Keamanan

Angkatan laut Filipina protes radar Tiongkok yang menargetkan kapal patroli di Laut Filipina Barat

Manila mengecam tindakan itu sebagai langkah “mengkhawatirkan” dan “provokatif,” seraya menyamakannya dengan menodongkan senjata kepada seseorang.

BRP Miguel Malvar berpatroli di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina di dekat Karang Sabina pada 7 Maret, saat kapal perang Tiongkok mengunci radar kendali tembaknya ke arah kapal itu. [Angkatan Laut Filipina]
BRP Miguel Malvar berpatroli di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina di dekat Karang Sabina pada 7 Maret, saat kapal perang Tiongkok mengunci radar kendali tembaknya ke arah kapal itu. [Angkatan Laut Filipina]

Oleh Liz Lagniton |

Militer Filipina menuding kapal AL Tiongkok mengunci radar kendali tembaknya ke arah kapal Filipina yang tengah berpatroli di Laut Tiongkok Selatan pada awal Maret, serta menyebut tindakan itu “mengkhawatirkan” dan “provokatif.”

BRP Miguel Malvar, kapal fregat bersenjata rudal, sedang melakukan patroli maritim di dekat Karang Sabina dalam ZEE Filipina pada 7 Maret, menurut pernyataan AL Filipina yang dirilis pada 20 Maret.

Mengunci radar kendali tembak ke arah kapal Filipina

Kapal AL Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) Tiongkok mendekat dan mengunci radar kendali tembaknya ke arah kapal tersebut—tindakan yang secara luas dipandang sebagai pendahuluan kontak senjata serta indikasi ancaman yang bisa segera terjadi.

AL Filipina menyatakan mereka menyampaikan peringatan lewat radio sesuai prosedur standar, sehingga kapal Tiongkok menghentikan aksinya dan menonaktifkan radarnya. Situasi pun tidak berkembang lebih jauh.

Manuver itu menimbulkan risiko yang tidak perlu, dapat menyebabkan salah perhitungan serius di laut, dan mencerminkan betapa rawannya pertemuan di perairan sengketa, ujar Laksda Roy Vincent Trinidad, juru bicara AL Filipina untuk Laut Filipina Barat. Ia menyebut insiden tersebut “mengkhawatirkan” dan “provokatif,” menurut Philippine Daily Inquirer.

Laut Filipina Barat merupakan sebutan Manila untuk bagian Laut Tiongkok Selatan yang berada dalam ZEE-nya.

AL Filipina menyatakan patroli itu sah dan di dalam ZEE Filipina, tempat Manila menjalankan hak kedaulatan berdasarkan hukum internasional. Operasi maritim rutin akan terus dilanjutkan, tambahnya.

“Seperti menodongkan senjata”

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) Jenderal Romeo Brawner Jr. pada 24 Maret memuji respons awak kapal Filipina.

“Dalam situasi seperti itu, tindakan Tiongkok ibarat menodongkan senjata. Kami mengecam tindakan tersebut,” ujar Brawner, seperti dilaporkan GMA News.

Melalui Facebook, Angkatan Laut Filipina mengatakan konfrontasi itu membuktikan “pentingnya sikap menahan diri serta kepatuhan terhadap hukum internasional.”

Perairan sengketa

Karang Sabina, sekitar 150 km di barat Palawan, berada dalam ZEE Filipina dan merupakan kawasan maritim penting di dekat sejumlah objek sengketa lainnya, termasuk Karang Second Thomas. Letaknya yang dekat dengan jalur pelayaran utama membuat wilayah ini kerap menjadi lokasi pertemuan antara kapal Filipina dan Tiongkok.

Insiden terbaru ini terjadi di tengah berlanjutnya ketegangan antara Manila dan Beijing terkait konflik klaim di Laut Tiongkok Selatan, meskipun putusan arbitrase pada 2016 membatalkan klaim Tiongkok.

Interaksi antara kapal Tiongkok dan Filipina kian sering terjadi, mulai dari manuver jarak dekat hingga penggunaan meriam air serta taktik pemblokiran.

Menolak narasi Beijing

Pejabat militer Filipina terus menyuarakan sikap tegas terhadap Tiongkok.

Penjaga Pantai Filipina (PCG) pada 20 Maret menyatakan tidak terlibat dalam usulan perjanjian kerja sama maritim apa pun dengan Tiongkok.

“Sejauh yang kami ketahui di PCG, kami tidak terlibat dalam penyusunan kerja sama penjaga pantai apa pun dengan Tiongkok, khususnya terkait rencana patroli bersama,” kata Laksda Jay Tarriela.

Bantahan tersebut muncul sehari setelah Duta Besar Tiongkok untuk Filipina mengusulkan agar kerja sama yang kini telah tidak aktif antara penjaga pantai kedua negara dihidupkan kembali.

Departemen Pertahanan Nasional (DND) menepis kritik Beijing terkait patroli di dekat wilayah seperti Karang Scarborough, dengan menegaskan operasi itu dilakukan secara sah.

“Yang sungguh ironis mereka menyerukan perdamaian, sementara PLAN yang bersenjata lengkap dan didukung anggaran besar justru mengganggu nelayan kami yang sekadar berusaha mencari nafkah di wilayah tangkap tradisional mereka,” ujar juru bicara DND Arsenio Andolong.

Pejabat militer Manila menyatakan patroli Filipina akan terus dilakukan untuk melindungi hak kedaulatan dan menjaga stabilitas di Laut Filipina Barat.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link