Kapabilitas

Jepang lanjutkan program ASEV dengan uji perdana pelacakan target nyata SPY-7

Uji bersama Jepang-AS membantu Jepang memodernisasi sistem pertahanan rudal Aegis untuk kapal canggih yang dikenal sebagai ASEV. Konstruksi dua kapal ASEV saat ini tengah berlangsung di Jepang.

Target nyata diluncurkan dalam uji pelacakan target nyata SPY-7 pertama di bawah JFTX-01 pada 17 Maret. Uji coba dilakukan oleh Pasukan Bela Diri Maritim Jepang dan Badan Pertahanan Rudal AS. [Badan Pertahanan Rudal Amerika Serikat]
Target nyata diluncurkan dalam uji pelacakan target nyata SPY-7 pertama di bawah JFTX-01 pada 17 Maret. Uji coba dilakukan oleh Pasukan Bela Diri Maritim Jepang dan Badan Pertahanan Rudal AS. [Badan Pertahanan Rudal Amerika Serikat]

Oleh Ha Er-rui |

Program Kapal dengan Sistem Aegis (Aegis System Equipped Vessel/ASEV) Jepang telah mencapai kemajuan signifikan dalam integrasi sistem, setelah berhasil menyelesaikan uji pelacakan target nyata pertamanya.

Aegis merupakan sistem persenjataan angkatan laut terintegrasi buatan Amerika Serikat. Setelah rampung, kapal-kapal ASEV akan dilengkapi sistem Aegis untuk menyediakan pertahanan rudal canggih di laut.

Pada 17 dan 19 Maret, Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF), bekerja sama dengan Departemen Pertahanan AS dan Badan Pertahanan Rudal (MDA), melaksanakan Eksperimen Uji Penerbangan Jepang untuk Sistem Senjata Aegis (Japan Flight Test Experiment Aegis Weapon System/JFTX-01)

Eksperimen tersebut, yang diadakan di fasilitas pengujian Lockheed Martin di Moorestown, New Jersey, menandai keberhasilan pertama dalam integrasi dan pelacakan target menggunakan radar SPY-7 baru, yang nantinya akan dipasang pada unit ASEV.

Amerika Serikat mengirimkan unit kapal ASEV pertama, termasuk empat antena radar, kepada Kementerian Pertahanan Jepang. [Lockheed Martin]
Amerika Serikat mengirimkan unit kapal ASEV pertama, termasuk empat antena radar, kepada Kementerian Pertahanan Jepang. [Lockheed Martin]

Verifikasi ini merupakan bagian dari program pengujian integrasi berbasis darat bersama yang telah berjalan sejak September lalu. Program ini merupakan kerja sama antara MDA dan Lockheed Martin, dengan dukungan Angkatan Laut AS.

Letjen Heath Collins, direktur MDA, menyatakan dalam rilis berita bahwa kolaborasi AS-Jepang dalam pengembangan ASEV “akan memberikan Jepang kemampuan Pertahanan Rudal Balistik terbaru dan secara signifikan memperkuat pertahanan mereka terhadap ancaman rudal regional.”

Seiring dengan pengujian di Amerika Serikat, Kementerian Pertahanan Jepang pada 20 Maret mengonfirmasi bahwa pembangunan kapal utama ASEV berjalan sesuai jadwal. Konstruksi kapal tersebut dimulai pada bulan Juli lalu di Nagasaki, sementara konstruksi ASEV kedua mulai dibangun pada bulan Februari di Yokohama.

Jepang berencana memproduksi dua unit ASEV.

Dari darat ke laut

Sebagai respons terhadap seringnya uji coba rudal Korea Utara, Tokyo awalnya merencanakan pemasangan dua sistem Aegis Ashore di darat. Namun, rencana tersebut dibatalkan pada Desember 2020 karena kekhawatiran keselamatan masyarakat setempat terkait pendorong pencegat rudal.

Sebagai alternatif berbasis laut, Jepang kini membangun dua platform maritim besar yang dirancang menjadi tulang punggung arsitektur pertahanan rudal balistiknya. Kapal-kapal ini akan menyediakan cakupan pengawasan rudal selama 24 jam di seluruh Jepang, yang dirancang khusus untuk mencegat ancaman di ketinggian tinggi yang diluncurkan dengan lintasan sangat tinggi dari laut.

ASEV adalah raksasa maritim dengan bobot 12.000 ton dan panjang 190 meter. Ukurannya sekitar 1,7 kali lebih besar dibanding kapal perusak kelas Arleigh Burke (Flight III) terbaru milik Angkatan Laut AS. ASEV menyediakan platform yang stabil untuk operasi radar canggih di laut lepas.

Lambung kapal yang sangat besar mendukung radar multifungsi SPY-7 serta Sistem Peluncur Vertikal (Vertical Launch System/VLS) yang diperluas menjadi 128 sel. Sebagai perbandingan, kapal-kapal Jepang yang ada saat ini hanya memiliki 96 sel VLS.

VLS 128 sel tersebut akan menampung pencegat Standard Missile-3 Block IIA dan rudal jelajah Tomahawk, yang mendukung kemampuan serangan balasan Jepang yang tengah berkembang.

Dalam pengujian terbaru di AS, para insinyur menggunakan konfigurasi antena empat sisi yang identik dengan desain akhir kapal untuk mengumpulkan data presisi tinggi. Jajaran radar SPY-7 dalam konfigurasi tersebut memiliki tinggi 4,3 meter.

Chandra Marshall, wakil presiden Solusi Tempur Multi-Domain di Lockheed Martin, mengatakan "keberhasilan uji pelacakan target nyata pertama dari sistem ASEV menegaskan sistem Aegis terintegrasi siap untuk mendeteksi, melacak, dan menghadapi target." Ia menambahkan hal ini juga menunjukkan kemampuan Lockheed Martin "untuk memberikan solusi cepat dalam kemitraan dengan Departemen Pertahanan dan sekutu Jepang."

Meringankan tugas kapal perusak Aegis standar

Fleksibilitas operasional menjadi tujuan utama program ini. ASEV dirancang untuk mengurangi beban patroli pertahanan rudal balistik yang terus-menerus pada kapal perusak Aegis standar JMSDF, sehingga mereka dapat fokus pada misi keamanan maritim yang lebih luas di kawasan Indo-Pasifik.

Namun, kemampuan khusus ini juga menyebabkan lonjakan biaya pengadaan. Kementerian Pertahanan kini memperkirakan total investasi untuk dua unit ASEV mencapai 783,9 miliar yen (sekitar US$5,23 miliar), hampir 1,6 kali lipat dari proyeksi awal pada 2020, menurut Naval News.

Berdasarkan jadwal saat ini, kedua ASEV direncanakan mulai beroperasi resmi pada Maret 2028 dan Maret 2029.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link