga personel pertahanan yang diduga melakukan spionase untuk Tiongkok. Juru bicara badan keamanan negara tersebut pada 5 Maret menggambarkan kasus ini sebagai "masalah keamanan nasional yang serius."
Ketiga orang tersebut, yang bekerja di Departemen Pertahanan Nasional, Angkatan Laut, dan Penjaga Pantai Filipina, memberikan daftar personel militer serta informasi sensitif lainnya kepada penghubung mereka dari pihak Tiongkok, kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional (NSC) Cornelio Valencia kepada AFP.
Informasi yang diserahkan juga mencakup rincian operasional mengenai misi pengiriman logistik di Laut Tiongkok Selatan yang dipersengketakan, tempat Tiongkok dan Filipina sering berselisih dalam beberapa tahun terakhir, ujarnya.
“Ada proses perekrutan yang berlangsung selama periode waktu tertentu,” kata Valencia mengenai upaya untuk merekrut para personel pertahanan tersebut, yang ia gambarkan sebagai analis tingkat rendah.
![Sebuah kapal Penjaga Pantai Tiongkok menembakkan meriam air ke arah kapal pemerintah Filipina di dekat Tiexian Jiao di kawasan sengketa Laut Tiongkok Selatan pada 12 Oktober lalu. Tiongkok menuduh kapal-kapal Filipina tersebut telah memasuki perairan di dekat terumbu karang itu. [Xing Guangli/Xinhua via AFP]](/gc9/images/2026/03/11/55015-afp__20251012__xxjpbee000032_20251013_pepfn0a001__v1__highres__spotnewschinatiexianj-370_237.webp)
“Pada awalnya Anda tidak menyadarinya. Lalu Anda kaget karena mereka sudah mulai meminta data sensitif.”
“Ujung-ujungnya, motifnya selalu uang,” katanya mengenai alasan para tersangka.
Para tersangka bersikap kooperatif
Valencia mengatakan ketiga orang tersebut, yang identitasnya tidak diungkapkan, kini secara aktif bekerja sama dengan pemerintah “untuk memastikan masalah ini tidak berlanjut."
Ia menambahkan penangkapan tersebut merupakan hasil operasi gabungan beberapa lembaga Filipina melalui program "Program Ancaman Orang Dalam" (Insider Threat Program). NSC menggambarkan program ini sebagai upaya lintas lembaga untuk menangani spionase dan aktivitas jahat lainnya yang diarahkan oleh pihak asing.
Dalam pernyataan yang dirilis pada malam 4 Maret, NSC mengatakan telah “menangani dan menghentikan” operasi yang dilakukan atas “permintaan intelijen Tiongkok,” tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai dugaan spionase tersebut.
“Demi alasan keamanan nasional, kami tidak dapat membahas identitas, metode, atau lini masa agar tidak membahayakan operasi yang sedang berlangsung,” kata lembaga keamanan tersebut.
“Namun demikian, kami telah mengambil tindakan yang perlu terhadap individu-individu terkait — semuanya warga negara Filipina — yang telah mengakui keterlibatan mereka dalam aktivitas spionase dan bersikap kooperatif dengan pihak berwenang.”
Seorang tersangka keempat menolak bekerja sama, kata juru bicara Angkatan Laut Laksamana Muda Roy Vincent Trinidad kepada Philstar.
Membahayakan pasukan lain
Data yang bocor mencakup jadwal rotasi dan pengiriman logistik untuk misi Filipina di Laut Tiongkok Selatan, kata Valencia, sebagaimana dilaporkan Reuters.
“Data rotasi dan pengiriman logistik termasuk dalam keamanan operasional karena pengungkapannya dapat membahayakan personel, dan data tersebut telah disalahgunakan,” katanya, seraya menambahkan Manila telah menutup saluran yang digunakan untuk mengirimkan data tersebut.
Salah satu tersangka memperoleh rincian penempatan pasukan dan operasi pengiriman logistik melalui seorang personel Penjaga Pantai Filipina dan menyampaikannya kepada pihak Tiongkok menggunakan aplikasi pesan tersembunyi di ponsel, lapor Reuters.
Informasi dari salah satu tersangka bahkan menyebabkan kapal penjaga pantai Filipina ditabrak oleh kapal Tiongkok di Karang Sabina, kata Trinidad kepada Philstar.
Tiongkok menolak tuduhan tersebut. Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada 5 Maret mengatakan pihaknya menentang tudingan tersebut dan menyatakan “kasus ini tidak jelas dan tidak ada bukti yang meyakinkan.”
Pernyataan NSC juga mengutip investigasi terbaru oleh media lokal Rappler, yang pertama kali melaporkan bahwa pihak Tiongkok mencari informasi tentang penempatan maritim dan misi pengiriman logistik di Laut Tiongkok Selatan.
Penangkapan sebelumnya
Tahun lalu Filipina juga mengumumkan sejumlah penangkapan warga negara Tiongkok terkait dugaan spionase.
Pada bulan April, seorang pria Tiongkok ditangkap saat mengoperasikan perangkat pengintai di dekat kantor Komisi Pemilihan Umum Filipina, kata otoritas setempat, kurang dari dua minggu sebelum pemilu sela di negara tersebut.
Pria itu diduga menggunakan “IMSI catcher”, sebuah perangkat yang mampu meniru menara seluler dan menyadap pesan yang dikirim melalui udara dalam radius 1 hingga 3 kilometer.
Dua pria Tiongkok yang ditahan pada Februari 2025 juga dituduh menggunakan perangkat yang sama saat berkendara di dekat lokasi-lokasi sensitif pemerintah dan militer di Manila.
![Ilustrasi menunjukkan pasukan Filipina dan segel Departemen Pertahanan Nasional. Pihak berwenang menyatakan pada 5 Maret bahwa tiga personel pertahanan ditangkap karena diduga melakukan spionase untuk intelijen Tiongkok dan membocorkan informasi militer yang sensitif. [Jam Sta Rosa/AFP/ilustrasi oleh Focus]](/gc9/images/2026/03/11/55014-dod_illustration-370_237.webp)