Oleh Zarak Khan |
Komando Pusat (CENTCOM) AS mengatakan bahwa Amerika Serikat menggunakan Rudal Serangan Presisi (PrSM) dalam pertempuran untuk pertama kalinya, menyerang sasaran Iran selama operasi militer di Teluk Persia.
Unit Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) yang ditempatkan di Bahrain meluncurkan rudal itu melintasi Teluk Persia dan mengenai sasaran jauh di dalam wilayah Iran, menurut para pejabat AS.
CENTCOM mengumumkan pada 4 Maret bahwa PrSM jarak jauh digunakan dalam Operasi Epic Fury, yang dimulai pada 28 Februari, memberikan "kemampuan serangan jarak jauh tanpa tandingan" bagi pasukan AS.
Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM, mengatakan lewat X bahwa dia "sangat bangga" dengan pasukan yang "memanfaatkan inovasi untuk menciptakan dilema bagi musuh."
![CENTCOM pada 9 Maret mengeluarkan gambar sistem artileri HIMARS Angkatan Darat AS yang menyerang sasaran di Iran. [CENTCOM/X]](/gc9/images/2026/04/14/55035-photo_2-370_237.webp)
Data mentah yang dikeluarkan Pentagon memperlihatkan besarnya skala kampanye itu.
Militer AS menghantam lebih dari 13.000 sasaran Iran sejak 28 Februari, kata Jenderal (AD) AS Dan Caine, Kepala Staf Gabungan AS, pada awal April. Dia mengatakan bahwa serangan itu telah menghancurkan sekitar 80% sistem pertahanan udara Iran dan menenggelamkan 150 kapal Iran.
Lompatan teknologi besar
Rudal PrSM dirancang untuk menggantikan Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS) yang sudah tua, yang pertama kali digunakan dalam Operasi Badai Gurun tahun 1991.
Menurut laporan media War Zone, desain rudal yang ramping memungkinkan peluncur HIMARS membawa dua rudal alih-alih satu, menggandakan daya tembak konfigurasi ATACMS lama.
Fitur utama rudal PrSM adalah jangkauan lebih jauh. Rudal HIMARS 227 mm standar memiliki jangkauan maksimum sekitar 150 km, sehingga tidak efektif untuk serangan lintas Teluk dari Bahrain, tetapi jangkauan PrSM sejauh 500 km membuat sasaran di pedalaman Iran masuk ke zona serang "serambi" Angkatan Darat AS.
Menurut Lockheed Martin, yang menyerahkan PrSM perdana ke militer AS pada Desember 2023, rudal itu dirancang untuk "menyerang, menetralisasi, menekan, dan menghancurkan sasaran" menggunakan tembakan presisi jarak jauh.
Mengincar jangkauan 1.000 km
Rudal itu memiliki jangkauan lebih dari 500 km, dan versi mendatang diharapkan memiliki jangkauan sekitar 1.000 km yang dilengkapi sistem pencari yang mampu melacak sasaran maritim bergerak.
Breaking Defense melaporkan bahwa tahapan program PrSM selanjutnya menjajaki muatan dengan daya hancur yang lebih besar di samping kemampuan serangan maritim.
Pada Desember 2024, Angkatan Darat AS merampungkan Uji Pengguna Terbatas perdana rudal itu di New Mexico oleh prajurit.
Pengembangan senjata itu dipercepat setelah Amerika Serikat menarik diri dari Traktat Kekuatan Nuklir Jarak Jauh (INF) pada 2019, yang melarang rudal berbasis darat dengan jangkauan 500 km sampai 5.500 km.
"Setelah kita keluar dari Traktat INF, jangkauannya bisa lebih dari 500 km dan kita akan memproduksinya secara massal," kata Tom Karako, direktur Proyek Pertahanan Rudal di Center for Strategic and International Studies, dalam webinar baru-baru ini.
"Semua pihak, teman-teman kita, yang memiliki peluncur HIMARS pasti ingin menggunakan PrSM agar jangkauannya lebih jauh daripada ATACMS sebelumnya," tambahnya.
Menurut War Zone, rudal balistik mungkin unggul untuk sasaran angkatan laut karena kecepatan terminalnya yang tinggi mengurangi waktu reaksi pertahanan kapal.
Adopsi sekutu
Rudal itu menarik minat sekutu AS yang ingin meningkatkan kemampuan serangan jarak jauh.
Australia ikut serta dalam program PrSM sebagai bagian dari upaya memperkuat daya tangkal jarak jauh dan interoperabilitas dengan pasukan AS.
"Kombinasi HIMARS dan PrSM membentuk sistem yang terbukti, terukur, dan dapat dikerahkan dengan cepat yang memberikan pilihan serangan dan daya tangkal jarak jauh yang tidak tertandingi bagi Australia," kata Lockheed Martin dalam pernyataan bulan Oktober lalu.
Garis depan Indo-Pasifik
Meskipun PrSM melakukan debut operasionalnya di Timur Tengah, analis mengatakan tujuan strategis utamanya adalah Indo-Pasifik, khususnya melawan strategi "A2/AD" (Anti-Akses/Penolakan Wilayah) Tiongkok.
Rudal jarak jauh yang diluncurkan dari darat seperti PrSM merupakan bagian dari strategi AS yang lebih luas untuk menempatkan kemampuan serangan yang tersebar di seluruh untaian pulau di Indo-Pasifik untuk melawan angkatan laut Tiongkok, demikian tulis Naval News.
Unit HIMARS yang dilengkapi rudal semacam itu dapat ditempatkan di dekat titik-titik sempit maritim pokok di sepanjang "untaian pulau pertama" untuk melakukan misi anti-kapal melawan pasukan angkatan laut musuh.
Untaian itu meliputi Jepang, Taiwan, dan Filipina.
Jangkauan rudal yang lebih jauh sering dibahas "dalam konteks potensi konflik tingkat tinggi dengan Tiongkok di Pasifik, dengan titik peluncuran, setidaknya di darat, yang jauh lebih terbatas," dilaporkan War Zone pada 1 Maret.
![Rudal PrSM dalam gambar tanpa tanggal yang dikeluarkan oleh kontraktor pertahanan Lockheed Martin. [Lockheed Martin]](/gc9/images/2026/04/14/55034-1-370_237.webp)