Oleh Liz Lagniton |
Kapal perang baru, helikopter anti-kapal selam, dan sistem rudal canggih secara signifikan meningkatkan kemampuan pengawasan dan serangan angkatan laut Filipina, memungkinkan penugasan yang lebih lama dan berkelanjutan di Laut Filipina Barat.
Berbicara di acara peringatan 128 tahun angkatan laut di Manila pada 20 Mei, petinggi militer menyebut upaya modernisasi yang berlangsung telah mengubah jangkauan operasi AL. Kapal baru dapat berada di laut jauh lebih lama dibandingkan kapal lama, yang mengubah secara fundamental postur pertahanan maritim negara itu.
Laksda Joe Anthony Orbe, komandan Armada Filipina, mengatakan bahwa AL Filipina saat ini memiliki kemampuan yang setara dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.
"Saya rasa begitu. Kita setara dengan negara-negara tetangga kita di Asia Tenggara," kata Orbe saat taklimat di Camp Aguinaldo di Manila ketika ditanya apakah Filipina dapat dianggap sebagai kekuatan menengah di Asia Tenggara.
![Helikopter AW159 AL Filipina melakukan patroli udara, sementara HMAS Sydney milik Australia berlayar saat Kegiatan Kerja Sama Maritim Multilateral di Laut Filipina Barat pada 29 April 2025. [Angkatan Bersenjata Filipina]](/gc9/images/2026/05/28/56324-img_2747-370_237.webp)
Manila meningkatkan daya tangkal maritim dan kerja sama pertahanan dengan sekutu di tengah ketegangan yang berlanjut di Laut Tiongkok Selatan, yang sebagiannya disebut Filipina sebagai Laut Filipina Barat.
Jangkauan lebih jauh
Salah satu perubahan paling signifikan dari upaya modernisasi adalah daya tahan operasi laut yang diperpanjang, kata Orbe.
Dia mengatakan bahwa kapal lama biasanya membutuhkan pengisian bahan bakar atau pasokan ulang setiap satu hingga dua minggu, sementara kapal baru dapat beroperasi lebih dari 20 hari dan, dalam beberapa kasus, lebih dari sebulan.
"Dengan kata lain, kami bisa melaut lebih lama di wilayah maritim kami dibandingkan sebelumnya," kata Orbe.
Armada Filipina mengoperasikan lebih dari 80 kapal, termasuk fregat, korvet, kapal patroli lepas pantai, dan perahu bersenjata.
Di antara aset garis depan negara itu adalah dua fregat berpeluru kendali kelas Jose Rizal dan dua korvet kelas Miguel Malvar yang diperoleh melalui program modernisasi Angkatan Bersenjata Filipina (ABF).
Di bawah program akuisisi senilai kira-kira 30 miliar peso Filipina (500 juta dolar AS) dengan HD Hyundai Heavy Industries Korea Selatan, angkatan laut akan menerima empat kapal patroli lepas pantai lagi pada 2028. Hyundai sudah menyerahkan dua kapal, termasuk BRP Rajah Lakandula, yang tiba pada awal Mei dan diresmikan pada 27 Mei.
Orbe menggambarkan kedatangan kapal patroli itu sebagai "dorongan besar" yang memungkinkan angkatan laut mengerahkan lebih banyak kapal secara bersamaan di perairan Filipina.
Pada 2025, program modernisasi memperkuat kemampuan tempur permukaan angkatan laut dengan pengiriman dua korvet baru.
Pengembangan dron dan anti-kapal selam
Angkatan laut juga sibuk mengembangkan kemampuan anti-kapal selam dan sistem nirawak.
Helikopter anti-kapal selam AW159 Wildcat kini telah beroperasi dan dikerahkan bersama kapal permukaan saat latihan dan misi, kata Kolonel (AL) Ariel Joseph Coloma, komandan Naval Air Warfare Force.
"Helikopter AW159 Wildcat memiliki kemampuan ASW [perang anti-kapal selam], sehingga dapat mendeteksi, mengidentifikasi, dan menyerang sasarandi bawah permukaan," kata Coloma.
Leonardo, pabrikan asal Italia, akan menyerahkan enam helikopter tambahan ke AL Filipina dalam empat hingga lima tahun ke depan untuk meningkatkan kemampuan perang anti-kapal selam.
Angkatan laut telah membentuk unit dron khusus yang kini mendukung misi pengawasan dan operasional di area strategis, kata Coloma.
"Kemampuan dron kami dimulai dengan bantuan negara sekutu," katanya, menambahkan bahwa AL telah membentuk unit dan skuadron dron khusus untuk mendukung operasi pesawat nirawak.
Naval Special Warfare Force, menurut Kolonel (AL) Tirso Binasoy, kepala Pusat Pelatihan Naval Special Warfare, sedang mengembangkan kemampuan dron dan perang asimetris.
Pertahanan pantai
Korps Marinir Filipina secara terpisah menyoroti kemajuan pertahanan pantai dan kemampuan rudal di bawah program modernisasi.
Menurut laporan Inquirer, Kolonel Joel Lazo, komandan Resimen Coastal Defense Korps Marinir, mengatakan latihan Balikatan baru-baru ini dengan pasukan AS menegaskan efektivitas operasi serangan laut dan pertahanan pantai.
Penempatan sistem rudal BrahMos yang diperoleh melalui Horizon 2 dari program modernisasi ABF masih berlangsung, dan akan ada tambahan melalui Horizon 3, katanya.
Departemen Pertahanan Nasional sebelumnya menyatakan bahwa sistem BrahMos dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan pertahanan pantai dan daya tangkal maritim Filipina.
Hubungan pertahanan dengan Amerika Serikat, Jepang, dan Australia dibangun melalui latihan gabungan, patroli laut, dan kerja sama pertahanan demi meningkatkan interoperabilitas dan daya tangkal regional.
Dalam pernyataan pada 20 Mei, Dephannas mengatakan akan terus mendukung pengembangan kemampuan angkatan laut seiring upaya Manila membangun "kekuatan pertahanan yang cakap, andal, dan tangguh."
![Kapal patroli lepas pantai BRP Rajah Sulayman tiba di lepas pantai Provinsi Zambales, Filipina, pada 17 Januari setelah berlayar dari galangan kapal di Korsel. Kedatangannya menandai tonggak penting dalam program modernisasi AL Filipina. Ini kapal pertama dari enam kapal patroli lepas pantai yang akan mendukung misi anti-kapal selam Filipina. [AL Filipina]](/gc9/images/2026/05/28/56326-img_3041-370_237.webp)