Kriminalitas & Keadilan

Taiwan tindak keras praktik perekrutan ilegal talenta teknologi oleh Tiongkok

Beberapa perusahaan Tiongkok menyamarkan operasi ilegal mereka di Taiwan dengan menggunakan perusahaan Taiwan, hoakiau, atau perusahaan modal asing sebagai kedok, terkadang bekerja sama dengan mitra lokal.

Seorang karyawan Topco Scientific sedang menyetel robot pemindah wafer saat pameran Semicon Taiwan di Taipei pada 10 September lalu. [I-Hwa Cheng/AFP]
Seorang karyawan Topco Scientific sedang menyetel robot pemindah wafer saat pameran Semicon Taiwan di Taipei pada 10 September lalu. [I-Hwa Cheng/AFP]

Oleh Joyce Huang |

Taiwan sedang mempertimbangkan tindakan tegas untuk menghalangi perekrutan ilegal talenta teknologi tinggi oleh Tiongkok, yang berpotensi mengancam dominasi Taiwan dalam industri pembuatan chip kelas atas serta keamanan nasionalnya, menurut dua pejabat pemerintah di Taipei.

“Taiwan akan terus menutup celah hukum .... guna lebih menghalangi upaya infiltrasi Tiongkok di sektor teknologi,” kata Carol Lin, penasihat senior Dewan Keamanan Nasional (NSC) Taiwan, kepada Focus melalui telepon pada 8 April.

Pernyataan Lin itu dikeluarkan setelah penggerebekan terbaru oleh MJIB pada akhir Maret. Dalam 10 hari, MJIB merazia 11 perusahaan Tiongkok yang diduga mendirikan perusahaan cangkang di seluruh pulau untuk merekrut insinyur Taiwan tanpa persetujuan Taipei.

Berbagai perusahaan Tiongkok itu menyamarkan operasi ilegalnya di Taiwan dengan menggunakan perusahaan Taiwan, hoakiau, atau perusahaan PMA sebagai kedok, terkadang bekerja sama dengan mitra lokal, demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh biro tersebut pada 30 Maret.

Penyidik dari Biro Investigasi Kementerian Kehakiman Taiwan (MJIB) memeriksa komputer yang disita saat penggerebekan terkoordinasi yang menargetkan kegiatan perekrutan ilegal oleh berbagai perusahaan Tiongkok, yang dilakukan dari tanggal 16 sampai 26 Maret. [Foto: MJIB]
Penyidik dari Biro Investigasi Kementerian Kehakiman Taiwan (MJIB) memeriksa komputer yang disita saat penggerebekan terkoordinasi yang menargetkan kegiatan perekrutan ilegal oleh berbagai perusahaan Tiongkok, yang dilakukan dari tanggal 16 sampai 26 Maret. [Foto: MJIB]

Taiwan memiliki Taiwan Semiconductor Manufacturing Co., produsen chip kontrak terbesar di dunia serta pemasok utama bagi NVIDIA dan Apple.

Dalam razia terkoordinasi yang dilakukan MJIB antara tanggal 16 dan 26 Maret, 185 petugas menggeledah 49 lokasi dan memeriksa 90 tersangka, demikian menurut MJIB.

Para eksekutif perusahaan cangkang yang berkolusi dengan Tiongkok terancam hukuman penjara hingga tiga tahun.

Meskipun demikian, sanksi yang dijatuhkan masih belum memadai, kata penyelidik MJIB yang tidak mau disebutkan namanya, merujuk pada pengadilan yang menjatuhkan “hukuman ringan tidak lebih dari enam bulan kepada para pelaku kejahatan kerah putih itu.” Beberapa pelaku terhindar dari penjara dengan membayar denda sekitar $6.000 atau rata-rata 1.000 TWD ($32) per hari masa tahanan yang dihindari.

MJIB telah menangani lebih dari 100 kasus serupa sejak akhir 2020, yang mengindikasikan adanya perekrutan yang terus berlanjut oleh pihak Tiongkok.

