Oleh Chen Wei-chen |
Kementerian Pertahanan Jepang memamerkan peluncur misil jarak jauh di wilayah barat daya Jepang pada 17 Maret menjelang penempatannya. Hal ini menyoroti pergeseran Tokyo menuju penguasaan kemampuan serangan balasan di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Pameran yang diadakan untuk media dan pejabat setempat ini mendahului penempatan resmi "kemampuan serangan balasan" itu. Pameran ini dijadwalkan selesai pada 31 Maret.
Mampu melakukan serangan di seluruh Laut Tiongkok Timur
Titik perhatian sistem ini adalah pemutakhiran misil permukaan-ke-kapal Type 12, yaitu sistem peluncur truk yang jangkauannya meningkat lima kali lipat dari 200 km menjadi sekitar 1.000 km. Langkah ini memungkinkan Tentara Bela Diri Jepang menyerang, jika perlu, dari Kumamoto melintasi Laut Tiongkok Timur ke Korea Utara dan garis pantai timur Tiongkok.
Type 12 yang dimutakhirkan itu menggunakan desain berkemampuan terdeteksi rendah guna menghindari radar, dilengkapi detektor radar Active Electronically Scanned Array (AESA) canggih, GPS, dan pemetaan kontur medan untuk panduan presisi terhadap sasaran maritim dan pesisir.
![Misil pertahanan pantai Type 12 diluncurkan dari sistem yang dipasang di truk saat uji coba di Jepang bulan Desember lalu. [Kementerian Pertahanan Jepang]](/gc9/images/2026/03/19/55172-2-370_237.webp)
Sementara itu, sistem pertahanan pulau Hyper Velocity Gliding Projectile (HVGP) akan ditempatkan di prefektur Shizuoka pada akhir bulan ini.
HVGP adalah program senjata hipersonik yang diluncurkan pada 2018 dan dikembangkan oleh Mitsubishi Heavy Industries untuk Angkatan Darat Bela Diri Darat Jepang dan Badan Akuisisi, Teknologi, dan Logistik. Senjata ini dirancang untuk memperkuat pertahanan jarak jauh pulau-pulau terpencil dengan membidik angkatan laut dan pasukan pendaratan yang menyerang.
Jangkauan awal HVGP diperkirakan antara 500 hingga 900 km. Versi Block 2A dan Block 2B masa depan diperkirakan akan memiliki jangkauan sekitar 2.000 km dan 3.000 km, mencakup hampir seluruh Asia Timur.
Misil jarak jauh produksi dalam negeri
Pengerahan sistem itu menandai dimulainya akuisisi Jepang atas kemampuan serangan jarak jauh buatan dalam negeri, yang, bersama senjata jarak jauh lainnya, menjadi inti strategi Tokyo untuk "menangkal musuh dengan mengancam sasaran militer penting dari jarak jauh," menurut The Diplomat.
Pengerahan sistem itu terkait dengan "kemampuan serangan balasan yang dikembangkan" Jepang, yang memungkinkannya membidik pangkalan musuh jika diserang.
Pejabat Jepang menegaskan bahwa kemampuan itu bersifat defensif dan hanya akan digunakan jika Jepang diserang. Langkah ini mencerminkan perubahan penafsiran Tokyo terhadap kebijakan yang berorientasi pada pertahanan semata, seiring upaya meningkatkan daya tangkal di perairan regional yang diperebutkan.
Jepang mempercepat pengerahan pertahanan di seluruh pulau-pulau barat dayanya dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, Kemenhan memajukan jadwal penempatan misil jarak jauh buatan negeri itu setahun lebih awal.
Misil pencegat PAC-3 dan misil permukaan-ke-udara jarak menengah sudah ditempatkan di pulau-pulau, termasuk Okinawa, Ishigaki, dan Miyako.
Kementerian Pertahanan Tiongkok mengkritik langkah itu, menyebut Jepang telah "sepenuhnya melepas topeng prinsip yang 'berorientasi pada pertahanan semata', strategi 'pertahanan pasif', dan kebijakan 'bela diri'."
"Ini menunjukkan betapa kuatnya neomiliterisme di Jepang," kata juru bicara Jiang Bin pada 11 Maret.
Melindungi 'untaian pulau pertama'
Media Jepang mengatakan bahwa pengerahan Type 12 dan HVGP dapat memperkuat kemampuan Jepang menangkal musuh mendekati wilayah maritim utama.
Jangkauannya yang diperluas mencakup jalur pelayaran utama di sepanjang "untaian pulau pertama" yang strategis dan memungkinkan serangan terhadap lokasi peluncuran musuh jika perlu.
Untaian pulau pertama meliputi Jepang, Taiwan, dan Filipina.
Pendekatan Jepang mirip dengan kemampuan anti-akses yang sudah lama digunakan Tiongkok, kata John Bradford, direktur eksekutif Yokosuka Council on Asia-Pacific Studies, kepada South China Morning Post (SCMP).
"Setiap kapal AL yang memasuki Laut Tiongkok Timur dapat menjadi sasaran Tiongkok ataupun Jepang," katanya. "Ancangan 'saling tolak akses laut' akan membuat kedua belah pihak waswas menggunakan kekuatan."
Pengerahan sistem itu akan meningkatkan beban untuk menyerang Jepang dan menghambat perencanaan militer Tiongkok, kata Liselotte Odgaard, rekan peneliti senior di Hudson Institute, kepada SCMP.
Beijing kini harus memperhitungkan kemungkinan balasan dari Jepang sebelum memulai pertempuran di Laut Tiongkok Timur atau di sekitar Taiwan, katanya.
"Pemerintah Jepang memperkuat posisinya berandil pada stabilitas dalam negeri dan stabilitas kawasan melalui upaya sendiri," kata Junjiro Shida, lektor kepala politik internasional di Meio University, Nago, Jepang, kepada Stars and Stripes.
Latihan gabungan Jepang-AS bulan Februari
Selain mempersenjatai diri, Jepang terus bekerja sama dengan AS dalam melindungi kawasan itu.
Menjelang penempatan misil pada bulan Maret, pasukan Jepang dan AS melakukan latihan Keen Edge 2026, dilaporkan oleh Yomiuri Shimbun Jepang pada akhir Februari.
Latihan itu, yang menyimulasikan serangan bersenjata terhadap kepulauan Jepang bagian barat daya, mencakup pengidentifikasian sasaran bersama dan melatih prosedur peluncuran misil jarak jauh terhadap lokasi peluncuran musuh.
![Jepang menguji sistem misil pertahanan pantai Type 12 bulan Desember lalu. [Kementerian Pertahanan Jepang]](/gc9/images/2026/03/19/55171-1-370_237.webp)