Penargetan talenta semakin meluas

Penggerebekan pada bulan Maret itu menemukan bahwa “hampir 100 insinyur Taiwan, yang sebagian besar memiliki keahlian dalam desain IC dan semikonduktor [canggih],” telah direkrut oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok ini, demikian dikatakan seorang penyidik biro yang meminta namanya dirahasiakan karena sensitivitas kasus ini kepada Focus.

Beijing berupaya merekrut tenaga kerja di berbagai bidang teknologi tinggi yang terkait dengan ekosistem semikonduktor Taiwan, kata MJIB.

Di antara sejumlah perusahaan yang sedang diselidiki terdapat beberapa perusahaan Tiongkok yang terdaftar di bursa saham, terutama Anker Innovations yang berbasis di Shenzhen, merek pengisi daya ponsel terbesar kedua di dunia.

Perusahaan lain yang disebutkan adalah Huaqin Technology, perusahaan pembuat desain asli (ODM) ponsel pintar yang terdaftar di Bursa Efek Shanghai dan memiliki pangsa pasar terbesar di dunia. Perusahaan ini, yang sebelumnya pernah diselidiki oleh pihak berwenang Taiwan pada 2021, kini menghadapi tuduhan baru terkait penggunaan perusahaan cangkang untuk merekrut talenta Taiwan.

"Pembelotan membawa senjata"

MJIB sangat prihatin soal "pembelotan membawa senjata [pengetahuan sensitif]" ini, kata penyelidik MJIB, merujuk pada insinyur Taiwan yang membawa keahlian dan pengalaman mereka ke Tiongkok.

Menurut penyelidik, Beijing sering kali meminta karyawan baru asal Taiwan membocorkan rahasia dagang atau pengetahuan teknis sensitif kepada perusahaan tempat mereka bekerja di Tiongkok.

“Bahkan tanpa adanya kebocoran informasi secara langsung, beberapa insinyur menghemat waktu dan biaya bagi para pesaing asal Tiongkok dengan mengungkap kendala produksi yang pernah dialami oleh mantan perusahaannya di Taiwan,” tambah karyawan MJIB tersebut.

Tiongkok berusaha mengatasi pembatasan AS terkait chip dan kecerdasan buatan dengan memanfaatkan teknologi canggih dan sumber daya manusia Taiwan.

Namun, Taiwan memiliki UU untuk mencegah bocornya teknologi tercanggihnya ke Tiongkok. Pulau yang diklaim Tiongkok sebagai wilayahnya itu sering membongkar jaringan perusahaan Tiongkok yang berusaha merekrut tenaga ahli di bidang semikonduktor dan teknologi tinggi.

Daftar teknologi penting yang lebih lengkap

Untuk menangkis serangan ekonomi Tiongkok, Taiwan terus memperluas daftar teknologi “inti dan kritis” yang dilindungi. Di antaranya adalah semikonduktor dan kecerdasan buatan.

Daftar tersebut sebelumnya berisi 22 item. Pada 2024, Taiwan memperluasnya menjadi 32 item. Saat ini, Taiwan sedang mempertimbangkan daftar yang berisi 42 item.

Para insinyur Taiwan yang bekerja dari jarak jauh untuk berbagai perusahaan Tiongkok yang menjadi sasaran penyelidikan MJIB tidak akan dipidanakan.

Pelanggaran dapat dikenai hukuman penjara hingga 12 tahun atau denda hingga 100 juta TWD ($3,1 juta).

Permintaan hukuman yang lebih berat

Namun, Lin dari NSC mengatakan bahwa mereka dapat dituntut ganti rugi perdata jika mantan perusahaan mereka di Taiwan mendapati mereka membocorkan rahasia dagang kepada pesaing asal Tiongkok atau melanggar kewajiban larangan bersaing.

Dalam laporan yang disampaikan kepada Yuan Legislatif pada 6 April, Direktur Biro Keamanan Nasional Tsai Ming-yen menyatakan bahwa upaya perekrutan ini merupakan bagian dari strategi “integrasi ekonomi” Beijing dalam Rencana Lima Tahun terbarunya. Melalui perekrutan talenta, transfer teknologi, dan saluran tidak langsung, Tiongkok bertujuan untuk memperoleh teknologi canggih dalam pembuatan chip serta teknologi penting lainnya.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link